Kisah dan Sejarah Hidup Alfred Bernard Nobel

Alfred Bernard Nobel (1833−1896)

Penemu dinamit yang dipatenkan tahun 1875 ini benar-benar merupakan teladan manusia dermawan. Bayangkan, bagian terbesar kekayaannya yang bersumber dari perusahaannya yang bertebaran di lima benua, diwariskannya untuk hadiah Nobel. Hadiah ini diberikan kepada orang-orang yang dinilai memiliki sumbangsih besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan perdamaian dunia. Selama manusia menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan, selama manusia ingin menata peradaban yang lebih baik lewat perdamaian, maka dijamin penerima hadiah Nobel akan lahir terus dan nama Nobel akan tetap dikenang sepanjang masa. Sungguh sebuah sifat kedermawanan yang abadi.

Alfred lahir di Stockholm tanggal 21 Oktober 1833 disuatu rumah sederhana. Keluarga kakek dari pihak ayahnya berasal dari Nobbelov, satu desa terpencil dibagian paling selatan Swedia. Mungkin, untuk mengenang desa kelahirannya, si kakek lalu memakai nama Nobel ketika berhasil kuliah di Universitas Uppsala tahun 1682.

Kakek Nobel ini kemudian menikahi seorang gadis cerdas, yakni putri rektor universitas tersebut. Dari perkawinan ini lahirlah ayah Alfred, yakni Emmanuel Nobel yang juga berbakat penemu. Tradisi menimba ilmu meski dari dusun yang jauh ternyata menjadi darah daging dalam keturunan Nobel.

Ketika usaha Emmanuel, yang memiliki gelar insinyur dan profesi arsitek mengalami kegagalan, ia pergi ke Rusia mengadu nasib di St. Petersburg. Pada tahun 1842, anak istrinya termasuk Alfred muda datang menyusul. Meski kebanyakan pendidikannya berasal dari guru privat, Alfred telah menjadi seorang ahli kimia yang disegani pada usia 16 tahun. Selain itu, ia mahir berbahasa Perancis, Inggris, Jerman, dan Rusia disamping bahasa Swedia sendiri. Melihat kecerdasan Alfred, ayahnya memberi peluang untuk memperluas ilmu. Tahun 1850 ia meninggalkan Rusia menimba ilmu di Paris selama setahun dan empat tahun di Amerika Serikat di bawah bimbingan John Ericsson, seorang insinyur terkenal yang membuat kapal perang monitor, yaitu kapal terkuat di masanya.

Seusai menimba ilmu, Alfred kembali ke St. Petersburg untuk bekerja di pabrik ayahnya. Ayah dan anak berhasil membuat sejenis ranjau darat dan laut yang banyak dibeli Pemerintah Rusia untuk Perang Krim. Dari sukses ini, Alfred ingin menemukan sesuatu yang baru. Namun, biaya eksperimennya tersendat akibat perang. Saat berakhir perang, usaha keluarganya bangkrut pada tahun 1859. Untuk itu, satu-satunya jalan adalah kembali ke Swedia.

Pada tahun 1861, Alfred pergi ke Paris mencari dana untuk membuat bahan peledak dari nitrogliserin. Ia berhasil memeroleh seorang sponsor. Bersama ayahnya, Alfred membangun pabrik nitrogliserin pertama di Heleneborg, dekat Stockholm. Setelah melakukan 50 kali percobaan, Alfred berhasil menemukan detonatornya. Namun, sukses ini harus dibayar mahal dalam hidupnya. Ketika ia sedang merakit detonator pada tanggal 3 September 1864, rumahnya meledak dan lebih menyedihkan lagi, adik bungsunya ikut tewas beserta empat orang asistennya.

Emmanuel wafat 8 tahun kemudian. Sementara Alfred pantang menyerah. Gara-gara ledakan maut itu, Pemerintah Swedia melarangnya membangun kembali pabrik baru. Alfred yang dijuluki “ilmuwan yang tergila-gila”, malah meneruskan percobaan di atas sebuah tongkang. Akhirnya jerih payahnya membawa buah. Ia berhasil menemukan metode pembuatan bahan peledak yang aman, tahan goncangan yang diberi nama dinamit. Penemuan ini membawa manfaat besar-besaran dibidang pembangunan fisik, misalnya pembuatan terowongan, jalan, penambangan, dan lain sebagainya.

Dasar penemu yang memang tak pernah puas, Alfred tetap menggali penemuan baru. Tahun 1887, ia menemukan mesiu tak berasap. Prinsip ini merupakan dasar baru pembuatan senjata api. Di samping sebagai penemu, ia merangkap sebagai pengusaha dengan mendirikan pabrik untuk memproduksi penemuannya secara besar-besaran. Keuntungan dari pabrik-pabrik ini dijadikannya modal untuk mengembangkan bidang lain. Hasil akhir dari semua penemuannya/usahanya ini ialah dengan memiliki 355 hak paten di tangannya. Pada tahun 1896, ia sudah memiliki 90 pabrik atau perusahaan di 20 negara yang berlokasi di 5 benua. Banyak perusahaan di Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Jerman yang bergerak di bidang kimia merupakan anak cucu perusahaan yang dirintis oleh Alfred Nobel.

Sungguh tak terbayangkan jumlah kekayaannya. Namun, semua itu tidak membuatnya lupa diri. Ia tidak suka berfoya-foya, ia lebih senang menyumbang untuk kegiatan kemanusiaan serta membiayai penelitian ilmiah. Ketika ia wafat (dalam kesepian dan tanpa pernah menikah) pada tanggal 10 Desember 1896 di San Remo, Italia, ditemukan dalam lemarinya sebuah wasiat yang mengabadikan namanya. Isinya, ia mewariskan sebagian kekayaannya untuk dunia demi kepentingan kemanusiaan serta ilmu pengetahuan. Keinginannya dalam wasiat ini diwujudkan dalam bentuk hadiah Nobel. Tradisi pemberian hadiah ini dimulai pada tanggal 10 Desember 1901. Pemenang pertama di bidang fisika adalah Rontgen, si penemu sinar X. Bidang lain yang diperhitungkan adalah kimia, fisiologi atau kedokteran, kesusastraan (puisi dan novel), dan perdamaian. Tahun 1969, hadiah Nobel diberikan juga untuk bidang ilmu ekonomi yang dirintis oleh Bank Swedia. Yayasan Nobel yang didirikan menurut ketetapan yang terkandung dalam surat wasiat Alfred Nobel merupakan pemilik sah dana serta pengelolaannya, tetapi tidak berhak menentukan pemenangnya. Tiap hadiah terdiri dari sebuah medali emas, sebuah diploma berupa surat tanda penghargaan, dan sejumlah uang. Besarnya uang itu tergantung kepada pendapatan Yayasan Nobel.

Demikian setiap penghujung tahun, dunia selalu diramaikan dengan berita para pemenang Nobel, hadiah paling bergengsi di planet bumi. Semoga saja putra-putri Indonesia dapat meraihnya, begitu juga dengan Saya sendiri (Amin).
Silahkan baca: Angka nol (0) dan faktanya

Pustaka
Sriwidodo, Rayani dan Steve Kamajaya. 2009. Para Penemu yang Mengubah Dunia. Jakarta: PT Nimas Multima.