Tugas Utama Guru dan Prinsip Dasar Menentukan Materi Ajar

TUGAS UTAMA GURU DAN PRINSIP DASAR 
MENENTUKAN MATERI AJAR 
Disusun oleh 
Kelompok 2 
1. Febriman Zendrato 
2. Eben Filsafan Laia 
3. Rasonna Tumanggor 
4. Astaria Meilan Sari Manik 
5. Putri Utari Sibuea

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA 
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN 
UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN 
MEDAN 
2017 
KATA PENGANTAR 
Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya, sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang tepat pada waktunya yang berjudul “Tugas Utama Guru dan Prinsip Dasar Menentukan Materi Ajar”. 
Makalah ini berisikan tentang pengertian guru serta peran dan fungsi seorang guru, pengertian bahan ajar, serta prinsip-prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam menyusun serta mengembangkan materi ajar. 
Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua betapa pentingnya peran (sosok) seorang guru dalam kehidupan sehari-hari terlebih dalam pendidikan formal serta prinsip-prinsip yang harus dikuasai oleh guru tersebut. Kami pada akhirnya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu diharapkan demi kesempurnaan makalah ini ke depannya. 
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada Bapak Drs. Poltak Panjaitan, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Strategi Pembelajaran Fisika serta kepada semua teman sekelompok yang telah berperan serta dan bersusah payah dalam menyusun makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan yang senantiasa memberkati segala usaha kita. Amin. 
Medan, Maret 2017 
Kelompok 2

DAFTAR ISI 

KATA PENGANTAR_____i
DAFTAR ISI_____ii

 
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah_____1
1.2. Rumusan Masalah_____3
1.3. Tujuan_____4

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Guru_____5
2.2. Peran dan Fungsi Guru_____6
2.3. Konsep Pengembangan Bahan Ajar_____14
2.4. Prinsip Pemilihan/Penyusunan Bahan Ajar_____14
2.5. Prinsip Pengembangan Bahan Ajar_____15

BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan_____18

DAFTAR PUSTAKA_____19


BAB I 

PENDAHULUAN 

1.1. Latar Belakang

Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat. Guru dapat dihormati oleh masyarakat karena kewibawaannya, sehingga masyarakat tidak meragukan figur guru. Masyarakat percaya bahwa dengan adanya guru, maka guru dapat mendidik dan membentuk kepribadian anak didik mereka dengan baik agar mempunyai intelektualitas yang tinggi serta jiwa kepemimpinan yang bertanggung jawab. Jadi dalam pengertian yang sederhana, guru dapat diartikan sebagai orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Sedangkan guru dalam pandangan masyarakat itu sendiri adalah orang yang melaksanakan pendidikan ditempat-tempat tertentu, tidak harus di lembaga pendidikan yang formal saja tetapi juga dapat dilaksanakan di lembaga pendidikan non-formal seperti di tempat ibadah, di kursus, di rumah, dan sebagainya[1]
Seorang guru mempunyai kepribadian yang khas. Disatu pihak guru harus ramah, sabar, menunjukkan pengertian, memberikan kepercayaan, dan menciptakan suasana aman. Akan tetapi dilain pihak, guru harus memberikan tugas, mendorong siswa untuk mencapai tujuan, menegur, menilai, dan mengadakan koreksi. Dengan demikian, kepribadian seorang guru seolah-olah terbagi menjadi dua bagian. Di satu pihak bersifat empati, di pihak lain bersifat kritis. Di satu pihak menerima, dilain pihak menolak. Maka seorang guru yang tidak bisa memerankan pribadinya sebagai guru, ia akan berpihak kepada salah satu pribadi saja. Dan berdasarkan hal-hal tersebut, seorang guru harus bisa memilah serta memilih kapan saatnya berempati kepada siswa, kapan saatnya kritis, kapan saatnya menerima dan kapan saatnya menolak. Dengan perkatan lain, seorang guru harus mampu berperan ganda. Peran ganda ini dapat di wujudkan secara berlainan sesuai dengan situasi dan kondisi yang di hadapi. 
Tugas guru sebagai suatu profesi, menuntut kepada guru untuk mengembangkan profesionalitas diri sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mendidik, mengajar, dan melatih anak didik adalah tugas guru sebagai suatu profesi. Tugas guru sebagai pendidik, meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup kepada anak didik. Tugas guru sebagai pengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didik. Tugas guru sebagai pelatih berarti mengembangkan keterampilan dan menerapkannya dalam kehidupan demi masa depan anak didik. Guru juga mempunyai kemampuan, keahlian atau sering disebut dengan kompetensi profesional. Kompetensi profesional yang dimaksud tersebut adalah kemampuan guru untuk menguasai masalah akademik yang sangat berkaitan dengan pelaksanaan proses belajar mengajar, sehingga kompetensi ini mutlak dimiliki guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar. 

1.2. Rumusan Masalah 


1. Apa yang dimaksud dengan guru? 

2. Apa yang menjadi peran dan fungsi guru? 
3. Apa yang dimaksud dengan bahan ajar? 
4. Apa saja prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar? 
5. Apa saja prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengembangan bahan ajar? 

1.3. Tujuan

1. Mampu menyebutkan pengertian guru
2. Mampu menjelaskan apa saja peran dan fungsi seorang guru
3. Mampu menyebutkan pengertian dari bahan ajar
4. Mampu menjelaskan prinsip-prinsip dalam penyusunan bahan ajar
5. Mampu menjelaskan prinsip-prinsip dalam pengembangan bahan ajar

BAB II 

PEMBAHASAN 

2.1. Pengertian Guru

Secara etimologis (asal usul kata), istilah guru berasal dari bahasa India yang artinya “orang yang mengajarkan tentang kelepasan dari sengsara” (Shambuan, Republika, 25 November 1997). Dalam tradisi agama Hindu, guru dikenal sebagai “maharesi guru”, yakni para pengajar yang bertugas untuk menggembleng para calon biksu di bhinaya panti (tempat pendidikan bagi para biksu)[2]
Secara tradisional guru adalah seorang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan ilmu pengetahuan. Guru sebagai pendidik dan pengajar anak, guru diibaratkan seperti ibu kedua yang mengajarkan berbagai macam hal yang baru dan sebagai fasilitator anak supaya dapat belajar dan mengembangkan potensi dasar dan kemampuannya secara optimal, hanya saja ruang lingkupnya guru berbeda, guru mendidik dan mengajar di sekolah negeri ataupun swasta. 
Adapun pengertian guru menurut beberapa para ahli sebagai berikut: 
1. [3]Menurut Noor Jamaluddin (1978:1), guru adalah pendidik, yaitu orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu berdiri sendiri dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah di muka bumi, sebagai makhluk sosial, dan individu yang sanggup berdiri sendiri. 
2. Menurut peraturan pemerintah, guru adalah jabatan fungsional, yaitu kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak seorang PNS dalam suatu organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan keahlian atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri. 
3. Menurut Keputusan MenPan, guru adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas, wewenang dan tanggung jawab oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pendidikan di sekolah. 
4. [4]Menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2005, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. 
5. [5]Menurut Poerwadarminta (1996:335) dikutip dalam Suparlan, bahwa guru adalah orang yang kerjanya mengajar. Dengan defenisi ini, guru disamakan dengan pengajar. 
6. [6]Menurut Zakiyah Daradjat (1992:39) dikutip dalam Suparlan, menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional karena guru telah menerima dan memikul beban dari orang tua untuk ikut mendidik anak-anak. Dalam hal ini, orang tua harus tetap sebagai pendidik yang pertama dan utama bagi anaknya, sedangkan guru adalah tenaga profesional yang membantu orang tua untuk mendidik anak-anak pada jenjang pendidikan sekolah (formal). 
7. [7]Dalam Surat Edaran (SE) Mendikbud dan Kepala BAKN dinyatakan lebih spesifik bahwa “Guru ialah pegawai negeri sipil (PNS) yang diberi tugas, wewenang, dan tanggung jawab oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pendidikan di sekolah (termasuk hak yang melekat dalam jabatan”. 

2.2. Peran dan Fungsi Guru

Para pakar pendidikan di barat telah melakukan penelitian tentang peran guru yang harus dilakoni. Peran guru yang beragam telah diidentifikasi dan dikaji oleh Pullias dan Young (1988), Manan (1990) serta Yelon dan Weinstein (1997)[8]
Adapun peran-peran tersebut adalah sebagai berikut: 
1. Guru Sebagai Pendidik 
Guru adalah pendidik yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin. Peran guru sebagai pendidik (nurturer) berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggung jawab kemasyarakatan, pengetahuan, dan keterampilan dasar, persiapan, untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada. 
2. Guru Sebagai Pengajar 
Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti motivasi, kematangan, hubungan peserta didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa aman, dan keterampilan guru dalam berkomunikasi. Jika faktor-faktor di atas dipenuhi, maka melalui pembelajaran peserta didik dapat belajar dengan baik. Guru harus berusaha membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik dan terampil dalam memecahkan masalah. 
Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam pembelajaran, yaitu membuat ilustrasi, mendefinisikan, menganalisis, mensintesis, bertanya, merespon, mendengarkan, menciptakan kepercayaan, memberikan pandangan yang bervariasi, menyediakan media untuk mengkaji materi standar, menyesuaikan metode pembelajaran, dan memberikan nada perasaan. 
Agar pembelajaran memiliki kekuatan yang maksimal, guru-guru harus senantiasa berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkan semangat yang telah dimilikinya ketika mempelajari materi standar. 
3. Guru Sebagai Pembimbing 
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks. 
Sebagai pembimbing perjalanan guru memerlukan kompetensi yang tinggi untuk melaksanakan empat hal berikut: 
1. Guru harus merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai. 
2. Guru harus melihat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran dan yang paling penting bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan belajar itu tidak hanya secara jasmaniah, tetapi mereka harus terlibat secara psikologis. 
3. Guru harus memaknai kegiatan belajar. 
4. Guru harus melaksanakan penilaian. 
4. Guru Sebagai Pemimpin 
Guru diharapkan mempunyai kepribadian dan ilmu pengetahuan. Guru menjadi pemimpin bagi peserta didiknya, ia akan menjadi imam. 
5. Guru Sebagai Pengelola Pembelajaran 
Guru harus mampu menguasai berbagai metode pembelajaran. Selain itu, guru juga dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya tidak ketinggalan jaman. 
6. Guru Sebagai Model dan Teladan 
Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Terdapat kecenderungan yang besar untuk menganggap bahwa peran ini tidak mudah untuk ditentang, apalagi ditolak. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang disekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru: sikap dasar, bicara dan gaya bicara, kebiasaan bekerja, sikap melalui pengalaman dan kesalahan, pakaian, hubungan kemanusiaan, proses berfikir, perilaku neurotis, selera, keputusan, kesehatan, dan gaya hidup secara umum. 
Perilaku guru sangat memengaruhi peserta didik, tetapi peserta didik harus berani mengembangkan gaya hidup pribadinya sendiri. Guru yang baik adalah yang menyadari kesenjangan antara apa yang diinginkan dengan apa yang ada pada dirinya, kemudian menyadari kesalahan ketika memang bersalah. Kesalahan harus diikuti dengan sikap merasa dan berusaha untuk tidak mengulanginya. 
7. Sebagai Anggota Masyarakat 
Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan disegala bidang yang sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan kemampuannya pada bidang-bidang dikuasainya. Guru perlu juga memiliki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat melalui kemampuannya, antara lain melalui kegiatan olah raga, keagamaan dan kepemudaan. Keluwesan bergaul harus dimiliki, sebab kalau tidak pergaulannya akan menjadi kaku dan berakibat yang bersangkutan kurang bisa diterima oleh masyarakat. 
8. Guru Sebagai Administrator 
Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Guru akan dihadapkan pada berbagai tugas administrasi di sekolah. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur. Segala pelaksanaan dalam kaitannya proses belajar mengajar perlu diadministrasikan secara baik. Sebab administrasi yang dikerjakan seperti membuat rencana mengajar, mencatat hasil belajar dan sebagainya merupakan dokumen yang berharga bahwa ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik. 
9. Guru Sebagai Penasehat 
Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik juga bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang. 
Peserta didik senantiasa berhadapan dengan kebutuhan untuk membuat keputusan dan dalam prosesnya akan lari kepada gurunya. Agar guru dapat menyadari perannya sebagai orang kepercayaan dan penasihat secara lebih mendalam, ia harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental. 
10. Guru Sebagai Pembaharu (Inovator) 
Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik. Dalam hal ini, terdapat jurang yang dalam dan luas antara generasi yang satu dengan yang lain, demikian halnya pengalaman orang tua memiliki arti lebih banyak daripada nenek kita. Seorang peserta didik yang belajar sekarang, secara psikologis berada jauh dari pengalaman manusia yang harus dipahami, dicerna dan diwujudkan dalam pendidikan. 
Tugas guru adalah menerjemahkan kebijakan dan pengalaman yang berharga ini kedalam istilah atau bahasa modern yang akan diterima oleh peserta didik. Sebagai jembatan antara generasi tua dan generasi muda yang juga penerjemah pengalaman, guru harus menjadi pribadi yang terdidik. 
11. Guru Sebagai Pendorong Kreatifitas 
Kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran dan guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreatifitas tersebut. Kreatifitas merupakan sesuatu yang bersifat universal dan merupakan ciri aspek dunia kehidupan di sekitar kita. Kreativitas ditandai oleh adanya kegiatan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan oleh seseorang atau adanya kecenderungan untuk menciptakan sesuatu. 
Akibat dari fungsi ini, guru senantiasa berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik dalam melayani peserta didik, sehingga peserta didik akan menilaianya bahwa ia memang kreatif dan tidak melakukan sesuatu secara rutin saja. Kreativitas menunjukkan bahwa apa yang akan dikerjakan oleh guru sekarang lebih baik dari yang telah dikerjakan sebelumnya. 
12. Guru Sebagai Emansipator 
Dengan kecerdikannya, guru mampu memahami potensi peserta didik, menghormati setiap insan dan menyadari bahwa kebanyakan insan merupakan “budak” stagnasi kebudayaan. Guru mengetahui bahwa pengalaman, pengakuan, dan dorongan seringkali membebaskan peserta didik dari “self image” yang tidak menyenangkan, kebodohan dan dari perasaan tertolak dan rendah diri. Guru telah melaksanakan peran sebagai emansipator ketika peserta didik yang dicampakkan secara moril dan mengalami berbagai kesulitan dibangkitkan kembali menjadi pribadi yang percaya diri. 
13. Guru Sebagai Evaluator 
Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Teknik apapun yang dipilih, dalam penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. 
14. Guru Sebagai Kulminator 
Guru adalah orang yang mengarahkan proses belajar secara bertahap dari awal hingga akhir (kulminasi). Dengan rancangannya peserta didik akan melewati tahap kulminasi, suatu tahap yang memungkinkan setiap peserta didik bisa mengetahui kemajuan belajarnya. Di sini peran kulminator terpadu dengan peran sebagai evaluator. 
Guru sejatinya adalah seorang pribadi yang harus serba bisa dan serba tahu. Serta mampu mentransferkan kebisaan dan pengetahuan pada muridnya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan dan potensi anak didik. 
Begitu banyak peran yang harus diemban oleh seorang guru. Peran yang begitu berat dipikul di pundak guru hendaknya tidak menjadikan calon guru mundur dari tugas mulia tersebut. Peran-peran tersebut harus menjadi tantangan dan motivasi bagi calon guru. Dia harus menyadari bahwa di masyarakat harus ada yang menjalani peran guru. Bila tidak, maka suatu masyarakat tidak akan terbangun dengan utuh. Penuh ketimpangan dan akhirnya masyarakat tersebut bergerak menuju kehancuran. 
Namun menurut Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 dan Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, tugas, peran, dan fungsi guru merupakan sesuatu kesatuan yang utuh. Hanya saja terkadang tugas dan fungsi disejajarkan sebagai penjabaran dari peran. Menurut Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 dan Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 peran guru adalah sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pengarah, pelatih, penilai, dan pengevaluasi dari peserta didik[9]
1. Guru Sebagai Pendidik 
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu guru harus mempunyai standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin. Guru harus memahami nilai-nilai, norma moral, dan sosial, serta berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut. Guru juga harus bertanggung jawab terhadap tindakannya dalam proses pembelajaran di sekolah. 
Sebagai pendidik guru harus berani mengambil keputusan secara mandiri berkaitan dengan pembelajaran dan pembentukan kompetensi serta bertindak sesuai dengan kondisi peserta didik dan lingkungan. 
2. Guru Sebagai Pengajar 
Di dalam tugasnya, guru membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk kompetensi, dan memahami materi standar yang dipelajari. Guru sebagai pengajar, harus terus mengikuti perkembangan teknologi, sehingga apa yang disampaikan kepada peserta didik merupakan hal-hal yang up to date (terbaru/terkini) dan tidak ketinggalan zaman. 
Perkembangan teknologi mengubah peran guru dari pengajar yang bertugas menyampaikan materi pembelajaran menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar. Hal itu dimungkinkan karena perkembangan teknologi menimbulkan banyak buku dengan harga relatif murah dan peserta didik dapat belajar melalui internet dengan tanpa batasan waktu dan ruang, belajar melalui televisi, radio, dan surat kabar yang setiap saat hadir di hadapan kita. 
Derasnya arus informasi, serta cepatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan telah memunculkan pertanyaan terhadap tugas guru sebagai pengajar. Masihkah guru diperlukan mengajar di depan kelas seorang diri, menginformasikan, menerangkan, dan menjelaskan. Untuk itu guru harus senantiasa mengembangkan profesinya secara profesional, sehingga tugas dan peran guru sebagai pengajar masih tetap diperlukan sepanjang hayat. 
3. Guru Sebagai Pembimbing 
Guru sebagai pembimbing dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan (guide) yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya yang bertanggung jawab. Sebagai pembimbing, guru harus merumuskan tujuan secara jelas, menetapkan waktu perjalanan, menetapkan jalan yang harus ditempuh, menggunakan petunjuk perjalanan serta menilai kelancarannya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik. 
Sebagai pembimbing semua kegiatan yang dilakukan oleh guru harus berdasarkan kerjasama yang baik antara guru dengan peserta didik. Guru memiliki hak dan tanggung jawab dalam setiap perjalanan yang direncanakan dan dilaksanakannya. 
4. Guru Sebagai Pengarah 
Guru adalah seorang pengarah bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua. Sebagai pengarah guru harus mampu mengarkan peserta didik dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi, mengarahkan peserta didik dalam mengambil suatu keputusan, dan menemukan jati dirinya. 
Guru juga dituntut untuk mengarahkan peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya, sehingga peserta didik dapat membangun karakter yang baik bagi dirinya dalam menghadapi kehidupan nyata di masyarakat. 
5. Guru Sebagai Pelatih 
Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual (kognitif) maupun motorik (psikomotorik), sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih, yang bertugas melatih peserta didik dalam pembentukan kompetensi dasar sesuai dengan potensi masing-masing peserta didik. 
Pelatihan yang dilakukan, di samping harus memperhatikan kompetensi dasar dan materi standar, juga harus mampu memperhatikan perbedaan individual peserta didik dan lingkungannya. Untuk itu guru harus banyak tahu, meskipun tidak mencakup semua hal dan tidak setiap hal secara sempurna, karena hal itu tidaklah mungkin. 
6. Guru Sebagai Penilai
Penilaian atau evaluasi (assesment) merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Tidak ada pembelajaran tanpa penilaian, karena penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar, atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran peserta didik. 
Sebagai suatu proses, penilaian dilaksanakan dengan prinsip-prinsip dan dengan teknik yang sesuai, mungkin tes atau non-tes. Teknik apapun yang dipilih, penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. 
Mengingat kompleksnya proses penilaian, maka guru perlu memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memadai. Guru harus memahami teknik evaluasi, baik tes maupun non-tes yang meliputi jenis masing-masing teknik, karakteristik, prosedur pengembangan, serta cara menentukan baik atau tidaknya ditinjau dari berbagai segi, validitas, reliabilitas, daya beda, dan tingkat kesukaran soal. 
Selain peran di atas, guru juga harus berusaha dalam pembelajaran dengan memberikan kemudahan belajar bagi peserta didik, agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Dalam hal ini, guru harus kreatif, profesional, dan menyenangkan dengan memposisikan diri sebagai berikut[10]
1. Orang tua yang penuh kasih sayang pada peserta didiknya. 
2. Teman, tempat mengadu, dan mengutarakan perasaan bagi para peserta didik. 
3. Fasilitator yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai minat, kemampuan, dan bakatnya. 
4. Memberikan sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan mencarikan saran pemecahannya. 
5. Memupuk rasa percaya diri, berani, dan bertanggung jawab. 
6. Mengembangkan proses sosialisasi (timbal balik) yang wajar antar peserta didik, orang tua, dan lingkungannya. 
7. Mengembangkan kreatifitas. 

2.3. Konsep Pengembangan Bahan Ajar

[11]Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, dan prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai. 
Menurut National Centre for Competency Based Training (2007), pengertian bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bahan yang dimaksudkan dapat berupa bahan tertulis maupun tidak tertulis. Pandangan dari ahli lainnya mengatakan bahwa bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis/runtut, baik tertulis maupun tidak tertulis, sehingga tercipta suatu lingkungan atau suasana yang memungkinkan siswa belajar. Menurut Panen (2001) mengungkapkan bahwa bahan ajar merupakan bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran (Andi, 2011:16). 

2.4. Prinsip Pemilihan/Penyusunan Bahan Ajar

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa dalam mengembangkan bahan ajar tentu perlu memperhatikan prinsisp-prinsip pembelajaran. Gafur (1994) menjelaskan bahwa beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar atau materi pembelajaran diantaranya meliputi prinsip relevansi, keajegan/konsistensi, dan kecukupan. Ketiga penerapan prinsip-prinsip tersebut dipaparkan sebagai berikut: 
1. Prinsip relevansi, artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian SK (Standar Kompetensi) dan KD (Kompetensi Dasar). Cara termudah ialah dengan mengajukan pertanyaan tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Dengan prinsip dasar ini, guru akan mengetahui apakah materi yang hendak diajarkan tersebut materi fakta, konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap atau aspek psikomotorik sehingga pada gilirannya guru terhindar dari kesalahan pemilihan jenis materi yang tidak relevan dengan pencapaian SK dan KD[12]
Contoh: 
KD untuk SMP Kelas IX yaitu mengidentifikasi bangun-bangun yang sama dan sebangun (kongruen), maka pemilihan materi pembelajaran yang disampaikan seharusnya “Syarat dua bangun yang sama dan sebangun (kongruen), foto dan model berskala, syarat dua bangun yang sebangun, dan panjang sisi pada dua bangun yang sama dan sebangun (kongruen). 
2. Prinsip konsistensi, sering disebut keajegan. Artinya ada kesesuaian (jumlah/banyaknya) antara kompetensi dan bahan ajar, jika kompetensi dasar yang ingin dibelajarkan mencakup keempat keterampilan berbahasa, bahan yang dipilih/dikembangkan juga mencakup keempat hal itu. Secara sederhananya, jika misalnya KD yang kita susun terdiri atas dua poin, maka pada pengembangan materinya juga harus sama dengan KD atau harus terdiri atas dua pembahasan. 
Contoh: 
Kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa adalah pengoperasian bilangan yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian[13]
3. Prinsip kecukupan, artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai SK dan KD. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya. 
2.5. Prinsip Pengembangan Bahan Ajar 
Pengembangan bahan ajar hendaklah memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran. Prinsip-prinsip pembelajaran tersebut antara lain: 
a. Mulai dari hal yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang kongkret untuk memahami yang abstrak
Siswa akan lebih mudah memahami suatu konsep tertentu apabila penjelasan dimulai dari yang mudah atau sesuatu yang kongkret, sesuatu yang nyata ada di lingkungan mereka. Misalnya untuk menjelaskan konsep pasar, maka mulailah siswa diajak untuk berbicara tentang pasar yang terdapat di tempat mereka tinggal. Setelah itu, kita bisa membawa mereka untuk berbicara tentang berbagai jenis pasar lainnya. 
b. Pengulangan akan memperkuat pemahaman 
Dalam pembelajaran, pengulangan sangat diperlukan agar siswa lebih memahami suatu konsep. Walaupun maksudnya sama, sesuatu informasi yang diulang-ulang, akan lebih berbekas pada ingatan siswa. Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman siswa. 
c. Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman siswa 
Seringkali kita menganggap enteng dengan memberikan respon yang sekedarnya atas hasil kerja siswa. Padahal respon yang diberikan oleh guru terhadap siswa akan menjadi penguatan pada diri siswa. Perkataan seorang guru seperti “ya benar” atau “ya kamu pintar” atau “itu benar, namun akan lebih baik kalau begini…” akan menimbulkan kepercayaan diri pada siswa bahwa ia telah menjawab atau mengerjakan sesuatu dengan benar. Sebaliknya, respon negatif akan mematahkan semangat siswa. Untuk itu, jangan lupa berikan umpan balik (feed back) yang positif terhadap hasil kerja siswa. 
d. Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan seorang siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan lebih berhasil dalam belajar. Untuk itu, maka salah satu tugas guru dalam melaksanakan pembelajaran adalah memberikan dorongan (motivasi) agar siswa mau belajar. Banyak cara untuk memberikan motivasi, antara lain dengan memberikan pujian, memberikan harapan, menjelaskan tujuan dan manfaat, memberi contoh, ataupun menceritakan sesuatu yang membuat siswa senang belajar, dan lain-lain. 
e. Mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap akhirnya akan mencapai ketinggian tertentu 
Pembelajaran adalah suatu proses yang bertahap dan berkelanjutan. Untuk mencapai suatu standar kompetensi yang tinggi, perlu dibuatkan tujuan-tujuan antara. Ibarat anak tangga, semakin lebar anak tangga semakin sulit kita melangkah, namun juga anak tangga yang terlalu kecil terlampau mudah melewatinya. Untuk itu, maka guru perlu menyusun anak tangga tujuan pembelajaran secara pas, sesuai dengan karakteristik siswa. Dalam bahan ajar, anak tangga tersebut dirumuskan dalam bentuk indikator-indikator kompetensi. 
f. Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong siswa untuk terus mencapai tujuan 
Dalam proses pembelajaran, guru ibarat pemandu perjalanan (guide). Dengan demikian, semua peserta dapat mencapai kota tujuan dengan selamat. Dalam pembelajaran, setiap anak akan mencapai tujuan tersebut dengan kecepatannya sendiri, namun mereka semua akan sampai kepada tujuan meskipun dengan waktu yang berbeda-beda. Inilah sebagian dari prinsip belajar tuntas. 
BAB III 

PENUTUP 

3.1. Kesimpulan

Guru adalah seorang yang memiliki seperangkat koleksi nilai dan kemampuan yang lebih, dimana dengan koleksi itu dia dapat merubah tantangan menjadi peluang. Tugas dan peran guru menurut Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 dan Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 adalah sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pengarah, pelatih, penilai, dan pengevaluasi dari peserta didik. 
Peran guru seperti kajian Pullias dan Young (1988), Manan (1990) serta Yelon dan Weinstein (1997) terdiri dari guru sebagai pendidik, guru sebagai pengajar, guru sebagai pembimbing, guru sebagai pemimpin, guru sebagai pengelola pembelajaran, guru sebagai model atau teladan, guru sebagai anggota masyarakat, guru sebagai administrator, guru sebagai penasehat, guru sebagai pembaharu (inovator), guru sebagai pendorong kreativitas, guru sebagai emansipator, guru sebagai evaluator, dan guru sebagai kulminator. 
Pengertian bahan ajar menurut National Centre for Competency Based Training (2007), adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bahan ajar yang dimaksud dapat berupa tertulis maupun tidak tertulis dan hendaknya disusun secara sistematis sehingga mampu menciptakan suatu kondisi dan lingkungan yang mendukung proses pembelajaran antara pendidik dengan peserta didik maupun dengan lingkungannya. 
Prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan/pemilihan bahan ajar atau materi pembelajaran menurut Gafur (1994) diantaranya meliputi prinsip relevansi, keajegan/konsistensi, dan kecukupan. Jadi, ketiga prinsip tersebut harus sama-sama berjalan (diterapkan) untuk menjamin bahwa bahan ajar yang diajarkan kepada peserta didik memang benar-benar sesuai dengan kondisi serta kemampuan siswa itu sendiri. 
Pengembangan bahan ajar hendaklah memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran berupa bahan ajar dimulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit/dari yang kongkret untuk memahami yang abstrak, melakukan pengulangan yang bertujuan memperkuat pemahaman peserta didik, adanya feed back yang bersifat positif akan memudahkan pemahaman siswa, adanya motivasi belajar yang tinggi, dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, dan mengetahui akan hasil yang dicapai akan mendorong siswa untuk lebih berusaha mencapai tujuan.
DAFTAR PUSTAKA

Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing.

Mulyasa. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Satori, Djam’an; dkk. 2008. Profesi Keguruan. Jakarta: Universitas Terbuka.

http://maulanikmatul.blogspot.com/2012/03/prinsip-pengembangan-bahan-ajar.html?m=1. Diakses pada tanggal 15 Maret 2017.

http://mamanpermatahati.blogspot.com/2013/06/Prinsip-prinsip-bahan-ajar.html?m=1. Diakses pada tanggal 15 Maret 2017.

Septimartiana. 2013. Makalah Pengertian Peran dan Fungsi Guru, (online),(http://septimartiana.blogspot.co.id/2013/12/makalah-pengertian-peran-dan-fungsi-guru.html?m=1, diakses Maret 2017).

Ratnasari, Amelia. 2012. Makalah Guru Profesional, (online), (http://amalia-ratnasari.blogspot.com/2012/06/makalah-guru-profesional.html#ixzz2MsiGLk1L, diakses Maret 2017).

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Surat Edaran (SE) Mendikbud dan Kepala BAKN Nomor 57686/MPK/1989.

Daftar Kutipan

[1] Septimartiana. 2013. Makalah Pengertian Peran dan Fungsi Guru, (online),(http://septimartiana.blogspot.co.id/2013/12/makalah-pengertian-peran-dan-fungsi-guru.html?m=1, diakses Maret 2017).

[2] Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing.

[3] Jamaluddin, Noor Popoy. 1978. Ilmu Pendidikan, Bagian Proyek Peningkatan Mutu PGAN, DEPAG.

[4] Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

[5] Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing. Hal 13.

[6] Ibid.

[7] Surat Edaran (SE) Mendikbud dan Kepala BAKN Nomor 57686/MPK/1989.

[8] Mulyasa. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.. Hal 37-42.

[9] Mulyasa. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal 197-198.

[10] Ibid. Hal 36.

[11] Ratnasari, Amelia. 2012. Makalah Guru Profesional, (online), (http://amalia-ratnasari.blogspot.com/2012/06/makalah-guru-profesional.html#ixzz2MsiGLk1L, diakses Maret 2017).

[12] http://maulanikmatul.blogspot.com/2012/03/prinsip-pengembangan-bahan-ajar.html?m=1. Diakses pada tanggal 15 Maret 2017.

[13] http://mamanpermatahati.blogspot.com/2013/06/Prinsip-prinsip-bahan-ajar.html?m=1. Diakses pada tanggal 15 Maret 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *