Pembelajaran berbasis CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) Terbaru 2020

A. Pengertian CBSA 
Siswa belajar secara aktif ketika mereka terlibat secara terus-menerus, baik mental maupun fisik. Kegiatan fisik yang dapat diamati diantaranya dalam bentuk kegiatan membaca, mendengarkan, menulis, meragakan, dan mengukur. Sedangkan contoh kegiatan psikis seperti mengingat kembali isi pelajaran pertemuan sebelumnya, menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, menyimpulkan hasil eksperimen, membandingkan satu konsep dengan konsep yang lain, serta kegiatan mental lainnya. Dan yang terpenting adalah adanya keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam kegiatan pembelajaran. 

sumber https://www.ef.co.id/
Pembelajaran aktif itu perlu semangat hidup, giat, berkesinambungan, kuat, dan efektif. Selain itu, pembelajaran aktif melibatkan pembelajaran yang terjadi ketika siswa bersemangat, siap secara mental, dan bisa memahami pengalaman yang dialami. 
Dari penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan CBSA adalah anutan pembelajaran yang mengarah kepada pengoptimalisasian pelibatan intelektual-emosional siswa dalam pembelajaran, dengan melibatkan fisik siswa apabila diperlukan. Pelibatan intelektual-emosional dan fisik siswa serta optimalisasi dalam pembelajaran, diarahkan untuk membelajarkan siswa bagaimana belajar memperoleh dan memproses perolehan belajarnya tentang pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai. 

B. Karakteristik, Inti dan Kerangka CBSA 

Pembelajaran yang mengajak siswa untuk aktif, akan tampak ketika sebuah pembelajaran benar-benar menunjukan orientasinya pada peserta didiknya. Akan berlaku sebaliknya apabila arah pembelajaran tersebut berorientasi kepada guru. 
Raka Joni (1992: 19-20) (dalam buku Belajar & Pembelajaran karya Dimyati & Mudjiono) mengungkapkan bahwa pembelajaran yang ber-CBSA dengan baik mempunyai karakteristik sebagai berikut: 
1. Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada siswa 
Menunjukan bahwa siswa berperan aktif dalam mengembangkan cara-cara balajar mandiri, siswa berperan serta pada perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses belajar, pengalaman siswa lebih diutamakan dalam memutuskan titik tolak kegiatan. 
2. Guru adalah pembimbing dalam terjadinya pengalaman belajar 
Guru bukan satu-satunya sumber informasi, guru merupakan salah satu sumber belajar, yang memberikan peluang bagi siswa agar dapat memperoleh pengetahuan/ keterampilan melalui usaha sendiri, dapat mengembangkan motivasi dari dalam dirinya, dan dapat mengembangkan untuk membuat suatu karya. 
3. Tujuan pembelajaran tidak hanya untuk sekedar mengejar standart akademis 
Selain pencapaian standar akademis, kegiatan ditekankan untuk mengembangkan kemampuan siswa secara utuh dan setimbang. 
4. Pengelolaan kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada kreativitas siswa dan memperhatikan kemajuan siswa untuk menguasai konsep-konsep dengan mantap. 
5. Penilaian dilaksanakan untuk mengamati dan mengukur kegiatan dan kemajuan siswa, serta megukur berbagai keterampilan yang dikembangkan, misalnya keterampilan berbahasa, keterampilan sosial, keterampilan matematika, dan keterampilan proses dalam IPA dan keterampilan lainnya, serta mengukur hasil belajar siswa. 
Sementara itu, Mc Kearchie mengemukakan 6 dimensi proses pembelajaran yang menunjukan kadar CBSA. Adapun dimensinya meliputi: 

  1. Partisipasi siswa dalam menetapkan tujuan kegiatan pembelajaran 
  2. Tekanan pada aspek afektif dalam belajar 
  3. Partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, terutama yang berbentuk interaksi antar siswa 
  4. Kekohesifan (kekompakan) kelas sebagai kelompok 
  5. Kebebasan/kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk mengambil keputusan-keputusan penting dalam kehidupan sekolah 
  6. Jumlah waktu yang digunakan untuk menanggulangi masalah pribadi siswa, baik yang berhubungan maupun yang tidak berhubungan dengan sekolah/pembelajaran. 
Sedangkan Yamamoto meninjau bahwa apakah suatu proses menunjukan CBSA, dapat dilihat dari segi kesadaran siswa dan guru yang terlibat di dalamnya. Ia menambahkan bahwa proses pembelajaran akan optimal terjadi apabila siswa yang belajar ataupun guru yang membelajarkan memiliki kesadaran dan kesengajaan terlibat dalam proses pembelajaran sehingga akan memunculkan berbagai interaksi pembelajaran. 
Lingkungan fisik dalam ruang kelas juga dapat menjadikan belajar aktif. Dekorasi interior dari belajar aktif adalah menyenangkan dan menantang. Dalam beberapa hal, mebelair dapat diatur untuk membentuk susunan yang berbeda-beda. Lingkungan belajar aktif adalah tempat dimana kebutuhan, harapan dan perhatian peserta didik mempengaruhi rencana pembelajaran pengajar. 
Diskusi kelas berperan sangat penting dalam belajar aktif. Dengan mendengarkan keluasan pandangan menantang peran peserta. Pengajar selama diskusi kelompok berperan memfasilitasi jalannya komentar dari kelompok. Sekalipun itu tidak perlu untuk menyela setelah setiap siswa berbicara, secara periodik membantu kelompok agar kontribusi mereka dapat bermanfaat. 
Aktivitas pengalaman betul-betul membantu membuat belajar aktif. Aktivitas semacam itu secara khusus melibatkan bermain peran, games, simulasi, dan tugas problem solving. Seringkali jauh lebih baik bagi peserta didik untuk mengalami sesuatu dari pada sekedar mendengarkan dan membicarakannya. 
Dengan menggunakan teknik-teknik belajar aktif cenderung mengurangi problem manajemen kelas yang sering kali mengganggu pengajar yang betul- betul merasa berat pada ceramah dan diskusi kelompok besar. Pada intinya metode atau teknik apapun yang nantinya digunakan oleh guru, belajar aktif memerlukan waktu. Oleh karena itu, penting bahwa tidak ada waktu yang terbuang. 
C. Keunggulan Penggunaan CBSA dalam Pembelajaran 
Dengan semakin berkembangnya zaman, maka menghendaki sebuah pendidikan seumur hidup. Yang kemudian memunculkan pertanyaan tentang bagaimana cara agar siswa mampu memperoleh dan meresapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap menjadi kebutuhannya. Bertolak dari pemikiran tersebut maka perlulah sebuah pembelajaran aktif yang harus segera terpenuhi. 
Dengan penerapan CBSA, siswa akan mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya secara penuh, menyadari dan dapat menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat di sekitarnya. Selain itu, siswa akan lebih terlatih untuk berprakarsa, berpikir secara teratur, kritis, dan dapat menyelesaikan masalah sehari-hari, serta lebih terampil dalam menggali, menjelajah, mencari, dan mengembangkan informasi yang bermakna baginya. 
Di sisi lain, dengan penerapan CBSA, guru dapat bekerja professional, mengajar secara sistematis, dan berdasarkan prinsip didaktik metodik yang berdaya guna dan berhasil guna (efektif dan efisien). Artinya, guru dapat merekayasa sistem pembelajaran yang mereka laksanakan secara sistematis. Sehingga, lambat laun penerapan CBSA pada gilirannya akan mencetak guru-guru yang potensial dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan alam dan sosial budaya. 
D. Rambu-Rambu Penyelenggaraan CBSA 
Hakikat CBSA adalah keterlibatan intelektual-emosional siswa secara optimal dalam proses pembelajaran dan setiap proses dapat menemukan kadar CBSA dari suatu proses pembelajaran, maka perlu mengenal terlebih dahulu rambu-rambu penyelenggara CBSA. Yang dimaksud dengan rambu-rambu CBSA adalah gejala-gejala yang tampak pada perilaku siswa dan guru baik dalam program maupun dalam proses pembelajaran. Rambu-rambu yang dimaksud adalah : 

  1. Kuantitas dan kualitas pengalaman yang membelajarkan 
  2. Prakarsa dan keberanian siswa dalam mewujudkan minat, keinginan, dan dorongan-dorongan yang ada pada dirinya 
  3. Keberanian dan keinginan siswa untuk ikut serta dalam proses pembelajaran 
  4. Usaha dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran 
  5. Keingintahuan yang ada pada diri siswa 
  6. Rasa lapang dan bebas yang ada pada diri siswa 
  7. Kuantitas dan kualitas usaha yang dilakukan guru dalam membina dan mendorong keaktifan siswa 
  8. Kualitas guru sebagai inovator dan fasilitator 

E. Penerapan dan Langkah-Langkah Pelaksanaan CBSA 
Dalam sebuah pembelajaran, agar seorang guru mampu menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang memiliki kadar CBSA yang tinggi, maka dalam memilih pembelajaran dan menentukan teknik pembelajaran atau sistem penyampaian, hendaknya benar-benar mempertimbangkan kemanfaatan dari teknik pembelajaran yang dipilihnya. Teknik pembelajaran yang dapat diartikan sebagai prosedur rutin atau suatu cara yang telah ditentukan sebelumnya untuk menyampaikan pesan dengan bahan, alat, latar, dan orang (AECT, 1986: 196) (dalam buku Belajar & Pembelajaran karya Dimyati & Mudjiono), pada akhirnya membentuk sistem instruksional. Oleh karena pentingnya teknik pembelajaran ini, maka pemanfaatan teknik belajar hendaknya bersesuiaian dengan karakteristik , baik karakteristik guru, karakteristik tujuan, karakteristik mata pelajaran/ bidang studi, dan karakteristik bahan dan alat pembelajaran. 
Pemilihan teknik pembelajaran yang sesuai dengan faktor-faktor penentu kegiatan pembelajaran, akan membantu guru mengetahui kemanfaatannya dalam meningkatkan kadar CBSA. Pengetahuan guru tentang kemanfaatan ketepatan pemilihan teknik pembelajaran akan mengarahkan guru kepada kesadaran perlunya menyempurnakan dirinya sendiri, sehingga mampu menjadi katalisator yang semakin meningkat kemampuannya. 
Dengan meningkatnya kemampuan guru sebagai katalisator dalam kegiatan pembelajaran, meningkat pulalah kadar CBSA dalam pembelajaran yang diselenggarakannya. Kadar CBSA dalam suatu proses pembelajaran terlihat sejak guru membuat persiapan pembelajaran, yakni pada jabaran kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru maupun siswa. 
Dalam pelaksanaannya, CBSA merujuk pada langkah-langkah sebagai berikut: 
1. Pemanasan 
Pemanasan dimulai dengan saling menyumbang pikiran/brainstorming tentang gambaran mental yang dimiliki subjek didik tentang topik yang dipelajari. Bila topik ini baru, maka harus ada pengalaman langsung yang dapat menjembataninya. 
Penghayatan pengalaman ini untuk subjek didik pada tingkat rendah SD dapat dilaksanakan secara nyata. Disamping pengalaman ini diperlukan secara esensial sebagai jembatan mengarah kepada titik tolak yang sama dalam melibatkan subjek secara mental, emosional dan fisik sekaligus merupakan usaha melihat lingkup (konteks) permasalahan. 
2. Pengamatan (Observasi) 
Penggunaan indera diperlukan untuk memperoleh informasi sebanyak mungkin. Untuk itu, perlu diketahui bahwa belahan otak sebelah kanan memiliki fungsi imajinasi yang perlu dikembangkan dan belahan otak sebelah kiri terutama memiliki kemungkinan untuk persepsi kognitif dalam perolehan pengetahuan dan memorasinya. Apa yang terjadi di proses belajar mengajar konvensional pada umumnya adalah pemberatan pada berfungsinya otak sebelah kiri. 
Usaha perlu dilakukan untuk mengurangi hal tersebut dengan mengurangi penginderaan kata-kata verbal dan lebih meragakan melalui gambar, action ataupun realitas sebenarnya. Yang harus dicapai adalah pengamatan yang relevan. Dengan begitu, keseimbangan dua belahan otak harus selalu dijaga kondisinya dalam menyerap berbagai pengalaman belajar. 
3. Interpretasi dan Pengamatan 
Mencatat ciri khas dari sebuah objek, perkembangan atau kejadian untuk menghubungi pengamatan yang satu dengan pengamatan yang lain, itu merupakan pola-pola yang harus dideteksi dalam sebuah rangkaian observasi. Penemuan pola itu adalah basis untuk menemukan maksud hubungan dan menyarankan kesimpulan (mungkin kejadian tertentu hasil dari kejadian lain). 
4. Peramalan 
Pola dan hubungan yang sudah diamati digunakan untuk meramalkan kejadian yang belum diamati. Suatu ramalan adalah suatu terkaan bila tidak didasarkan pada hubungan yang diketahui ada melalui observasi hari ini atau pada masa yang lalu. Subjek didik haru dibantu membedakan ramalan dan terkaan. Harus ada alasan untuk suatu ramalan yang didasarkan pada observasi. Jadi, proses peramalan bertumpu dari penalaran terhadap observasi. 
5. Aplikasi Konsep 
Menggunakan konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru atau menggunakan pengalaman baru sebagaimana timbul dalam usaha penterjemahan apa adanya. 
Setiap penjelasan harus dianggap tentatif yang harus dikonfirmasikan kembali. Kalau pembuktiannya tidak jelas, maka harus dianggap suatu hipotesis. Sering ada beberapa alternatif hipotesis untuk disarankan, yang semuanya dapat diterapkan pembuktiannya. Ini yang harus disadari oleh subjek didik dalam mencocokan kembali kebenaran hipotesis itu. 
6. Perencanaan Penelitian 
Perencanaan penelitian bertolak dari pertanyaan apa yang harus dijawab secara jelas, hipotesis apa yang mau dicoba atau apa yang dicobakan. Kejelasan ini mampu melihatkan empirik atau penyajian nilai adalah bagian dari perencanaan penilaian. Proses ini juga mencakup mengidentifikasi variabel mana yang perlu diubah atau bisa tetap dipertahankan. Juga mencakup perencanaan observasi dan uraian apa yang akan dipakai. Cara pemakaiannya adalah untuk menentukan hasil penilaian. 
7. Komunikasi 
Proses ini dikaitkan erat dengan cara subjek didik belajar mengkomunikasikan kata atau objek dipikirkan perlakuaannya, membutuhkan gambaran ide maupun situasi nyata. Kata- kata itu baru menyertai pelajaran bila ide sudah dihargai. Komunikasi ini tidak hanya verbal tetapi juga melalui grafik, chart dan tabel dalam mengatur informasi atau penyampaian hasil observasi sehingga polanya kelihatan dan kesimpulan bisa ditarik. 

F. Strategi agar Peserta Didik Terlibat Langsung dalam Pembelajaran 
Cara untuk membuat peserta didik aktif sejak awal pembelajaran adalah dengan menggunakan strategi-strategi yang tepat. Strategi tersebut hendaknya membuat para peserta terlibat dalam materi dengan segera guna membangun minat, membangkitkan keingintahuan dan menstimulasi pikiran. Pada saat awal pengajaran aktif, ada tiga tujuan penting yang harus dicapai. Arti penting tujuan tersebut hendaknya tidak diabaikan, walaupun pelajaran hanya berakhir satu sesi. Tujuan- tujuan tersebut antara lain: 
1. Membangun Tim (Team Building) : bantulah peserta didik menjadi kenal satu sama lain dan ciptakan semangat kerja sama. 
2. Penegasan: pelajarilah sikap, pengetahuan, pengalaman para peserta didik. 
3. Keterlibatan belajar seketika: bangkitkan minat awal pada mata pelajaran. 
Semua tujuan ini, ketika tercapai akan membantu mengembangkan lingkungan belajar yang melibatkan peserta didik, mengembangkan kemauan mereka untuk berperan serta dalam pengajaran aktif, dan menciptakan norma-norma ruang kelas yang positif. 
Dapat diketahui bahwa peserta didik tidak akan berhasil dalam pembelajaran apabila otak atau “komputer” mereka tidak bekerja. Banyak kesalahan yang dibuat oleh pendidik yaitu dengan mengajar “terlalu dini,” sebelum para peserta didik siap secara mental. Strategi berikut akan memperbaiki kecenderungan tersebut, yaitu dengan: 
1. Berbagi Pengetahuan Secara Aktif 
Strategi ini adalah cara yang bagus untuk melibatkan peserta dengan segera ke dalam materi pelatihan. Cara ini juga dapat digunakan untuk menilai tingkatan pengetahuan peserta didik dan untuk membantu pembentukan kelompok. Cara ini dapat digunakan untuk materi apapun dan kelompok apapun. 
2. Rotasi Pertukaran Trio 
Cara ini merupakan cara mendalam bagi peserta didik untuk mendiskusikan masalah dengan peserta didik lainnya. Pertukaran ini dapat dengan mudah disesuaikan dengan materi pembelajaran. 
3. Menuju Posisi 
Cara ini merupakan cara yang terkenal untuk menggabungkan gerakan fisik pada awal pelatihan. Teknik ini cukup fleksibel digunakan dalam berbagai aktivitas yang dideasain untuk menstimulasi ketertarikan awal terhadap topik pembelajaran. 
4. Membuat Iklim Belajar Menjadi Menyenangkan 
Cara ini adalah dengan menciptakan iklim yang menyenangkan, dan informal dengan mengajak para peserta untuk memahami materi dengan menggunakan humor. Strategi ini dapat mencapai iklim tersebut dan pada saat bersamaan membuat para peserta didik berpikir. 
5. Pertukaran Sudut Pandang 
Kegiatan ini dapat digunakan untuk menstimulasi keterlibatan peserta dengan segera terhadap materi pembelajaran. Kegiatan ini juga mendorong para peserta didik untuk menjadi pendengar yang baik dan mempertimbangkan sudut pandang yang beragam. 
6. Bertanya Benar atau Salah 
Kegiatan kolaboratif ini menstimulasi keterlibatan terhadap materi pembelajara dengan segera. Kegiatan ini juga mendukung team building, berbagi pengetahuan dan pembelajaran langsung. 
7. Hangman 
Hangman merupakan cara interaktif dan menyenangkan untuk memperkenalkan sesi pelatihan yang mencakup banyak informasi. Cara ini akan menghemat waktu yang diperlukan untuk mengisi rincian setelah permainan, serta dapat membangkitkan minat dan diskusi peserta didik. Tingkat persaingan dalam teknik ini akan meningkatkan minat peserta didik dalam mempelajari jawaban. 
8. Ambil Bagian dalam Pelatihan 
Kegiatan ini menyediakan cara bagi peserta didik untuk memikirkan tentang bagaimana menerima tanggung jawab atas pembelajaran yang aktif. 

G. Contoh Cara Pembelajaran Aktif 
1. Mengacu pada Tujuan 
Kalau guru bisa menjelaskan tujuan pembelajaran dengan jelas, maka siswa akan mengerti dan bisa menghubungkan tujuan tersebut dengan hasil yang akan mereka peroleh dari pembelajaran itu. Hal ini adalah langkah pertama yang sangat penting saat memulai pelajaran. Siswa perlu merasa bahwa mereka adalah bagian dari proses pembelajaran. Untuk memfasilitasi hal ini, setiap rencana pembelajaran menyertakan satu sesi yang disebut Tujuan Pembelajaran Terukur, yang merangkum tujuan-tujuan pembelajaran, yang kemudian dijelaskan pada siswa, dan satu sesi di akhir pelajaran yang disebut refleksi pemikiran mendalam, yang menyertakan saran untuk membantu siswa merefleksikan kembali pengalaman yang mereka peroleh untuk mengukur ketercapaian tujuan dan mengetahui apakah mereka mengalami flow selama pembelajaran berlangsung. 
2. Melibatkan Siswa 
Secara intuisi, sebenarnya guru telah mengetahui bahwa untuk membuat pembelajaran lebih bermakna, siswa harus menggunakan lebih banyak energi mental dan emosional. Maka kegiatan-kegiatan yang sudah direncanakan secara matang diharapkan dapat membantu siswa tetap siaga terpikat secara mental untuk terlibat dalam pembelajaran. 
3. Menggunakan Seni, Gerakan, dan Indera 
Strategi pelajaran dirancang untuk mengaktifkan kelima panca indera untuk bisa melibatkan siswa secara penuh. Seni adalah cara yang ideal untuk mengaktifkan beragam indera, mendorong rasa kebersamaan siswa, menyediakan sarana ganda untuk menemukan dan mengekspresikan makna, membangun rasa percaya diri dan antusiasme belajar, dan menguatkan kemampuan dasar kecerdasan: kognitif, emosional, perhatian atau attentional, dan motorik (Sylwestern 2004; Jensen 2001) (dalam buku Pembelajaran Aktif karangan Pat Hollingsworth & Gina Lewis). Dan sejumlah pelajaran juga menggunakan strategi gerakan fisik untuk melibatkan siswa. 
4. Meragamkan Langkah Kegiatan 
Untuk menjaga agar pikiran selalu siaga, maka perlu meragamkan langkah dan jenis kegiatan. Setiap kegiatan menyediakan ide-ide untuk merubah langkah, dan setiap pelajaran disiapkan untuk bisa diadaptasikan, mudah dalam menambahkan ide untuk meragamkan pembelajaran. Pembelajaran aktif bisa bersifat mental maupun fisik. Merubah model kerja siswa dari kerja kelompok besar menjadi kerja individual atau menjadi kelompok kecil adalah salah satu cara yang mudah dan efektif untuk meragamkan langkah mental. 

H. Konsekuensi Pembelajaran Aktif (Pembelaran Berpusat pada Siswa) 
Peningkatan kadar CBSA dalam sebuah proses pembelajaran berarti pula mengarahkan proses pembelajaran yang berorientasi pada siswa atau dengan kata lain menciptakan pembelajaran berdasarkan siswa (Student Based Instruction). 
Terdapat beberapa konsekuensi yang harus diterima dari adanya pembelajaran aktif (berpusat/ berdasarkan siswa), (Gale, 1975: 204) (dalam buku Belajar & Pembelajaran karya Dimyati & Mudjiono), meliputi: 

  1. Guru menjadi seorang pengelola (manager) dan perancang (designer) dari pengalaman belajar. 
  2. Guru dan siswa menerima peran kerja sama (partnership). 
  3. Bahan-bahan pembelajaran dipilih berdasarkan kelayakannya. 
  4. Penting untuk melakukan identifikasi dan penuntasan syarat-syarat belajar (learning requirements). 
  5. Siswa dilibatkan dalam pembelajaran. 
  6. Tujuan ditulis secara jelas. 
  7. Semua tujuan diukur/ dites. 
Adanya konsekuensi dari penerapan pembelajaran berdasarkan siswa, yang akan dapat meningkatkan kadar CBSA dalam suatu proses pembelajaran. Yang lebih jauh akan menuntut guru: 

  1. Memiliki khasanah pengetahuan yang luas tentang teknik/cara penyampaian atau sistem penyampaian. 
  2. Memiliki kriteria tertentu untuk memilih sistem penyampaian yang tepat untuk memberikan pengalaman belajar kepada siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran.

I. Kebaikan dan Kelemahan CBSA
1. Kebaikan CBSA
Kebaikan-kebaikan CBSA, yang dikemikakan oleh T. Raka Joni adalah :
a. Ditujukan melalui keberanian memberikan urung pendapat tanpa secara eksklusif diminta.
b. Keterlibatan mental di dalam kegiatan-kegiatan belajar yang telah berlangsung yang ditujukan dengan peningkatan diri kepada tugas.
c. Belajar dengan pengalaman langsung indikator dari CBSA.
d. Kekayaan bentuk dan variasi alat kegiatan belajar mengajar.
e. Kualitas interaksi antar siswa.
2. Kelemahan CBSA
Beberapa kelemahan dari CBSA menurut Oemar Hamalik :
a. Tidak menjamin dalam melaksanakan keputusan.
b. Diskusi tak dapat diramalkan.
c. Memasyarakatkan agar siswa memiliki keterampilan berdiskusi yang diperlukan secara aktif.
d. Membentuk pengaturan fisik dan jadwal yang luwes.
e. Dapat menjadi palsu jika pemimpin mengalami kesulitan mempertemukan berbagai pendapat.
f. Dapat didominasi oleh seseorang atau sejumlah siswa sehingga dia menolak pendapat peserta lain.

Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM)

A. Pengertian PAIKEM


PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Model PAIKEM merupakan pembelajaran kontekstual yang melibatkan paling sedikit empat prinsip utama dalam proses pembelajarannya. Pertama, proses interaksi (siswa berinteraksi secara aktif dengan guru, rekan siswa, multimedia, referensi, lingkungan, dan lain-lain). Kedua, proses komunikasi (siswa mengomunikasikan pengalaman belajar mereka dengan guru dan rekan siswa lain melalui cerita, dialog atau melalui simulasi permainan). Ketiga, proses refleksi (siswa memikirkan kembali tentang kebermaknaan apa yang mereka telah pelajari dan apa yang mereka telah lakukan). Keempat, proses eksplorasi (siswa mengalami langsung dengan melibatkan semua indera mereka melalui pengamatan, percobaan, penyelidikan, dan wawancara).

Dalam pelaksanaannya model PAIKEM harus memperhatikan bakat, minat, dan modalitas belajar siswa dan bukan semata potensi akademiknya.

Secara garis besar, PAIKEM dapat dideskripsikan sebagai berikut :

a. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.

b. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.

c. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan pojok baca.

d. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif termasuk cara belajar kelompok.

e. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah untuk mengungkapkan gagasannya dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

1. Pembelajaran Aktif

Pembelajaran aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktivitas siswa dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensinya.

Dalam pembelajaran aktif, guru lebih banyak memposisikan dirinya sebagai fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar (to facilitate of learning) kepada siswa. Dalam kegiatan ini siswa terlibat secara aktif dan berperan dalam proses pembelajaran sedangkan guru lebih banyak memberikan arahan dan bimbingan serta mengatur sirkulasi dan jalannya proses pembelajaran (Rusman, 2010: 322-324).

2. Pembelajaran Inovatif

Maksud inovatif disini adalah dalam kegiatan pembelajaran itu terjadi hal-hal yang baru, bukan saja oleh guru sebagai fasilitator belajar tetapi juga oleh siswa yang sedang belajar. Dalam strategi pembelajaran yang inovatif ini, guru tidak saja tergantung dari materi pembelajaran yang ada pada buku, tetapi dapat mengimplementasikan hal-hal baru yang menurut guru sangat cocok dan relevan dengan masalah yang sedang dipelajari siswa. Demikian pula siswa, melalui aktivitas belajar yang dibangun melalui strategi ini, siswa dapat menemukan caranya sendiri untuk memperdalam hal-hal yang sedang dia pelajari.

Pembelajaran yang inovatif bagi guru dapat digunakan untuk menerapkan temuan- temuan terbaru dalam pembelajaran, terlebih lagi jika temuan itu merupakan temuan guru yang pernah ditemukan dalam penelitian tindakan kelas atau sejumlah pengalaman yang telah ditemukan selama menjadi guru. Melalui pembelajaran yang inovatif ini, siswa tidak akan buta tentang teknologi dan mereka bisa mengikuti perkembangan teknologi yang ada sekarang ini. Dengan demikian pembelajaran diwarnai oleh hal-hal baru sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Uno, 2012: 11).

3. Pembelajaran Kreatif

Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreativitas siswa selama pembelajaran berlangsung dengan menggunakan beberapa metode dan strategi yang bervariasi, misalnya kerja kelompok, bermain peran, dan pemecahan masalah.

Pembelajaran kreatif menuntut guru untuk merangsang kreativitas siswa, baik dalam mengembangkan kecakapan berpikir maupun dalam melakukan suatu tindakan. Berpikir kreatif selalu dimulai dengan berpikir kritis, yakni menemukan dan melahirkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada atau memperbaiki sesuatu. Berpikir kritis harus dikembangkan dalam proses pembelajaran agar siswa terbiasa mengembangkan kreativitasnya. Pada umumnya, berpikir kreatif memiliki empat tahapan yaitu :

a. Tahapan pertama, persiapan yaitu proses pengumpulan informasi untuk diuji.

b. Tahap kedua, inkubasi yaitu suatu rentang waktu untuk merenungkan hipotesis informasi tersebut sampai diperoleh keyakinan bahwa hipotesis tersebut rasional.

c. Tahap ketiga, iluminasi yaitu suatu kondisi untuk menemukan keyakinan bahwa hipotesis tersebut benar, tepat, dan rasional.

d. Tahap keempat, verifikasi yaitu pengujian kembali hipotesis untuk dijadikan sebuah rekomendasi, konsep atau teori.

Siswa dikatakan kreatif apabila mampu melakukan sesuatu yang menghasilkan sebuah kegiatan baru yang diperoleh dari hasil berpikir kreatif dengan mewujudkannya dalam bentuk sebuah hasil karya baru (Mulyasa, 2006: 192).

4. Pembelajaran Efektif

Pembelajaran dapat dikatakan efektif jika mampu memberikan pengalaman baru kepada siswa dan membentuk kompetensi siswa, serta mengantarkan mereka ke tujuan yang ingin dicapai secara optimal. Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan serta mendidik mereka dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Seluruh siswa harus dilibatkan secara penuh agar bergairah dalam pembelajaran, sehingga suasana pembelajaran betul-betul kondusif dan terarah pada tujuan dan pembentukan kompetensi siswa.

Pembelajaran efektif perlu didukung oleh suasana dan lingkungan belajar yang memadai/kondusif. Oleh karena itu guru harus mampu mengelola siswa, mengelola kegiatan pembelajaran, mengelola isi/materi pembelajaran, dan mengelola sumber- sumber belajar. Menciptakan kelas yang efektif dengan peningkatan efektivitas proses pembelajaran tidak bisa dilakukan secara parsial melainkan harus menyeluruh mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Proses pelaksanaan pembelajaran efektif dilakukan melalui prosedur sebagai berikut

1. Melakukan appersepsi

2. Melakukan eksplorasi yaitu memperkenalkan materi pokok dan kompetensi dasar yang akan dicapai serta menggunakan variasi metode

3. Melakukan konsolidasi pembelajaran yaitu mengaktifkan siswa dalam pembentukan kompetensi siswa dan mengaitkannya dengan kehidupan siswa

4. Melakukan penilaian yaitu mengumpulkan fakta-fakta dan data/dokumen belajar siswa yang valid untuk melakukan perbaikan program pembelajaran Untuk melakukan pembelajaran yang efektif , guru harus memerhatikan beberapa hal yaitu pengelolaan tempat belajar, pengelolaan siswa, pengelolaan kegiatan pembelajaran, pengelolaan konten/materi pelajaran, pengelolaan media, dan sumber belajar (Rusman, 2010: 325-326).

5. Pembelajaran Menyenangkan

Pembelajaran menyenangkan (joyfull instruction) merupakan suatu proses pembelajaran yang didalamnya terdapat suatu kohesi yang kuat antara guru dan siswa, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan (not under pressure) (Mulyasa, 2006:194). Dengan kata lain, pembelajaran menyenangkan adalah adanya pola hubungan yang baik antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran. Guru memosisikan diri sebagai mitra belajar siswa, bahkan dalam hal tertentu tidak menutup kemungkinan guru belajar dari siswanya. Dalam hal ini perlu diciptakan suasana yang demokratis dan tidak ada beban, baik guru maupun siswa dalam melakukan proses pembelajaran.

Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan, guru harus mampu merancang pembelajaran dengan baik, memilih materi yang tepat, serta memilih dan mengembangkan strategi yang dapat melibatkan siswa secara optimal.

Ada empat aspek yang memengaruhi model PAIKEM yaitu pengalaman, komunikasi, interaksi, dan refleksi.

a. Pengalaman

Dalam aspek ini siswa diajarkan dapat belajar mandiri. Didalamnya terdapat banyak cara untuk penerapannya antara lain seperti eksperimen, pengamatan, penyelidikan, dan wawancara. Dalam aspek pengalaman ini siswa belajar banyak melalui berbuat dan dengan melalui pengalaman langsung.

b. Komunikasi

Aspek komunikasi ini dapat dilakukan dengan beberapa bentuk, misalnya mengemukakan pendapat, presentasi laporan, dan memajangkan hasil kerja. Dalam kegiatan ini, siswa dapat mengungkapakan gagasan, dapat mengonsolidasi pikirannya, mengeluarkan gagasannya, memancing gagasan orang lain, dan membuat bangunan makna mereka dapat diketahui oleh guru.

c. Interaksi

Aspek interaksi ini dapat dilakukan dengan cara interaksi, tanya jawab, dan saling melempar pertanyaan. Dengan hal-hal seperti itulah kesalahan makna yang dibuat oleh siswa berpeluang untuk terkorelasi dan makna yang terbangun semakin mantap sehingga dapat menyebabkan hasil belajar meningkat.

d. Refleksi

Yang dilakukan dalam aspek ini adalah memikirkan kembali apa yang telah diperbuat/dipikirkan oleh siswa selama mereka belajar. Hal ini dilakukan supaya terdapatnya perbaikan gagasan/makna yang telah dikeluarkan oleh siswa dan agar mereka tidak mengulangi kesalahan. Disini siswa diharapkan juga dapat menciptakan gagasan-gagasan baru (Rusman, 2010: 325-329).

B. Tujuan PAIKEM

Pembelajaran berbasis PAIKEM membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir tahap tinggi, berpikir kritis, dan berpikir kreatif (critical and creative thinking). Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah, menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi, dan pencarian ilmiah.

Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian (orginality), ketajaman pemahaman (insigt) dalam mengembangkan sesuatu (generating).

Kemampuan memecahkan masalah merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dalam pembelajaran pemecahan masalah, siswa secara individual atau kelompok diberi tugas untuk memecahkan suatu masalah. Jika memungkinkan masalah diidentifikasi dan dipilih oleh siswa sendiri, yang diidentifikasi hendaknya yang penting dan mendesak untuk diselesaikan serta sering dilihat atau diamati oleh siswa sendiri, umpamanya masalah kemiskinan, kejahatan, kemacetan lalu lintas, pembusukan makanan, wabah penyakit, kegagalan panen, pemalsuan produk, atau soal-soal dalam setiap mata pelajaran yang membutuhkan analisis dan pemahaman tingkat tinggi.

C. Jenis-Jenis PAIKEM

Pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik PAIKEM antara lain adalah pembelajaran kotekstual (CTL), Pembelajaran Terpadu (Tematik, IPA Terpadu, IPS Terpadu), Pembelajaran berbasis TIK (ICT), Pembelajaran Pengayaan dengan menggunakan berbagai strategi antara lain dengan Lesson Study, Pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna misalnya penerapan model-model pembelajaran.


D. Ciri-Ciri PAIKEM

Secara garis besar, ciri-ciri PAIKEM menurut pelatihan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah sebagai berikut

a. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat (learning to do).

b. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.

c. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan pojok baca.

d. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif termasuk cara belajar kelompok.

e. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah untuk mengungkapkan gagasannya dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.


E. Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Melaksanakan PAIKEM

a. Memahami sifat yang dimiliki anak

b. Mengenal anak secara perorangan

c. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar

d. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah

e. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik

f. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar

g. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar

h. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental

F. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran PAIKEM

1. Kelebihan PAIKEM

a. Mengalami

Peserta didik terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun emosional.

b. Komunikasi

Kegiatan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya komunikasi antara guru dan peserta didik.

c. Interaksi

Kegiatan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya interaksi multi arah.

d. Refleksi

Kegiatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik memikirkan kembali apa yang telah dilakukannya.

2. Kelemahan PAIKEM

a. Membutuhkan dana, dalam pembelajaran yang PAIKEM sering memakai media sehingga membutuhkan biaya yang lebih untuk menunjang proses pembelajaran

b. Pengembangan RPP, dalam pembelajaran PAIKEM guru dituntut untuk kerja ekstra dalam pengembangan pembuatan RPP agar dapat menciptakan pembelajaran yang diinginkan

c. Manajemen kelas, dalam pembelajaran ini guru harus selalu dapat menciptakan suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan

d. Kurangnya kreatifitas guru, dalam pembelajaran PAIKEM guru cenderung malas untuk melakukan pembelajaran yang inovatif

Pengertian Fisika Secara Umum dan Menurut Para Ahli

Fisika berasal dari kata bahasa Yunani yang berarti “alam”. Fisika merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari sifat dan gejala pada benda-benda di alam. Gejala-gejala ini pada mulanya ialah apa yang dialami oleh panca indera kita, contohnya penglihatan melihat optika atau cahaya, pendengaran mendengar pelajaran tentang bunyi, dan indera peraba yang kegunaannya dapat merasakan panas.

Fisika

Pengertian Fisika Secara Umum

Fisika ialah salah satu ilmu pengetahuan alam dasar yang banyak digunakan sebagai dasar bagi ilmu-ilmu yang lain. Fisika merupakan ilmu yang mempelajari gejala alam secara keseluruhan. Fisika mempelajari materi, energi, dan fenomena atau kejadian alam, baik yang bersifat makroskopis (berukuran besar, seperti gerak Bumi mengelilingi Matahari) maupun yang bersifat mikroskopis (berukuran kecil, seperti gerak elektron mengelilingi inti) yang berkaitan dengan perubahan zat atau energi.

Bidang fisika secara umum terbagi atas 2 kelompok, yaitu 1. fisika klasik dan 2. fisika modern. Fisika klasik bersumber pada gejala-gejala yang ditangkap oleh indera. Fisika klasik meliputi mekanika, listrik magnet, panas, bunyi, optika, dan gelombang yang menjadi perbatasan antara fisika klasik dan fisika modern. Fisika modern berkembang mulai abad ke-20, sejak penemuan teori relativitas Einstein dan radioaktivitas oleh keluarga Curie.

Pengertian Fisika Menurut Para Ahli

1. Bambang Ruwanto
Menurut Bambang Ruwanto Fisika adalah bagian dari ilmu dasar atau sains dan ialah salah satu ilmu yang fundamental.

2. Gerthsen (1958)
Menurut Gerthsen, fisika merupakan sebagai suatu teori yang menerangkan gejala-gejala alam sesederhana mungkin dan berusaha menemukan hubungan antara kenyataan-kenyataannya. Permasalahan dasar untuk memecahkan persoalannya ialah mengamati gejala-gejala tersebut.

3. Young, Hough D
Menurut Young, Hough D, fisika merupakan salah satu ilmu yang sangat dasar dari berbagai ilmu pengetahuan.

4.Dahmen (1977)
Menurut Dahman, fisika merupakan sebagai suatu uraian tertutup tentang semua kejadian fisis yang didasarkan pada beberapa hukum dasar.

5. Mikrajudin
Menurut Mikrajudin, fisika merupakan cabang paling utama dalam sains karena berbagai prinsipnya menjadi dasar bagi setiap cabang sains lainnya.

Silahkan baca: Angka Nol (0) dan Filsafatnya

6. Osa Pauliza
Menurut Osa Pauliza, fisika adalah sesuatu yang bisa diukur dan mempunyai nilai yang dinyatakan dalam bentuk satuan.

7. Ensiklopedia
Menurut Ensiklopedia, fisika adalah ilmu yang di dalamnya mempelajari benda beserta gerakannya juga manfaatnya bagi manusia.

8. Efrizon Umar
Menurut Efrizon Umar, fisika merupakan salah satu ilmu yang didasarkan pada besaran-besaran ilmu fisika.

9. Brockhaus (1972)
Menurut Brockhaus, fisika merupakan sebagai pelajaran tentang kejadian alam yang memungkinkan penelitian, percobaan, pengukuran apa yang didapat, penyajian secara sistematis, dan berdasarkan peraturan-peraturan umum.

10. KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Menurut KBBI, fisika merupakan ilmu tentang zat dan energi seperti panas, bunyi, cahaya, dan lain-lain.

11. Weizacher (1979)
Menurut Weizacher, fisika merupakan sebagai teori peramaian alternatif-alternatif yang secara empiris dengan percobaan dapat dibeda-bedakan.

12. Deruxes (1986:12)
Menurut Deruxes, fisika merupakan sebagai ilmu pengetahuan yang berusaha menguraikan serta menjelaskan hukum alam dan kejadian-kejadian dalam alam dengan gambaran menurut pemikiran manusia.

13. Kusuma (1992 : 24)
Menurut Kusuma fisika, merupakan ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala alam yang terjadi pada suatu materi atau energi yang menempati ruang dan memiliki massa. Fisika merupakan cabang ilmu pengetahuan alam yang mempelajari gejala alam secara keseluruhan.

Kisah dan Sejarah Hidup Alfred Bernard Nobel

Alfred Bernard Nobel (1833−1896)

Penemu dinamit yang dipatenkan tahun 1875 ini benar-benar merupakan teladan manusia dermawan. Bayangkan, bagian terbesar kekayaannya yang bersumber dari perusahaannya yang bertebaran di lima benua, diwariskannya untuk hadiah Nobel. Hadiah ini diberikan kepada orang-orang yang dinilai memiliki sumbangsih besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan perdamaian dunia. Selama manusia menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan, selama manusia ingin menata peradaban yang lebih baik lewat perdamaian, maka dijamin penerima hadiah Nobel akan lahir terus dan nama Nobel akan tetap dikenang sepanjang masa. Sungguh sebuah sifat kedermawanan yang abadi.

Alfred lahir di Stockholm tanggal 21 Oktober 1833 disuatu rumah sederhana. Keluarga kakek dari pihak ayahnya berasal dari Nobbelov, satu desa terpencil dibagian paling selatan Swedia. Mungkin, untuk mengenang desa kelahirannya, si kakek lalu memakai nama Nobel ketika berhasil kuliah di Universitas Uppsala tahun 1682.

Kakek Nobel ini kemudian menikahi seorang gadis cerdas, yakni putri rektor universitas tersebut. Dari perkawinan ini lahirlah ayah Alfred, yakni Emmanuel Nobel yang juga berbakat penemu. Tradisi menimba ilmu meski dari dusun yang jauh ternyata menjadi darah daging dalam keturunan Nobel.

Ketika usaha Emmanuel, yang memiliki gelar insinyur dan profesi arsitek mengalami kegagalan, ia pergi ke Rusia mengadu nasib di St. Petersburg. Pada tahun 1842, anak istrinya termasuk Alfred muda datang menyusul. Meski kebanyakan pendidikannya berasal dari guru privat, Alfred telah menjadi seorang ahli kimia yang disegani pada usia 16 tahun. Selain itu, ia mahir berbahasa Perancis, Inggris, Jerman, dan Rusia disamping bahasa Swedia sendiri. Melihat kecerdasan Alfred, ayahnya memberi peluang untuk memperluas ilmu. Tahun 1850 ia meninggalkan Rusia menimba ilmu di Paris selama setahun dan empat tahun di Amerika Serikat di bawah bimbingan John Ericsson, seorang insinyur terkenal yang membuat kapal perang monitor, yaitu kapal terkuat di masanya.

Seusai menimba ilmu, Alfred kembali ke St. Petersburg untuk bekerja di pabrik ayahnya. Ayah dan anak berhasil membuat sejenis ranjau darat dan laut yang banyak dibeli Pemerintah Rusia untuk Perang Krim. Dari sukses ini, Alfred ingin menemukan sesuatu yang baru. Namun, biaya eksperimennya tersendat akibat perang. Saat berakhir perang, usaha keluarganya bangkrut pada tahun 1859. Untuk itu, satu-satunya jalan adalah kembali ke Swedia.

Pada tahun 1861, Alfred pergi ke Paris mencari dana untuk membuat bahan peledak dari nitrogliserin. Ia berhasil memeroleh seorang sponsor. Bersama ayahnya, Alfred membangun pabrik nitrogliserin pertama di Heleneborg, dekat Stockholm. Setelah melakukan 50 kali percobaan, Alfred berhasil menemukan detonatornya. Namun, sukses ini harus dibayar mahal dalam hidupnya. Ketika ia sedang merakit detonator pada tanggal 3 September 1864, rumahnya meledak dan lebih menyedihkan lagi, adik bungsunya ikut tewas beserta empat orang asistennya.

Emmanuel wafat 8 tahun kemudian. Sementara Alfred pantang menyerah. Gara-gara ledakan maut itu, Pemerintah Swedia melarangnya membangun kembali pabrik baru. Alfred yang dijuluki “ilmuwan yang tergila-gila”, malah meneruskan percobaan di atas sebuah tongkang. Akhirnya jerih payahnya membawa buah. Ia berhasil menemukan metode pembuatan bahan peledak yang aman, tahan goncangan yang diberi nama dinamit. Penemuan ini membawa manfaat besar-besaran dibidang pembangunan fisik, misalnya pembuatan terowongan, jalan, penambangan, dan lain sebagainya.

Dasar penemu yang memang tak pernah puas, Alfred tetap menggali penemuan baru. Tahun 1887, ia menemukan mesiu tak berasap. Prinsip ini merupakan dasar baru pembuatan senjata api. Di samping sebagai penemu, ia merangkap sebagai pengusaha dengan mendirikan pabrik untuk memproduksi penemuannya secara besar-besaran. Keuntungan dari pabrik-pabrik ini dijadikannya modal untuk mengembangkan bidang lain. Hasil akhir dari semua penemuannya/usahanya ini ialah dengan memiliki 355 hak paten di tangannya. Pada tahun 1896, ia sudah memiliki 90 pabrik atau perusahaan di 20 negara yang berlokasi di 5 benua. Banyak perusahaan di Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Jerman yang bergerak di bidang kimia merupakan anak cucu perusahaan yang dirintis oleh Alfred Nobel.

Sungguh tak terbayangkan jumlah kekayaannya. Namun, semua itu tidak membuatnya lupa diri. Ia tidak suka berfoya-foya, ia lebih senang menyumbang untuk kegiatan kemanusiaan serta membiayai penelitian ilmiah. Ketika ia wafat (dalam kesepian dan tanpa pernah menikah) pada tanggal 10 Desember 1896 di San Remo, Italia, ditemukan dalam lemarinya sebuah wasiat yang mengabadikan namanya. Isinya, ia mewariskan sebagian kekayaannya untuk dunia demi kepentingan kemanusiaan serta ilmu pengetahuan. Keinginannya dalam wasiat ini diwujudkan dalam bentuk hadiah Nobel. Tradisi pemberian hadiah ini dimulai pada tanggal 10 Desember 1901. Pemenang pertama di bidang fisika adalah Rontgen, si penemu sinar X. Bidang lain yang diperhitungkan adalah kimia, fisiologi atau kedokteran, kesusastraan (puisi dan novel), dan perdamaian. Tahun 1969, hadiah Nobel diberikan juga untuk bidang ilmu ekonomi yang dirintis oleh Bank Swedia. Yayasan Nobel yang didirikan menurut ketetapan yang terkandung dalam surat wasiat Alfred Nobel merupakan pemilik sah dana serta pengelolaannya, tetapi tidak berhak menentukan pemenangnya. Tiap hadiah terdiri dari sebuah medali emas, sebuah diploma berupa surat tanda penghargaan, dan sejumlah uang. Besarnya uang itu tergantung kepada pendapatan Yayasan Nobel.

Demikian setiap penghujung tahun, dunia selalu diramaikan dengan berita para pemenang Nobel, hadiah paling bergengsi di planet bumi. Semoga saja putra-putri Indonesia dapat meraihnya, begitu juga dengan Saya sendiri (Amin).
Silahkan baca: Angka nol (0) dan faktanya

Pustaka
Sriwidodo, Rayani dan Steve Kamajaya. 2009. Para Penemu yang Mengubah Dunia. Jakarta: PT Nimas Multima.