Pembelajaran berbasis CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) Terbaru 2020

A. Pengertian CBSA 
Siswa belajar secara aktif ketika mereka terlibat secara terus-menerus, baik mental maupun fisik. Kegiatan fisik yang dapat diamati diantaranya dalam bentuk kegiatan membaca, mendengarkan, menulis, meragakan, dan mengukur. Sedangkan contoh kegiatan psikis seperti mengingat kembali isi pelajaran pertemuan sebelumnya, menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, menyimpulkan hasil eksperimen, membandingkan satu konsep dengan konsep yang lain, serta kegiatan mental lainnya. Dan yang terpenting adalah adanya keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam kegiatan pembelajaran. 

sumber https://www.ef.co.id/
Pembelajaran aktif itu perlu semangat hidup, giat, berkesinambungan, kuat, dan efektif. Selain itu, pembelajaran aktif melibatkan pembelajaran yang terjadi ketika siswa bersemangat, siap secara mental, dan bisa memahami pengalaman yang dialami. 
Dari penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan CBSA adalah anutan pembelajaran yang mengarah kepada pengoptimalisasian pelibatan intelektual-emosional siswa dalam pembelajaran, dengan melibatkan fisik siswa apabila diperlukan. Pelibatan intelektual-emosional dan fisik siswa serta optimalisasi dalam pembelajaran, diarahkan untuk membelajarkan siswa bagaimana belajar memperoleh dan memproses perolehan belajarnya tentang pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai. 

B. Karakteristik, Inti dan Kerangka CBSA 

Pembelajaran yang mengajak siswa untuk aktif, akan tampak ketika sebuah pembelajaran benar-benar menunjukan orientasinya pada peserta didiknya. Akan berlaku sebaliknya apabila arah pembelajaran tersebut berorientasi kepada guru. 
Raka Joni (1992: 19-20) (dalam buku Belajar & Pembelajaran karya Dimyati & Mudjiono) mengungkapkan bahwa pembelajaran yang ber-CBSA dengan baik mempunyai karakteristik sebagai berikut: 
1. Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada siswa 
Menunjukan bahwa siswa berperan aktif dalam mengembangkan cara-cara balajar mandiri, siswa berperan serta pada perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses belajar, pengalaman siswa lebih diutamakan dalam memutuskan titik tolak kegiatan. 
2. Guru adalah pembimbing dalam terjadinya pengalaman belajar 
Guru bukan satu-satunya sumber informasi, guru merupakan salah satu sumber belajar, yang memberikan peluang bagi siswa agar dapat memperoleh pengetahuan/ keterampilan melalui usaha sendiri, dapat mengembangkan motivasi dari dalam dirinya, dan dapat mengembangkan untuk membuat suatu karya. 
3. Tujuan pembelajaran tidak hanya untuk sekedar mengejar standart akademis 
Selain pencapaian standar akademis, kegiatan ditekankan untuk mengembangkan kemampuan siswa secara utuh dan setimbang. 
4. Pengelolaan kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada kreativitas siswa dan memperhatikan kemajuan siswa untuk menguasai konsep-konsep dengan mantap. 
5. Penilaian dilaksanakan untuk mengamati dan mengukur kegiatan dan kemajuan siswa, serta megukur berbagai keterampilan yang dikembangkan, misalnya keterampilan berbahasa, keterampilan sosial, keterampilan matematika, dan keterampilan proses dalam IPA dan keterampilan lainnya, serta mengukur hasil belajar siswa. 
Sementara itu, Mc Kearchie mengemukakan 6 dimensi proses pembelajaran yang menunjukan kadar CBSA. Adapun dimensinya meliputi: 

  1. Partisipasi siswa dalam menetapkan tujuan kegiatan pembelajaran 
  2. Tekanan pada aspek afektif dalam belajar 
  3. Partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, terutama yang berbentuk interaksi antar siswa 
  4. Kekohesifan (kekompakan) kelas sebagai kelompok 
  5. Kebebasan/kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk mengambil keputusan-keputusan penting dalam kehidupan sekolah 
  6. Jumlah waktu yang digunakan untuk menanggulangi masalah pribadi siswa, baik yang berhubungan maupun yang tidak berhubungan dengan sekolah/pembelajaran. 
Sedangkan Yamamoto meninjau bahwa apakah suatu proses menunjukan CBSA, dapat dilihat dari segi kesadaran siswa dan guru yang terlibat di dalamnya. Ia menambahkan bahwa proses pembelajaran akan optimal terjadi apabila siswa yang belajar ataupun guru yang membelajarkan memiliki kesadaran dan kesengajaan terlibat dalam proses pembelajaran sehingga akan memunculkan berbagai interaksi pembelajaran. 
Lingkungan fisik dalam ruang kelas juga dapat menjadikan belajar aktif. Dekorasi interior dari belajar aktif adalah menyenangkan dan menantang. Dalam beberapa hal, mebelair dapat diatur untuk membentuk susunan yang berbeda-beda. Lingkungan belajar aktif adalah tempat dimana kebutuhan, harapan dan perhatian peserta didik mempengaruhi rencana pembelajaran pengajar. 
Diskusi kelas berperan sangat penting dalam belajar aktif. Dengan mendengarkan keluasan pandangan menantang peran peserta. Pengajar selama diskusi kelompok berperan memfasilitasi jalannya komentar dari kelompok. Sekalipun itu tidak perlu untuk menyela setelah setiap siswa berbicara, secara periodik membantu kelompok agar kontribusi mereka dapat bermanfaat. 
Aktivitas pengalaman betul-betul membantu membuat belajar aktif. Aktivitas semacam itu secara khusus melibatkan bermain peran, games, simulasi, dan tugas problem solving. Seringkali jauh lebih baik bagi peserta didik untuk mengalami sesuatu dari pada sekedar mendengarkan dan membicarakannya. 
Dengan menggunakan teknik-teknik belajar aktif cenderung mengurangi problem manajemen kelas yang sering kali mengganggu pengajar yang betul- betul merasa berat pada ceramah dan diskusi kelompok besar. Pada intinya metode atau teknik apapun yang nantinya digunakan oleh guru, belajar aktif memerlukan waktu. Oleh karena itu, penting bahwa tidak ada waktu yang terbuang. 
C. Keunggulan Penggunaan CBSA dalam Pembelajaran 
Dengan semakin berkembangnya zaman, maka menghendaki sebuah pendidikan seumur hidup. Yang kemudian memunculkan pertanyaan tentang bagaimana cara agar siswa mampu memperoleh dan meresapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap menjadi kebutuhannya. Bertolak dari pemikiran tersebut maka perlulah sebuah pembelajaran aktif yang harus segera terpenuhi. 
Dengan penerapan CBSA, siswa akan mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya secara penuh, menyadari dan dapat menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat di sekitarnya. Selain itu, siswa akan lebih terlatih untuk berprakarsa, berpikir secara teratur, kritis, dan dapat menyelesaikan masalah sehari-hari, serta lebih terampil dalam menggali, menjelajah, mencari, dan mengembangkan informasi yang bermakna baginya. 
Di sisi lain, dengan penerapan CBSA, guru dapat bekerja professional, mengajar secara sistematis, dan berdasarkan prinsip didaktik metodik yang berdaya guna dan berhasil guna (efektif dan efisien). Artinya, guru dapat merekayasa sistem pembelajaran yang mereka laksanakan secara sistematis. Sehingga, lambat laun penerapan CBSA pada gilirannya akan mencetak guru-guru yang potensial dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan alam dan sosial budaya. 
D. Rambu-Rambu Penyelenggaraan CBSA 
Hakikat CBSA adalah keterlibatan intelektual-emosional siswa secara optimal dalam proses pembelajaran dan setiap proses dapat menemukan kadar CBSA dari suatu proses pembelajaran, maka perlu mengenal terlebih dahulu rambu-rambu penyelenggara CBSA. Yang dimaksud dengan rambu-rambu CBSA adalah gejala-gejala yang tampak pada perilaku siswa dan guru baik dalam program maupun dalam proses pembelajaran. Rambu-rambu yang dimaksud adalah : 

  1. Kuantitas dan kualitas pengalaman yang membelajarkan 
  2. Prakarsa dan keberanian siswa dalam mewujudkan minat, keinginan, dan dorongan-dorongan yang ada pada dirinya 
  3. Keberanian dan keinginan siswa untuk ikut serta dalam proses pembelajaran 
  4. Usaha dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran 
  5. Keingintahuan yang ada pada diri siswa 
  6. Rasa lapang dan bebas yang ada pada diri siswa 
  7. Kuantitas dan kualitas usaha yang dilakukan guru dalam membina dan mendorong keaktifan siswa 
  8. Kualitas guru sebagai inovator dan fasilitator 

E. Penerapan dan Langkah-Langkah Pelaksanaan CBSA 
Dalam sebuah pembelajaran, agar seorang guru mampu menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang memiliki kadar CBSA yang tinggi, maka dalam memilih pembelajaran dan menentukan teknik pembelajaran atau sistem penyampaian, hendaknya benar-benar mempertimbangkan kemanfaatan dari teknik pembelajaran yang dipilihnya. Teknik pembelajaran yang dapat diartikan sebagai prosedur rutin atau suatu cara yang telah ditentukan sebelumnya untuk menyampaikan pesan dengan bahan, alat, latar, dan orang (AECT, 1986: 196) (dalam buku Belajar & Pembelajaran karya Dimyati & Mudjiono), pada akhirnya membentuk sistem instruksional. Oleh karena pentingnya teknik pembelajaran ini, maka pemanfaatan teknik belajar hendaknya bersesuiaian dengan karakteristik , baik karakteristik guru, karakteristik tujuan, karakteristik mata pelajaran/ bidang studi, dan karakteristik bahan dan alat pembelajaran. 
Pemilihan teknik pembelajaran yang sesuai dengan faktor-faktor penentu kegiatan pembelajaran, akan membantu guru mengetahui kemanfaatannya dalam meningkatkan kadar CBSA. Pengetahuan guru tentang kemanfaatan ketepatan pemilihan teknik pembelajaran akan mengarahkan guru kepada kesadaran perlunya menyempurnakan dirinya sendiri, sehingga mampu menjadi katalisator yang semakin meningkat kemampuannya. 
Dengan meningkatnya kemampuan guru sebagai katalisator dalam kegiatan pembelajaran, meningkat pulalah kadar CBSA dalam pembelajaran yang diselenggarakannya. Kadar CBSA dalam suatu proses pembelajaran terlihat sejak guru membuat persiapan pembelajaran, yakni pada jabaran kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru maupun siswa. 
Dalam pelaksanaannya, CBSA merujuk pada langkah-langkah sebagai berikut: 
1. Pemanasan 
Pemanasan dimulai dengan saling menyumbang pikiran/brainstorming tentang gambaran mental yang dimiliki subjek didik tentang topik yang dipelajari. Bila topik ini baru, maka harus ada pengalaman langsung yang dapat menjembataninya. 
Penghayatan pengalaman ini untuk subjek didik pada tingkat rendah SD dapat dilaksanakan secara nyata. Disamping pengalaman ini diperlukan secara esensial sebagai jembatan mengarah kepada titik tolak yang sama dalam melibatkan subjek secara mental, emosional dan fisik sekaligus merupakan usaha melihat lingkup (konteks) permasalahan. 
2. Pengamatan (Observasi) 
Penggunaan indera diperlukan untuk memperoleh informasi sebanyak mungkin. Untuk itu, perlu diketahui bahwa belahan otak sebelah kanan memiliki fungsi imajinasi yang perlu dikembangkan dan belahan otak sebelah kiri terutama memiliki kemungkinan untuk persepsi kognitif dalam perolehan pengetahuan dan memorasinya. Apa yang terjadi di proses belajar mengajar konvensional pada umumnya adalah pemberatan pada berfungsinya otak sebelah kiri. 
Usaha perlu dilakukan untuk mengurangi hal tersebut dengan mengurangi penginderaan kata-kata verbal dan lebih meragakan melalui gambar, action ataupun realitas sebenarnya. Yang harus dicapai adalah pengamatan yang relevan. Dengan begitu, keseimbangan dua belahan otak harus selalu dijaga kondisinya dalam menyerap berbagai pengalaman belajar. 
3. Interpretasi dan Pengamatan 
Mencatat ciri khas dari sebuah objek, perkembangan atau kejadian untuk menghubungi pengamatan yang satu dengan pengamatan yang lain, itu merupakan pola-pola yang harus dideteksi dalam sebuah rangkaian observasi. Penemuan pola itu adalah basis untuk menemukan maksud hubungan dan menyarankan kesimpulan (mungkin kejadian tertentu hasil dari kejadian lain). 
4. Peramalan 
Pola dan hubungan yang sudah diamati digunakan untuk meramalkan kejadian yang belum diamati. Suatu ramalan adalah suatu terkaan bila tidak didasarkan pada hubungan yang diketahui ada melalui observasi hari ini atau pada masa yang lalu. Subjek didik haru dibantu membedakan ramalan dan terkaan. Harus ada alasan untuk suatu ramalan yang didasarkan pada observasi. Jadi, proses peramalan bertumpu dari penalaran terhadap observasi. 
5. Aplikasi Konsep 
Menggunakan konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru atau menggunakan pengalaman baru sebagaimana timbul dalam usaha penterjemahan apa adanya. 
Setiap penjelasan harus dianggap tentatif yang harus dikonfirmasikan kembali. Kalau pembuktiannya tidak jelas, maka harus dianggap suatu hipotesis. Sering ada beberapa alternatif hipotesis untuk disarankan, yang semuanya dapat diterapkan pembuktiannya. Ini yang harus disadari oleh subjek didik dalam mencocokan kembali kebenaran hipotesis itu. 
6. Perencanaan Penelitian 
Perencanaan penelitian bertolak dari pertanyaan apa yang harus dijawab secara jelas, hipotesis apa yang mau dicoba atau apa yang dicobakan. Kejelasan ini mampu melihatkan empirik atau penyajian nilai adalah bagian dari perencanaan penilaian. Proses ini juga mencakup mengidentifikasi variabel mana yang perlu diubah atau bisa tetap dipertahankan. Juga mencakup perencanaan observasi dan uraian apa yang akan dipakai. Cara pemakaiannya adalah untuk menentukan hasil penilaian. 
7. Komunikasi 
Proses ini dikaitkan erat dengan cara subjek didik belajar mengkomunikasikan kata atau objek dipikirkan perlakuaannya, membutuhkan gambaran ide maupun situasi nyata. Kata- kata itu baru menyertai pelajaran bila ide sudah dihargai. Komunikasi ini tidak hanya verbal tetapi juga melalui grafik, chart dan tabel dalam mengatur informasi atau penyampaian hasil observasi sehingga polanya kelihatan dan kesimpulan bisa ditarik. 

F. Strategi agar Peserta Didik Terlibat Langsung dalam Pembelajaran 
Cara untuk membuat peserta didik aktif sejak awal pembelajaran adalah dengan menggunakan strategi-strategi yang tepat. Strategi tersebut hendaknya membuat para peserta terlibat dalam materi dengan segera guna membangun minat, membangkitkan keingintahuan dan menstimulasi pikiran. Pada saat awal pengajaran aktif, ada tiga tujuan penting yang harus dicapai. Arti penting tujuan tersebut hendaknya tidak diabaikan, walaupun pelajaran hanya berakhir satu sesi. Tujuan- tujuan tersebut antara lain: 
1. Membangun Tim (Team Building) : bantulah peserta didik menjadi kenal satu sama lain dan ciptakan semangat kerja sama. 
2. Penegasan: pelajarilah sikap, pengetahuan, pengalaman para peserta didik. 
3. Keterlibatan belajar seketika: bangkitkan minat awal pada mata pelajaran. 
Semua tujuan ini, ketika tercapai akan membantu mengembangkan lingkungan belajar yang melibatkan peserta didik, mengembangkan kemauan mereka untuk berperan serta dalam pengajaran aktif, dan menciptakan norma-norma ruang kelas yang positif. 
Dapat diketahui bahwa peserta didik tidak akan berhasil dalam pembelajaran apabila otak atau “komputer” mereka tidak bekerja. Banyak kesalahan yang dibuat oleh pendidik yaitu dengan mengajar “terlalu dini,” sebelum para peserta didik siap secara mental. Strategi berikut akan memperbaiki kecenderungan tersebut, yaitu dengan: 
1. Berbagi Pengetahuan Secara Aktif 
Strategi ini adalah cara yang bagus untuk melibatkan peserta dengan segera ke dalam materi pelatihan. Cara ini juga dapat digunakan untuk menilai tingkatan pengetahuan peserta didik dan untuk membantu pembentukan kelompok. Cara ini dapat digunakan untuk materi apapun dan kelompok apapun. 
2. Rotasi Pertukaran Trio 
Cara ini merupakan cara mendalam bagi peserta didik untuk mendiskusikan masalah dengan peserta didik lainnya. Pertukaran ini dapat dengan mudah disesuaikan dengan materi pembelajaran. 
3. Menuju Posisi 
Cara ini merupakan cara yang terkenal untuk menggabungkan gerakan fisik pada awal pelatihan. Teknik ini cukup fleksibel digunakan dalam berbagai aktivitas yang dideasain untuk menstimulasi ketertarikan awal terhadap topik pembelajaran. 
4. Membuat Iklim Belajar Menjadi Menyenangkan 
Cara ini adalah dengan menciptakan iklim yang menyenangkan, dan informal dengan mengajak para peserta untuk memahami materi dengan menggunakan humor. Strategi ini dapat mencapai iklim tersebut dan pada saat bersamaan membuat para peserta didik berpikir. 
5. Pertukaran Sudut Pandang 
Kegiatan ini dapat digunakan untuk menstimulasi keterlibatan peserta dengan segera terhadap materi pembelajaran. Kegiatan ini juga mendorong para peserta didik untuk menjadi pendengar yang baik dan mempertimbangkan sudut pandang yang beragam. 
6. Bertanya Benar atau Salah 
Kegiatan kolaboratif ini menstimulasi keterlibatan terhadap materi pembelajara dengan segera. Kegiatan ini juga mendukung team building, berbagi pengetahuan dan pembelajaran langsung. 
7. Hangman 
Hangman merupakan cara interaktif dan menyenangkan untuk memperkenalkan sesi pelatihan yang mencakup banyak informasi. Cara ini akan menghemat waktu yang diperlukan untuk mengisi rincian setelah permainan, serta dapat membangkitkan minat dan diskusi peserta didik. Tingkat persaingan dalam teknik ini akan meningkatkan minat peserta didik dalam mempelajari jawaban. 
8. Ambil Bagian dalam Pelatihan 
Kegiatan ini menyediakan cara bagi peserta didik untuk memikirkan tentang bagaimana menerima tanggung jawab atas pembelajaran yang aktif. 

G. Contoh Cara Pembelajaran Aktif 
1. Mengacu pada Tujuan 
Kalau guru bisa menjelaskan tujuan pembelajaran dengan jelas, maka siswa akan mengerti dan bisa menghubungkan tujuan tersebut dengan hasil yang akan mereka peroleh dari pembelajaran itu. Hal ini adalah langkah pertama yang sangat penting saat memulai pelajaran. Siswa perlu merasa bahwa mereka adalah bagian dari proses pembelajaran. Untuk memfasilitasi hal ini, setiap rencana pembelajaran menyertakan satu sesi yang disebut Tujuan Pembelajaran Terukur, yang merangkum tujuan-tujuan pembelajaran, yang kemudian dijelaskan pada siswa, dan satu sesi di akhir pelajaran yang disebut refleksi pemikiran mendalam, yang menyertakan saran untuk membantu siswa merefleksikan kembali pengalaman yang mereka peroleh untuk mengukur ketercapaian tujuan dan mengetahui apakah mereka mengalami flow selama pembelajaran berlangsung. 
2. Melibatkan Siswa 
Secara intuisi, sebenarnya guru telah mengetahui bahwa untuk membuat pembelajaran lebih bermakna, siswa harus menggunakan lebih banyak energi mental dan emosional. Maka kegiatan-kegiatan yang sudah direncanakan secara matang diharapkan dapat membantu siswa tetap siaga terpikat secara mental untuk terlibat dalam pembelajaran. 
3. Menggunakan Seni, Gerakan, dan Indera 
Strategi pelajaran dirancang untuk mengaktifkan kelima panca indera untuk bisa melibatkan siswa secara penuh. Seni adalah cara yang ideal untuk mengaktifkan beragam indera, mendorong rasa kebersamaan siswa, menyediakan sarana ganda untuk menemukan dan mengekspresikan makna, membangun rasa percaya diri dan antusiasme belajar, dan menguatkan kemampuan dasar kecerdasan: kognitif, emosional, perhatian atau attentional, dan motorik (Sylwestern 2004; Jensen 2001) (dalam buku Pembelajaran Aktif karangan Pat Hollingsworth & Gina Lewis). Dan sejumlah pelajaran juga menggunakan strategi gerakan fisik untuk melibatkan siswa. 
4. Meragamkan Langkah Kegiatan 
Untuk menjaga agar pikiran selalu siaga, maka perlu meragamkan langkah dan jenis kegiatan. Setiap kegiatan menyediakan ide-ide untuk merubah langkah, dan setiap pelajaran disiapkan untuk bisa diadaptasikan, mudah dalam menambahkan ide untuk meragamkan pembelajaran. Pembelajaran aktif bisa bersifat mental maupun fisik. Merubah model kerja siswa dari kerja kelompok besar menjadi kerja individual atau menjadi kelompok kecil adalah salah satu cara yang mudah dan efektif untuk meragamkan langkah mental. 

H. Konsekuensi Pembelajaran Aktif (Pembelaran Berpusat pada Siswa) 
Peningkatan kadar CBSA dalam sebuah proses pembelajaran berarti pula mengarahkan proses pembelajaran yang berorientasi pada siswa atau dengan kata lain menciptakan pembelajaran berdasarkan siswa (Student Based Instruction). 
Terdapat beberapa konsekuensi yang harus diterima dari adanya pembelajaran aktif (berpusat/ berdasarkan siswa), (Gale, 1975: 204) (dalam buku Belajar & Pembelajaran karya Dimyati & Mudjiono), meliputi: 

  1. Guru menjadi seorang pengelola (manager) dan perancang (designer) dari pengalaman belajar. 
  2. Guru dan siswa menerima peran kerja sama (partnership). 
  3. Bahan-bahan pembelajaran dipilih berdasarkan kelayakannya. 
  4. Penting untuk melakukan identifikasi dan penuntasan syarat-syarat belajar (learning requirements). 
  5. Siswa dilibatkan dalam pembelajaran. 
  6. Tujuan ditulis secara jelas. 
  7. Semua tujuan diukur/ dites. 
Adanya konsekuensi dari penerapan pembelajaran berdasarkan siswa, yang akan dapat meningkatkan kadar CBSA dalam suatu proses pembelajaran. Yang lebih jauh akan menuntut guru: 

  1. Memiliki khasanah pengetahuan yang luas tentang teknik/cara penyampaian atau sistem penyampaian. 
  2. Memiliki kriteria tertentu untuk memilih sistem penyampaian yang tepat untuk memberikan pengalaman belajar kepada siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran.

I. Kebaikan dan Kelemahan CBSA
1. Kebaikan CBSA
Kebaikan-kebaikan CBSA, yang dikemikakan oleh T. Raka Joni adalah :
a. Ditujukan melalui keberanian memberikan urung pendapat tanpa secara eksklusif diminta.
b. Keterlibatan mental di dalam kegiatan-kegiatan belajar yang telah berlangsung yang ditujukan dengan peningkatan diri kepada tugas.
c. Belajar dengan pengalaman langsung indikator dari CBSA.
d. Kekayaan bentuk dan variasi alat kegiatan belajar mengajar.
e. Kualitas interaksi antar siswa.
2. Kelemahan CBSA
Beberapa kelemahan dari CBSA menurut Oemar Hamalik :
a. Tidak menjamin dalam melaksanakan keputusan.
b. Diskusi tak dapat diramalkan.
c. Memasyarakatkan agar siswa memiliki keterampilan berdiskusi yang diperlukan secara aktif.
d. Membentuk pengaturan fisik dan jadwal yang luwes.
e. Dapat menjadi palsu jika pemimpin mengalami kesulitan mempertemukan berbagai pendapat.
f. Dapat didominasi oleh seseorang atau sejumlah siswa sehingga dia menolak pendapat peserta lain.