Filsafat dan Sejarah Sains : Pengetahuan Pada Zaman Modern

PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang 
Sejarah pemikiran para filsuf oleh dunia barat telah dibagi menjadi tiga periode, yaitu pertama, zaman kuno yang terbagi dua periode, yaitu zaman pra-Socrates dan pasca-Socrates, di mana pada zaman ini terdapat kemajuan manusia. Kedua, zaman pertengahan, yakni zaman di mana alam pikiran dikungkung atau didominasi oleh gereja. Zaman ini telah menunjukkan kemunduran pemikiran manusia, kebebasan pemikiran sangat terbatas, perkembangan sains amat sulit dan perkembangan filsafat tersendat-sendat. Ketiga, zaman modern, yakni zaman sesudah abad pertengahan berakhir hingga sekarang. 

sumber: pixabay
Namun batas yang jelas tentang kapan abad pertengahan berakhir sulit ditentukan. Begitupun juga dengan zaman modern itu sendiri, masih terbagi-bagi lagi, yakni zaman Renaissance (14-17 M), zaman modern (17-19 M) dan zaman kontemporer (abad 20 dan seterusnya). Jadi yang dimaksud zaman modern pada makalah ini adalah zaman modern pada abad 17-19 M yang membicarakan tentang sumber pengetahuan. 
Terlepas dari pembatasan itu, yang jelas zaman modern sangat dinanti-nantikan oleh banyak pemikir manakala mereka mengingat zaman kuno ketika peradaban begitu bebas, pemikiran tidak dikekang oleh tekanan-tekanan di luar dirinya. Kondisi semacam itulah yang hendak dihidupkan kembali pada zaman modern. Kebebasan berpikir sebagai periode yang dilawankan dengan periode abad pertengahan. 
PEMBAHASAN
A. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Zaman Modern 
Filsafat modern lahir melalui proses panjang yang berkesinambungan, dimulai dengan munculnya abad Renaissance. Istilah ini diambil dari bahasa Perancis yang berarti kelahiran kembali. Karena itu, disebut juga dengan zaman pencerahan (Aufklarung). Pencerahan kembali mengandung arti “munculnya kesadaran baru manusia” terhadap dirinya (yang selama ini dikungkung oleh gereja). Manusia menyadari bahwa dialah yang menjadi pusat dunianya bukan lagi sebagai objek dunianya. 
Zaman modern ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern ini sesungguhnya sudah dirintis sejak zaman Renaissance. Awal mula dari suatu masa baru ditandai oleh usaha besar dari Descartes untuk memberikan kepada filsafat suatu bangunan yang baru. Filsafat berkembang bukan pada zaman Renaissance itu, melainkan kelak pada zaman sesudahnya (zaman modern). 
Renaissance lebih dari sekedar kebangkitan dunia modern. Renaissance ialah periode penemuan manusia dan dunia, merupakan periode perkembangan peradaban yang terletak di ujung atau sesudah abad kegelapan sampai muncul abad modern. Zaman ini juga disebut sebagai zaman Humanisme. Maksud ungkapan ini ialah manusia diangkat dari Abad Pertengahan yang mana manusia dianggap kurang dihargai sebagai manusia. Kebenaran diukur berdasarkan ukuran gereja (Kristen), bukan menurut ukuran yang dibuat manusia. Humanisme menghendaki ukuran haruslah manusia. Karena manusia mempunyai kemampuan berpikir, maka humanisme menganggap manusia mampu mengatur dirinya dan mengatur dunia. 
Jadi, zaman Modern filsafat didahului oleh zaman Renaissance. Sebenarnya secara esensial zaman Renaissance itu, dalam filsafat, tidak berbeda dari zaman modern. Ciri-ciri filsafat Renaissance ada pada filsafat modern. Tokoh pertama filsafat modern adalah Descartes. Pada filsafat kita menemukan ciri-ciri Renaissance tersebut. Ciri itu antara lain ialah menghidupkan kembali rasionalisme Yunani (Renaissance), individualisme, humanisme, lepas dari pengaruh agama dan lain-lain. 
Filsafat modern menampakkan karakteristiknya dengan lahirnya aneka aliran-aliran besar filsafat, yang diawali oleh rasionalisme dan empirisme. Selain kedua aliran itu, juga akan diketengahkan aliran-aliran besar lainnya yang ikut berperan mengisi lembaran filsafat modern, yaitu idealisme, materialisme, positivisme, fenomenologi, eksistensialisme dan pragmatisme. 
Filsafat abad modern pada pokoknya dimulai dengan 3 aliran yaitu: 
  1. Aliran rasionalisme dengan tokohnya Rene Descartes (1596-1650 M) 
  2. Aliran empirisme dengan tokohnya Francis Bacon (1210-1292 M) 
  3. Aliran kritisisme dengan tokohnya Immanuel Kant (1724-1804 M) 
Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio; kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Aliran empirisme, sebaliknya, meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi. Lalu muncul aliran kritisisme, yang mencoba memadukan kedua pendapat berbeda itu. 
B. Aliran-Aliran yang Muncul pada Zaman Modern beserta Tokoh-Tokohnya serta Pemikirannya 
1. Rasionalisme 
Kata rasionalisme terdiri dari dua suku kata, yaitu “rasio” yang berarti akal atau pikiran, dan “isme” yang berarti paham atau pendapat. Rasionalisme ialah suatu paham yang berpendapat bahwa “kebenaran yang tertinggi terletak dan bersumber dari akal manusia”. Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliran ini, suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir. 
Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Yang benar hanyalah tindakan akal yang terang-benderang yang disebut Ideas Claires et Distinctes (pikiran yang terang-benderang dan terpilah-pilah). Pikiran yang terang-benderang ini merupakan pemberian Tuhan sebelum orang dilahirkan (idea innatae = ide bawaan). Sebagai pemberian Tuhan, maka tak mungkin tak benar. Oleh karena itu, rasio dipandang kecuali sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan/kebenaran, juga sekaligus sebagai sumber pengetahuan/kebenaran. Adapun pengetahuan indera dianggap sering menyesatkan. 
Aliran rasionalisme ada dua macam yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama aliran rasionalisme adalah lawan dari autoritas dan biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama. Sedangkan dalam bidang filsafat, rasionalisme adalah lawan dari empirisme dan sering berguna dalam menyusun teori pengetahuan. Jika empirisme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan jalan mengetahui objek empirisme, maka rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir, pengetahuan dari empirisme dianggap sering menyesatkan. Adapun alat berpikir adalah kaidah-kaidah yang logis. 
Sejarah rasionalisme sudah tua sekali. Thales telah menerapkan rasionalisme dalam filsafatnya. Ini dilanjutkan dengan jelas sekali pada orang-orang sofis dan tokoh-tokoh penentangnya (Socrates, Plato, Aristoteles), dan juga beberapa tokoh sesudah itu. Pada zaman modern filsafat, tokoh pertama rasionalisme ialah Descartes yang dibicarakan setelah ini. Bersamaan dengan itu akan dibicarakan juga tokoh besar rasionalisme lainnya, yaitu Baruch Spinoza dan Leibniz. Setelah periode ini rasionalisme dikembangkan secara sempurna oleh Hegel yang kemudian terkenal sebagai tokoh rasionalisme dalam sejarah. 
Di dalam karangan ini rasionalisme dilihat terutama sebagai reaksi terhadap dominasi gereja pada Abad Pertengahan Kristen di Barat. Sebagaimana nanti dapat dilihat, pada konteks itulah kepentingan Descartes dibicarakan agak panjang lebar di sini. Descartes lebih diperhatikan karena ada keistimewaan padanya, keberaniannya melepaskan diri dari kungkungan yang mengurung filsuf Abad Pertengahan. 
Zaman modern dalam sejarah filsafat biasanya dimulai oleh filsafat Descartes. Tentu saja pernyataan ini bermaksud menyederhanakan permasalahan. Kata modern di sini hanya digunakan untuk menunjukkan suatu filsafat yang mempunyai corak yang amat berbeda, bahkan berlawanan, dengan corak filsafat pada Abad Pertengahan Kristen. Corak utama filsafat modern yang dimaksud di sini ialah dianutnya kembali rasionalisme seperti pada masa Yunani Kuno. Gagasan itu, disertai oleh argumen yang kuat, diajukan oleh Descartes. Oleh karena itu, gerakan pemikiran Descartes sering juga disebut bercorak Renaissance. Apa yang lahir kembali itu?
Ya, rasionalisme Yunani itu. Yang harus diamati di sini ialah apakah konsekuensi rasionalisme pada masa Yunani akan terulang kembali. 
Descartes dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern. Menurut Bertrand Russel, anggapan itu memang benar. Kata “Bapak” diberikan kepada Descartes karena dialah orang pertama pada Zaman Modern itu yang membangun filsafat yang berdiri atas keyakinan diri sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan akliah. Dialah orang pertama di akhir Abad Pertengahan itu yang menyusun argumentasi yang kuat, yang distinct, yang menyimpulkan bahwa dasar filsafat haruslah akal, bukan perasaan, bukan iman, bukan ayat suci, bukan yang lainnya. 
Pengaruh keimanan yang begitu kuat pada Abad Pertengahan, yang tergambar dalam ungkapan credo ut intelligam itu, telah membuat para pemikir takut mengemukakan pemikiran yang berbeda dengan pendapat tokoh Gereja. Descartes-lah filsuf yang mampu dan berani menyelamatkan filsafat yang dicengkeram oleh iman Abad Pertengahan. Descartes telah lama merasa tidak puas terhadap perkembangan filsafat yang amat lamban dan banyak memakan korban itu. Amat lamban terutama bila dibandingkan dengan perkembangan filsafat pada zaman sebelumnya. Ia melihat tokoh-tokoh gereja yang mengatasnamakan agama telah menyebabkan lambannya perkembangan itu. la ingin filsafat dilepaskan dari dominasi agama Kristen. Ia ingin filsafat dikembalikan kepada semangat filsafat Yunani, yaitu filsafat yang berbasis pada akal. Ia ingin menghidupkan kembali rasionalisme Yunani. 
Tokoh Rasionalisme dan Pemikirannya 
a. Rene Descartes (1596-1650) 
Peletak fondasi aliran ini ialah Rene Descastes yang digelar sebagai “Bapak filsafat mo­dern”. Descartes berasal dari Perancis, lahir tahun 1596 di sebuah kota bernama La Haye, dan wafat tahun 1650 di Stockholm. Semboyan dari aliran ini ialah ungkapan Descartes yang berbunyi: Cogito ergo sum (Saya berpikir maka Saya ada). 
Dari ungkapan sederhana ini, dapat diambil beberapa rumusan, sebagai berikut: 
  1. Eksistensi manusia yang paling sempurna ialah rasionya, sehingga rasio berperan sebagai “pengenal dirinya” sesuai dengan koherensi antara berpikir dan berada. Artinya keberadaan manusia terwujud/terkonsep setelah dia memikirkan dirinya. 
  2. Dengan rasio, manusia berhasil menemukan kesan (pengetahuan baru) tentang dirinya yang tidak atau kurang diketahui sebelumnya, kecuali melalui sumber lain, yaitu kitab suci. 
  3. Rasio tidak hanya sebagai penemu kesan (pengetahuan dan kebenaran) melainkan kebenaran/pengetahuan hanyalah yang diperoleh melalui rasio tersebut. 
Untuk menemukan basis yang kuat bagi filsafat, Descartes meragukan (lebih dahulu) segala sesuatu yang dapat diragukan. Mula-mula ia mencoba meragukan semua yang dapat diindera, objek yang sebenarnya tidak mungkin diragukan. Inilah langkah pertama metode cogito tersebut. Dia meragukan adanya badannya sendiri. Keraguan itu menjadi mungkin karena pada pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi, dan juga pada pengalaman dengan roh halus ada yang sebenarnya itu tidak jelas. Pada keempat keadaan itu seseorang dapat mengalami sesuatu seolah-olah dalam keadaan yang sesungguhnya. Di dalam mimpi seolah-olah seseorang mengalami sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, persis seperti tidak mimpi (jaga). Begitu pula pada pengalaman halusinasi, ilusi, dan kenyataan gaib. Tidak ada batas yang tegas antara mimpi dan jaga. Oleh karena itu, Descartes berkata, “Aku dapat meragukan bahwa aku duduk di sini dalam pakaian siap untuk pergi ke luar; ya, aku dapat meragukan itu karena kadang-kadang aku bermimpi persis seperti itu, padahal aku ada di tempat tidur, sedang bermimpi”. Tidak ada batas yang tegas antara mimpi (sedang mimpi) dan jaga. Tatkala bermimpi, rasa-rasanya seperti bukan mimpi. Siapa yang dapat menjamin kejadian-kejadian waktu jaga (yang kita katakan sebagai jaga ini) sebagaimana kita alami adalah kejadian-kejadian yang sebenarnya. 
Aku yang sedang ragu itu disebabkan oleh aku berpikir. Kalau begitu, aku berpikir pasti ada dan benar. Jika aku berpikir ada, berarti aku ada sebab yang berpikir itu aku. Cogito ergo sum, aku berpikir, jadi aku ada. Sekarang Descartes telah menemukan dasar (basis) bagi filsafatnya. Basis itu bukan filsafat Plato, bukan filsafat Abad Pertengahan, bukan agama atau yang lainnya. Fondasi itu ialah Aku yang berpikir. Pemikiranku itulah yang pantas dijadikan dasar filsafat karena aku yang berpikir itulah yang benar-benar ada, tidak diragukan, bukan kamu atau pikiranmu. Di sini kelihatanlah sifat subjektif, individualis, dan humanis dalam filsafat Descartes. Sifat-sifat inilah, nantinya, yang mendorong perkembangan filsafat pada Abad Modern 
b. Spinoza (1632-1677) 
Nama lengkapnya ialah Baruch de Spinoza, dalam bahasa Latin disebut Benedictus dan dalam bahasa Portugis dengan Bento. Spinoza lahir di Amesterdam, Belanda tahun 1632 dan wafat tahun 1677 di Den Haag. Sebagai filsuf pengikut rasionalisme, Spinoza sangat tertarik kepada Descartes. Kecuali ahli dalam bidang filsafat, filsuf ini juga ahli dalam bidang politik, teologia dan etika. 
Spinoza mencita-citakan suatu sistem berdasarkan rasionalisme, untuk mencapai kebahagiaan bagi manusia. Menurutnya aturan dan hukum yang terdapat pada semua hal tidak lain dari aturan dan hukum yang terdapat pada idea. Sebagai dasar segala-galanya harus diterima sesuatu yang tak terdasarkan kepada yang lain, jadi yang mutlak. 
Berbeda dengan Descartes, sesuai dengan semboyannya “Deus sen Natura” (Tuhan atau alam), Spinoza adalah seorang rasionalis yang mistik. Menurut Spinoza, seluruh kenyataan merupakan kesatuan, dan kesatuan sebagai satu-satunya substansi sama dengan Tuhan atau alam. Segala sesuatu termuat dalam Tuhan-alam. Tuhan sama dengan aturan kosmos, Kehendak Tuhan berarti sama dengan kehendak alam, sehingga hukum-hukum alam sama dengan kehen­dak Tuhan. 
c. Leibniz (1646-1716) 
Gottfried Eilhelm von Leibniz adalah filsuf Jerman, pusat metafisikanya adalah idea tentang substansi yang dikembangkan dalam konsep monad. Metafisika Leibniz sama memusatkan perhatian pada substansi, yaitu prinsip akal yang mencukupi, yang secara sederhana dapat dirumuskan “sesuatu harus mempunyai alasan”. Bahkan Tuhan harus mempunyai alasan untuk setiap yang diciptakan-Nya. 
Leibniz berpendapat bahwa substansi itu banyak, ia menyebut substansi-substansi itu monad.Setiap monad berbeda satu dari yang lain, dan Tuhan (sesuatu yang supermonad dan satu-satunya monad yang tidak dicipta) adalah pencipta monad-monad itu. 
2. Empirisme 
Istilah empirisme berasal dari kata empiri yang berarti indra atau alat indra, dan ditambah akhiran isme, sebagai suatu aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan/kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan diperoleh/bersumber dari panca indra manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia. 
Untuk memahami inti filsafat empirisme perlu memahami dulu dua ciri pokok empirisme, yaitu mengenai teori makna dan teori tentang pengetahuan. 
Teori makna pada aliran empirisme biasanya dinyatakan sebagai teori tentang asal pengetahuan, yaitu asal-usul idea atau konsep. Pada Abad Pertengahan teori ini diringkaskan dalam rumus Nihil est in intellectu quod non prius fuerit in sensu (tidak ada sesuatu di dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman). Sebenarnya pernyataan ini merupakan tesis Locke yang terdapat di dalam bukunya, An Essay Concerning Human Understanding, yang dikeluarkannya tatkala ia menentang ajaran idea bawaan (innate idea) pada orang-orang rasionalis. Jiwa (mind) itu, tatkala orang dilahirkan, keadaannya kosong, laksana kertas putih atau tabula rasa, yang belum ada tulisan di atasnya, dan setiap idea yang diperolehnya mestilah datang melalui pengalaman; yang dimaksud dengan pengalaman di sini ialah pengalaman inderawi. Atau pengetahuan itu datang dari obervasi yang kita lakukan terhadap jiwa (mind) kita sendiri dengan alat yang oleh Locke disebut inner sense (pengindera dalam). 
Teori yang kedua, yaitu teori pengetahuan, dapat diringkaskan sebagai berikut. Menurut orang rasionalis ada beberapa kebenaran umum seperti “setiap kejadian tentu mempunyai sebab”, dasar-dasar matematika, dan beberapa prinsip dasar etika, dan kebenaran-kebenaran itu benar dengan sendirinya yang dikenal dengan istilah kebenaran a priori yang diperoleh lewat intuisi rasional. Empirisme menolak pendapat itu. Tidak ada kemampuan intuisi rasional itu. Semua kebenaran yang disebut tadi adalah kebenaran yang diperoleh lewat observasi jadi ia kebenaran a posteriori. 
Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1210-1292) dan Thomas Hobbes (1588-1679), namun mengalami sistimatisasi pada dua tokoh berikutnya, yaitu John Locke dan David Hume. 
Tokoh Empirisme dan Pemikirannya 
a. Francis Bacon (1210-1292) 
Menurut Francis Bacon bahwa pengetahuan yang sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima orang melalui persentuhan inderawi dengan dunia fakta. Pengalaman merupakan sumber pengetahuan yang sejati. Pengetahuan haruslah dicapai dengan induksi. Jadi pemikiran Francis Bacon ini sangat bertentangan dengan pemikiran para filosof aliran rasionalis. 
b. Thomas Hobbes (1588-1679) 
Thomas Hobbes berpendapat bahwa pengalaman inderawi sebagai permulaan segala pengenalan. Hanya sesuatu yang dapat disentuh dengan inderalah yang merupakan kebenaran. Pengetahuan intelektual (rasio) tidak lain hanyalah merupakan penggabungan data-data inderawi belaka. 
c. John Locke (1632-1704) 
John Locke adalah filsuf Inggris. la lahir di Wrington, Somersetshire, pada tahun 1632. Tahun 1647-1652 ia belajar di Westminster. Tahun 1652 ia memasuki Universitas Oxford, mempelajari agama Kristen. Filsafat Locke dapat dikatakan antimetafisika. Ia menerima keraguan sementara yang diajarkan oleh Descartes, tetapi ia menolak intuisi yang digunakan oleh Descartes. Ia juga menolak metode deduktif Descartes dan menggantinya dengan generalisasi berdasarkan pengalaman; Jadi, induksi. Bahkan Locke menolak juga akal (reason). la hanya menerima pemikiran matematis yang pasti dan cara penarikan dengan metode induksi. 
Buku Locke, Essay Concerning Human Understanding (1689), ditulis berdasarkan satu premis, yaitu semua pengetahnan datang dari pengalaman. Ini berarti tidak ada yang dapat dijadikan idea atau konsep tentang sesuatu yang berada di belakang pengalaman, tidak ada idea yang diturunkan seperti yang diajarkan oleh Plato. Dengan kata lain, Locke menolak adanya innate idea; termasuk apa yang diajarkan oleh Descartes, Clear and distinc idea. Adequate idea dari Spinoza, truth of reason dari Leibniz, semuanya ditolaknya. Yang innate (bawaan) itu tidak ada. 
Segala sesuatu berasal dari pengalaman indrawi, bukan budi (otak). Otak tak lebih dari sehelai kertas yang masih putih, baru melalui pengalamanlah kertas itu terisi (konsep tabula rasa). Dengan demikian, John Locke menyamakan pengalaman batiniah (yang bersumber dari akal budi) dengan penga­laman lahiriah (yang bersumber dari empiris). Ungkapan yang sering digunakan ialah: Exprience, in that all knowledge is founded (Pengalaman, semua pengetahuan berdasarkan pengalaman). 
d. David Hume (1711-1776) 
Tokoh lain ialah David Hume (1711-1776) pelanjut kajian Locke. Home lahir di Edinburg, Scotland tahun 1711 dan wafat tahun 1776 di kota yang sama. Hume seorang yang menguasai hukum, sastra dan filsafat. Pemikiran empirisnya terakumulasi dalam ungkapannya yang sangat singkat, yaitu: I never catch my self at any time with out a perception (Saya selalu memiliki persepsi pada setiap pengalaman saya) 
Dari ungkapan ini Hume menyampaikan bahwa, “seluruh pemikiran dan pengalaman tersusun dari rangkaian-rangkaian kesan (impression) dan impression inilah sebagai bahan dari ilmu. 
3. Kritisisme 
Pendirian aliran rasionalisme dan empirisme sangat bertolak belakang. Rasionalisme berpendirian bahwa rasiolah sumber pengenalan atau pengetahuan, sedang empirisme sebaliknya berpendirian bahwa pengalamanlah yang menjadi sumber tersebut. 
Aliran ini mencoba untuk memadukan perbedaan pendapat kedua aliran tersebut dengan tokohnya adalah Immanuel Kant (1724-1804). Ia mencoba mengembangkan suatu sintesis atas dua pendekatan yang bertentangan ini. Kant berpendapat bahwa masing-masing pendekatan benar separuh, dan salah separuh. Benarlah bahwa pengetahuan kita tentang dunia berasal dari indera kita, namun dalam akal kita ada faktor-faktor yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar kita. Ada kondisi-kondisi tertentu dalam manusia yang ikut menentukan konsepsi manusia tentang dunia. 
Untuk menghilangkan pertentangan di antara rasionalisme dan empirisme, Kant mengadakan pemaduan di antara dua aliran ini dalam hal perumusan kebenaran. Dalam kaitan ini Kant mengatakan: 
Pengetahuan merupakan hasil kerjasama dua unsur; pengalaman dan kearifan akal budi. Pengalaman inderawi merupakan unsur a posteriori (yang datang kemudian), sedangkan akal budi meru­pakan unsur a priori (yang datang lebih dahulu). 
Kant mengkritik empirisme dan rasionalisme, karena keduanya hanya mementingkan satu dari dua unsur ini, sehingga hasilnya setiap kali berat sebelah. Padahal, katanya, pengetahuan selalu merupakan sintesis. Untuk menekan pertentangan itu Kant mengadakan tiga pembedaan perumusan kebenaran, yaitu akal budi (verstand), rasio (vernunft) dan pengalaman inderawi. 
4. Idealisme 
Terminologi idealisme berasal dari kata idea yang berarti gambaran atau pemikiran, dan isme yang berarti paham atau pendapat. Idealisme ialah suatu pandangan dunia atau metafisika yang menyatakan bahwa realitas dasar terdiri atas, atau sangat erat hubungannya dengan ide, pikiran atau jiwa. Atau bisa disebut dengan aliran filsafat yang menjelaskan bahwa kebenaran/pengetahuan sesungguhnya bukan bersumber dari rasio atau empiris, melainkan dari gambaran manusia tentang suatu pengamatan. 
Tokoh Idealisme dan Pemikirannya 
a. J. G. Fichte (1762-1914) 
Fichte adalah tokoh idealisme subyektif, yaitu pandangan bahwa sumber pengenalan/pengetahuan bukanlah rasio teoritis atau praktis seperti kata Immanuel Kant, melainkan pada aktivitas ego. Pemikirannya didasarkan pada konsep ego mutlak; yang menemukan dan meneruskan pengertian-pengertian tentang obyek; ego tidak hanya se­bagai “penemu”, melainkan kata Fichte sekaligus sebagai yang “menciptakan benda-benda” (objek). Dengan demikian, peran manusia sebagai subjek sangat dominan di dalam menggagaskan sesuatu. 
b. F. W. J. Schelling (1775-1854) 
Schelling adalah tokoh idealisme obyektif sebagai kebalikan dari idealisme subyektif. Menurut Schelling, kebenaran gambaran tentang dunia tidaklah ditentukan oleh subjek (ego), melainkan oleh objek pengamatan, yaitu bagaimana objek itu menampilkan dirinya, atau bagaimana objek menyadarkan subjek. Apabila aku (ego) menentukan kehendak, hal itu diharuskan oleh kemestian yang mendahului kehendak, yaitu seluruh objek pengamatan kecuali sebagai pemberi kehendak, juga sebagai pemberi arah bahkan mampu merubah kehendak. 
c. Hegel (1770-1831) 
Hegel adalah tokoh idealisme mutlak, yang sangat berperan bagi penyemburnaan idealisme. Hegel berhasil menampilkan idealisme yang terpadu setelah dikoyak-koyak oleh Fichte dan Schelling. Apabila Fichte bersifat subjektif dan Schelling bersifat objektif, maka Hegel melihat secara keseluruhan (totalitas). 
Membuktikan kebenarannya yang mutlak itu, Hegel menyusun alur pikir yang disebut dengan dialektika, yaitu tesis, antitesis dan sintesis. 
5. Materialisme 
Berasal dari “materi” yang berarti benda. Materialisme adalah aliran filsafat yang berpendapat bahwa, kebenaran tidaklah ditentukan oleh gambaran, melainkan oleh benda dan seluruh kenyataan yang ada dirumuskan dan ditentukan oleh benda. Aliran ini memandang bahwa realitas seluruhnya adalah materi belaka. 
Tokoh Materialisme dan Pemikirannya 
a. Ludwig Feuerbach (1804-1872) 
Menurutnya hanya alamlah yang ada. Manusia adalah alamiah juga seperti halnya benda seperti kayu dan batu. Memang orang materialis tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda seperti kayu dan batu, tetapi materialisme mengatakan bahwa pada akhirnya/pada prinsipnya/pada dasarnya manusia hanyalah sesuatu yang material; dengan kata lain materi, betul-betul materi. Menurut bentuknya memang manusia lebih unggul ketimbang sapi, batu, atau pohon, tetapi pada eksistensinya manusia sama saja dengan sapi. 
b. Karl Marx (1818-1883) 
Pokok pemikiran Marx diambil dari ajaran Filsafat Hegel dan Filsafat Feurbach. Dari Hegel diambil metode dialektikanya dan mengenai sejarah, sedang dari Feurbach diambil teori materialismenya. Ajaran filsafat Karl Marx disebut juga materialisme dialektika, dan disebut juga materialisme historis. Disebut sebagai materialisme dialektika karena peristiwa kehidupan yang didominasi oleh keadaan ekonomis yang materiil itu berjalan melalui proses dialektika: tese, antitese dan sintese. Disebut materialisme historis, karena menurut teorinya, bahwa arah yang ditempuh sejarah sama sekali ditentukan oleh perkembangan sarana-sarana produksi yang materiil. 
6. Positivisme 
Istilah positivisme berasal dari kata “positive” yang berarti “jelas dan bisa digambarkan serta bermanfaat”. Positivisme adalah aliran filsafat yang berpangkal dari fakta yang positif. Sesuatu di luar fakta atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan filsafat dan ilmu pengetahuan. 
Menurut aliran ini, pemikiran manusia mengalami perkembangan, mulai dari yang sangat sederhana, sampai yang modern, yaitu positif. Pada tahap ini manusia hanya mempercayai yang riil saja berdasarkan ilmu positif (science positive) yang didasarkan pada pengamatan (observasi) dan percobaan langsung (eksperimentasi). Melalui dua pembuktian ini, segala yang berbau metafisis dibuang, karena tidak bisa dibuktikan dengan dua pendekatan tersebut. 
Tokoh aliran ini adalah Auguste Comte (1798-1857), ia berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera akan dapat dikoreksi lewat eksperimen. 
Jadi pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri. Ia hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme yang bekerja sama. Dengan kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah dengan memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran. Jadi, pada dasarnya positivisme itu sama dengan empirisme plus rasionalisme. 
7. Fenomenologi 
Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani “phainomenon” yang mengandung tiga pengertian saling terkait, yaitu “yang langsung nampak, sesuatu yang langsung menampakkan diri tetapi masih terselubung dan proses penampakkan”. Berpijak pada tiga pengertian di atas, maka fenomenologi menurut istilah yang dikembangkan ialah “filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran merupakan hasil deskripsi intuitif manusia terhadap suatu objek sesuai dengan penampakan diri (fenomena) objek tersebut”. 
Jadi aliran ini berbeda dengan rasionalisme (subjektif), empirisme (objektif) dan idealisme (idealistik). Maka fenomenologi menggabungkan di antara subjek (manusia), objek (yang diamati) dengan cara pengamatan secara intuitif. 
Tokoh Fenomenologi dan Pemikirannya 
a. Edmund Husserl (1859-1938) 
Beliau adalah filsuf Jerman dan pendiri Fenomenologi. Pemikiran terpentingnya adalah:
  1. Teori kebenaran; menurut Husserl kebenaran haruslah digabung di antara subjek dengan obyek. Objek diberi kesempatan memperkenalkan dirinya kepada subjek yang mengamati, sesuai dengan semboyan zurukh zu den schen selbs (kembalilah kepada benda-benda sendiri). 
  2. Tiga jenis reduksi; agar intuisi dapat menangkap gejala-gejala di atas secara benar, maka manusia harus melepaskan diri dari pengalaman-pengalaman dan gambaran sebelumnya yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Caranya ialah de­ngan tiga jenis reduksi, yaitu: reduksi fenomenologis, reduksi eiditis, reduksi fenomenologi transendental. 
b. Max Scheler (1874-1928) 
Max Scheler merupakan pelanjut tradisi fenomenologi. Pemikiran eksklusif Scheler dibanding fenomenolog (filsuf fenomenologi) lainnya ialah tentang agama. Menurutnya, agama dan filsafat merupakan dua entitas otonom sesuai dengan posisinya. Kendati memiliki otonomi eksklusif, namun di antara keduanya memiliki keterikatan. Misalnya, dengan memahami metafisis dalam filsafat tidak serta merta dapat memahami konsep metafisika agama, karena keduanya memiliki aktus kodrati yang berbeda. Sebab itu kebenaran agama hanya dapat diterima atas dasar kepercayaan religius, bukan ke­benaran metafisis-filosofis. 
Di dalam upaya menemukan kepercayaan religius, Scheler menggunakan pendekatan fenomenologi. Melalui pendekatan fenomenologi ini, menurut Scheler, dapat ditampilkan ciri dasar aktus religius, yaitu bahwa aktus itu mempunyai intensi yang transendental dunia (yang ilahi), dan yang ilahi ini menjadi dasar dari aktus religius. Dengan kata lain, aktus religius itu membutuhkan pemenuhan intensional dari dunia transenden. Aktus re­ligius membutuhkan suatu objek yang tak terbatas, yaitu yang ilahi. Oleh karena itu, kebutuhan akus religius hanya dapat terpenuhi oleh sesuatu yang diyakini subjek sebagai berasal dari Tuhan. 
8. Eksistensialisme 
Istilah eksistensialisme berasal dari kata eksistensi dari kata dasar exist. Kata exist itu sendiri adalah bahasa Latin yang artinya: ex; keluar dan sistare; berdiri. Jadi eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Secara umum eksistensialisme dimaksudkan sebagai aliran filsafat yang membicarakan keberadaan segala sesuatu, termasuk manusia. Permasalahannya ialah, siapakah yang benar-benar berada (bereksistensi); apakah manusia, atau Tuhan atau kedua-duanya?
Tokoh Eksistensialisme dan Pemikirannya 
a. Martin Heidegger (1889-1976) 
Pemikiran Heidegger ialah mengenai ada/realitas dan waktu (sein und zeit), yaitu apakah ada itu konkrit atau tidak. Persoalan yang menjadi sorotan utamanya ialah pemaknaan “Aku ada”. Menurutnya, manusia adalah suatu makhluk yang terlempar di dunia ini tanpa persetujuannya. Ia seolah berada di jurang ketiadaan (nothingness) yang sangat dalam yang menyebabkannya gelisah. Hal ini menurutnya, merupakan kelemahan manusia dan sebagai dorongan agar ia dapat memahami akan eksistensinya. Sebagai puncak eksistensi, manusia berbeda dengan benda-benda sekitarnya. Namun manusia mempunyai kecenderungan untuk menjadi suatu benda. 
b. Soren Kierkegard (1813-1855) 
Kierkegard dipandang sebagai tokoh eksistensialisme teis, yaitu berupaya mengangkat eksistensi manusia tanpa harus membuang jauh Tuhan dari kehidupan manusia. Ungkapannya ialah: “Saya menjadi sebagaimana saya ada”. Melalui ungkapan ini Kierkegard menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berkeistensi yang berhadapan dengan eksistensi Tuhan. Hanya manusia yang bereksistensi bukan berarti yang lain tidak ada. Hanya saja tingkat eksistensi dunia, binatang-binatang dan makhluk lainnya lebih rendah, karena mereka hanya ada, tidak mengada. 
9. Pragmatisme 
Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan, dan juga manfaat. Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah, apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata. Oleh sebab itu kebenaran sifatnya menjadi relatif tidak mutlak. 
Tokoh Pragmatisme dan Pemikirannya 
a. William James (1842-1910) 
Sebagai pendiri pragmatisme, pemikiran terpentingnya ialah mengenai makna pragmatisme. Pragmatisme merupakan filsafat ala Amerika yang berciri pragmatis. Orang Amerika tidak puas dengan filsafat teoritis yang bertanya “apa itu”, tetapi memasuki filsafat praktis yang bertanya “apa gunanya”. Sistematisasi dari jenis kedua inilah yang melahirkan filsafat pragma­tisme. Oleh karena itu, dikaitkan dengan aliran rasionalisme dan empirisme, pragmatisme berada di antara dua aliran tersebut. 
Pandangan filsafatnya, diantaranya menyatakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri lepas dari akal yang mengenal. Sebab pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena dalam praktek, apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. 
Ukuran segala sesuatu ialah manfaat yang praktis. Pandangan ini mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk agama dan moral. Dalam kaitan dengan agama, James tidak bertanya “kebenaran agama” yang ia tanya ialah “apakah hasilnya agama menjadi pedoman hidup saya”. Jadi, manusia bebas memilih di antara percaya dan tidak percaya, sesuai dengan pertimbangan fragmatisnya. Begitu juga dalam bidang moral, ukuran baik buruk ditentukan oleh adakah manfaat dari suatu perbuatan; jika ada dipandang baik, dan jika tidak dipandang buruk. 
b. John Dewey (1859-1952) 
Sebagai pengikut filsafat pragmatisme, John Dewey menyatakan bahwa tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata. Filsafat tidak boleh larut dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang kurang praktis, tidak ada faedahnya. Oleh karena itu, filsafat harus berpijak pada pengalaman dan mengolahnya secara praktis. 
Menurutnya tak ada sesuatu yang tetap. Manusia senantiasa bergerak dan berubah. Jika mengalami kesulitan, segera berpikir untuk mengatasi kesulitan itu. Maka dari itu berpikir tidak lain daripada alat untuk bertindak. Kebenaran dari pengertian dapat ditinjau dari berhasil tidaknya mempengaruhi kenyataan. Satu-satunya cara yang dapat dipercaya untuk mengatur pengalaman dan untuk mengetahui artinya yang sebenarnya adalah metoda induktif. 
PENUTUP 
A. Kesimpulan 
Filsafat Modern merupakan pembagian dalam sejarah filsafat barat yang menjadi tanda berakhirnya era skolatisisme. Tidak mudah untuk membuat suatu batas yang tegas antara periode Renaissance dan periode modern. Sebagian orang menganggap bahwa periode modern hanyalah perluasan periode Renaissance. 
Zaman modern sangat dinanti-nantikan oleh banyak pemikir manakala mereka mengingat zaman kuno ketika peradaban begitu bebas, pemikiran tidak dikekang oleh tekanan-tekanan di luar dirinya. Filsafat abad modern pada pokoknya dimulai dengan tiga aliran, yaitu: 
  1. Aliran Rasionalisme dengan tokohnya Rene Descartes (1596-1650 M). 
  2. Aliran Empirisme dengan tokohnya Francis Bacon (1210-1292) 
  3. Aliran Kritisisme dengan tokohnya Immanuel Kant (1724-1804 M). 
Selain aliran itu, juga muncul aliran-aliran besar beserta tokoh dan pemikirannya yangikut berperan mengisi lembaran filsafat modern, antara lain yaitu idealisme, materialisme,positivisme, fenomenologi, eksistensialisme dan pragmatisme. 
PUSTAKA 
Hamersma, Harry. 1984. Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern. Jakarta: PT Gramedia. 
Tampubolon, Raffles D. 2005. Logika & Filsafat. Medan; Universitas HKBP Nommensen Press. 
https://muhfathurrohman.wordpress.com/2012/10/08/perkembangan-ilmu-pengetahuan-pada-era-modern/ (diakses tanggal 22 Juni 2018). 
https://afidburhanuddin.wordpress.com/2014/06/07/sejarah-perkembangan-ilmu-pada-masa-modern-14/, (diakses tanggal 22 Juni 2018).

Penyelesaian Soal Ketidakpastian Heisenberg

1. Tentukanlah nilai kemungkinan terkecil posisi ketidakpastian sebuah elektron yang bergerak dengan kecepatan 3 x 107 m/s, jika nilai m₀= 9,11 x 10-31 kg dan ћ = 1,054 x10-34 J.s ? 

SOLUSI
Momentum maksimum yang dimiliki oleh elektron dinyatakan dengan :

Dari hubungan ketidakpastian Δp.Δx ≥ ћ , ketidakpastian minimum dari posisi diberikan oleh:

Δx = 3,84 x 10-12 m
2. Periode rata-rata elektron yang mengelilingi inti pada sebuah atom adalah 10-8 s, tentukanlah ketidakpastian frekuensi energi yang dipancarkan dalam bentuk cahaya (ambil nilai ћ = 1,054 x10-34 J.s dan h = 6,63 x 10-34 J.s) ?

SOLUSI
Δt = 10-8 s

Dari persamaan ketidakpastian ΔE.Δt ≥ ћ, ketidakpastian terkecil enegi diberikan oleh :

Ketidakpastian frekuensi diberikan oleh :

E = h𝜈
atau
ΔE = h.Δ𝜈

Prinsip Ketidakpastian Heisenberg

Pada periode 1924-1925, Werner Heisenberg, anak seorang Profesor Greek dan Classic pada Universitas Munich, menemukan teori lengkap mekanika kuantum yang disebut mekanika matriks. 
Teori ini mengatasi beberapa masalah pada teori atom Bohr, seperti postulat orbit unobservable elektron. Formulasi Heisenberg pada prinsipnya didasarkan pada pengukuran besaran-besaran seperti probabilitas transisi lompatan elektron antara keadaan-keadaan kuantum. 
Oleh karena probabilitas transisi tergantung pada keadaan awal dan akhir, mekanika Heisenberg menggunakan variabel-variabel terdata dengan dua subscript.

sumber: unacademy
Walaupun pada mulanya Heisenberg mempresentasikan teorinya dalam bentuk aljabar yang tidak terkomunikasikan (rumit), Max Born segera menyadari bahwa teori tersebut lebih elegan dideskripsikan dalam bentuk matriks. Akibatnya, Born, Heisenberg, dan Pascual Jordan segera mencari jalan keluar yakni mengembangkan teori yang lebih komprehensif tentang matriks mekanik. 
Teori ini sesungguhnya merupakan hadiah untuk ahli fisika, tetapi masih merupakan kesulitan besar karena harus melibatkan matematika tingkat kerumitan tinggi dan sangat melelahkan para ahli fisika (physicists). 
Walau demikian, kita akan membahas penemuan brilian Heisenberg yang lain, yakni prinsip ketidakpastian, yang dipublikasikan pada tahun 1927. Dalam papernya, Heisenberg memperkenalkan ide bahwa adalah tidak mungkin menentukan secara simultan dengan presisi yang luar biasa untuk posisi dan momentum suatu partikel. 
Dengan perkataan lain, dapat dinyatakan prinsip ketidakpastian Heisenberg sebagai berikut:

Jika pengukuran posisi dengan ketelitian ᐃx dan secara simultan pengukuran momentum dengan ketelitian ᐃp, maka produk kedua ketidakpastian tidak akan lebih kecil daripada , yakni:

p.x ≥ ћ  
Dalam tiga dimensi hubungan ketidakpastian :
px.x ≥ ћ
py.y ≥ ћ
pz.z ≥ ћ
Hubungan antara Ketidakpastian Energi dengan Waktu
Hubungan ketidakpastian enegi kinetik E dari sebuah partikel yang bergerak dengan waktu t dinyatakan dengan :
E.t ≥ ћ
dengan :

E : ketidakpastian energi dan
t : ketidakpastian waktu

Prinsip dari ketidakpastian dapat juga di aplikasikan dalam momentum anguler L dari partikel dan posisi sudut anguler ϕ yang berbanding terbalik dengan L
Hubungannya dinyatakan dengan :
L.ϕ  ≥ ћ
dengan :

L : ketidakpastian momentum sudut
ϕ : ketidakpastian posisi sudut

Catatan :
Dalam pernyataan hubungan ketidakpastian tidak hanya didefenisikan ᐃx dan ᐃp, tetapi besaran ini bisa dinyatakan dengan berbagai variasi . Jika pengukuran x dan ᐃx dan ᐃp dinyatakan sebagai deviasi rata-rata (rms) suatu nilai, ini dapat di tunjukkan nilai minimum produk ketidakpastian di berikan oleh :
Dalam penyelesaian masalah untuk satu dimensi (dalam arah x) nilai terkecil dari perkalian dapat dinyatakan dengan :
x.px  =  ћ


SOAL
Laju sebuah elektron diukur sebesar 5000 m/s dengan ketelitian 0,003%. Tentukanlah ketidakpastian posisi elektron tersebut?
SOLUSI
Momentum elektron:
p = mv
p = (9,10 x 10-31 kg)(5,00 x 103 m/s)
p = 4,55 x 10-27 kg m/s
Karena ketidakpastian momentum adalah 0,003 % dari nilai momentum, maka:
p = 0,00003 (4,55 x 10-27) = 1,37 x 10-31 kg m/s.
Dari persamaan p.x ≥ ћ atau

x = 0,00077 m = 0,770 mm

Solusi Soal Fisika Modern Edisi ke-3 (Kenneth S. Krane)

Fisika Modern merupakan salah satu mata kuliah wajib yang pastinya dijumpai baik oleh mahasiswa jurusan Fisika maupun mahasiswa jurusan Pendidikan Fisika di perguruan tinggi. Mata kuliah ini merupakan salah satu mata kuliah yang sangat esensial karena peranannya yang sangat luas misalnya merupakan salah satu prasyarat untuk mata kuliah Fisika Kuantum, Fisika Zat Padat, Fisika Inti, dan mata kuliah lanjutan lainnya. Oleh karena peranannya yang sangat luas, maka mempelajari Fisika Modern sangat mutlak terkhusus akan seluruh konsep-konsep di dalamnya.

Fisika Modern berawal dari abad ke-20, yang ditandai oleh beberapa tokoh-tokoh kenamaannya, sebut saja Albert Einstein, Erwin Schrodinger, Max Planck, Niels Bohr, dan tokoh-tokoh lainnya yang banyak memberi sumbangsih dalam membentuk Fisika Modern hingga sampai sekarang. Fisika Modern pada dasarnya mempelajari partikel dan energi dalam ranah yang mikroskopik, berbeda dengan lingkup Fisika Klasik. Salah satu yang membedakan Fisika Modern dengan Fisika Klasik yaitu bahwa dalam Fisika Modern semua hanyalah kemungkinan (probability), sehingga tidak ada yang benar-benar pasti sekalipun posisi suatu partikel tidaklah dapat dikatakan bahwa posisinya sudah tepat disini, karena jika demikian maka sudah pasti salah secara teori menurut Fisika Modern.
Oleh karena itu, pada postingan kali ini, saya ingin berbagi ebook Instructor Solutions Manual dari buku Modern Physics, 3rd Edition karya Kenneth S. Krane. Ebook ini berisi solusi-solusi dari soal-soal dalam buku Fisika Modern karya Kenneth S. Krane, dan menggunakan bahasa Inggris dalam penjelasannya, lumayan untuk mengasah kemampuan bahasa Inggris teman-teman. Buku Modern Physics, 3rd Edition karya Kenneth S. Krane merupakan salah satu buku yang sering digunakan oleh mahasiswa tingkat sarjana dalam perkuliahan ataupun sebagai sumber referensi. Bagi yang ingin men-download ebook ini, silahkan klik link di bawah. Terimakasih.

Kunci Jawaban Soal Fisika UAS Kelas X

Pada postingan sebelumnya yaitu Soal UAS Fisika Kelas X, telah saya posting beberapa contoh soal ujian akhir semester untuk bidang studi fisika. Nah, pada kesempatan kali ini saya ingin membagikan kunci jawaban dari soal tersebut. Tujuannya agar adek-adek tahu sudah sejauh mana kemampuan adaek-adek dalam menjawab soal tersebut serta letak kesalahannya untuk segera diperbaiki. Langsung saja di bawah.


KUNCI JAWABAN UAS FISIKA KELAS X MIPA
1.   D
6.   E
11.  B
16.   E
21.   B
2.   B
7.   C
12.   E
17.   C
22.   B
3.   C
8.   B
13.   A
18.   D
23.   A
4.   C
9.   A
14.   B
19.   A
24.   E
5.   D
10.   C
15.   E
20.   B
25.   E

Jika ada pertanyaan atau saran, silahkan sampaikan di kolom komentar di bawah. Terimakasih.

Soal UAS Fisika Kelas X dan Kunci Jawaban

Berikut ini adalah contoh soal UAS (Ujian Akhir Semester) I (Gasal) untuk kelas X Mapel Fisika sekaligus kunci jawaban sebagai bahan untuk berlatih dalam menghadapi ujian. Soal ini mencakup 6 bab yang terdiri dari hakikat ilmu fisika dan keselamatan dalam laboratorium, pengukuran, vektor, gerak lurus, gerak parabola, dan gerak melingkar sesuai dengan K-13 revisi 2016. Selamat mengerjakan.


Mata Pelajaran : Fisika
Hari / Tanggal : Jumat, 07 November 2018
Kelas / Program : X / MIPA
Waktu : 60 Menit 

PILIHLAH SATU JAWABAN YANG PALING BENAR! 

1. Berikut ini yang diperkenankan untuk dilakukan di dalam laboratorium adalah … 
A. Membawa makanan 
B. Bermain-main 
C. Membawa minuman 
D. Menggunakan jas lab 
E. Berlari-larian 
2. Besaran-besaran berikut yang termasuk besaran pokok adalah …. 
A. Panjang, kuat penerangan, suhu 
B. Massa, jumlah zat, kuat arus listrik 
C. Berat, suhu, waktu 
D. Panjang, energi, waktu 
E. Massa, luas, jumlah zat 
3. Kelompok berikut ini seluruhnya terdiri dari besaran turunan, kecuali .… 
A. Luas, gaya, energi 
B. Gaya, daya, usaha 
C. Usaha, kuat arus, percepatan 
D. Volume, massa jenis, kecepatan 
E. Momentum, impuls, tekanan 
4. Pada pengukuran panjang benda, didapat hasil pengukurannya 0,04070 meter. Hasil pengukuran tersebut memiliki angka penting sejumlah … angka penting. 
A. Dua 
B. Tiga 
C. Empat 
D. Lima 
E. Enam 
5. Hasil pengukuran luas pelat tipis yang memiliki panjang 1,25 cm dan lebar 0,15 cm menurut aturan angka penting adalah …. 
A. 0,1875 cm2 
B. 0,188 cm2 
C. 0,187 cm2 
D. 0,19 cm2 
E. 0,20 cm2 
6. Sebuah pusat listrik tenaga uap menggunakan bahan bakar batubara dan mampu mensuplai daya 206.000.000 W. Daya tersebut jika ditulis dalam notasi ilmiah adalah .… 
A. 206 x 108 W 
B. 20,6 x 105 W 
C. 2,06 x 104 W 
D. 2,06 x 106 W 
E. 2,06 x 108 W 
7. Tekanan merupakan gaya per satuan luas. Dimensi dari tekanan adalah … 
A. [MLT2
B. [ML-1T2
C. [ML-1T-2
D. [ML-2T-1
E. [ML2T-1
8. Diantara kelompok besaran dibawah ini yang merupakan kelompok besaran vektor adalah … 
A. panjang, gaya, percepatan, kelajuan. 
B. kecepatan, berat, percepatan 
C. momentum, jarak, suhu 
D. luas, volume, massa jenis 
E. Impuls, waktu, massa, jarak 
9. Berikut ini besaran-besaran vektor, kecuali…. 
A. Usaha 
B. Gaya 
C. Percepatan 
D. Berat 
E. Perpindahan 
10. Dua buah gaya (setitik tangkap) saling tegak lurus seperti gambar di samping, besarnya masing – masing 12 N dan 5 N. Besar resultan kedua vektor tersebut adalah ….

A. 17 N 
B. 15 N 
C. 13 N 
D. 9 N 
E. 7 N 
11. Sebuah vektor gaya F = 20√3 N membentuk sudut 600 terhadap sumbu X. Besar komponen vektor pada sumbu Y adalah …. 
A. 60 N 
B. 30 N 
C. 10√6 N 
D. 20 N 
E. 10√3 N 
12. Diketahui besar vektor A = 5 satuan dan besar vektor B = 6 satuan. Kedua vektor membentuk sudut 600­. Besarnya hasil perkalian titik (skalar) antara kedua vektor adalah …. 
A. 30 satuan 
B. 11 satuan 
C. 15√3 satuan 
D. 30√2 satuan 
E. 15 satuan 
13. Perhatikan pernyataan berikut: 
(1) Perpindahan merupakan besaran vektor 
(2) Jarak merupakan besaran skalar 
(3) Perpindahan adalah perubahan posisi benda 
(4) Jarak adalah panjang lintasan gerak benda 
Pernyataan di atas yang benar adalah…. 
A. (1), (2), (3) dan (4) 
B. (1) (2) dan (3) 
C. (1) dan (3) 
D. (2) dan (4) 
E. (4) saja 
14. Santi berjalan 40 meter ke timur, kemudian 30 meter ke selatan. Perpindahan Santi dari posisi awal adalah … 
A. 10 m 
B. 50 m 
C. 70 m 
D. 100 m 
E. 1200 m 
15. Roni berlari mengelilingi lapangan berbentuk lingkaran dengan diameter 60 m. Ia berangkat dari titik A, dan akhirnya ia berhenti di titik A lagi setelah melakukan satu kali putaran selama 3,14 menit. Kecepatan rata-rata yang dialami Roni adalah …. 
A. 5,0 m/s 
B. 2,0 m/s 
C. 1,0 m/s 
D. 0,5 m/s 
E. 0 
16. Grafik s – t untuk benda yang bergerak lurus beraturan adalah …. 
17. Sebuah benda mula-mula dalam keadaan diam, kemudian bergerak dengan kecepatan 10 m/s menempuh jarak 10 meter. Percepatan benda yang dialami benda adalah …. 
A. 0,5 m/s2 
B. 2 m/s2 
C. 5 m/s2 
D. 10 m/s2 
E. 20 m/s2 
18. Sebuah lokomotif mula-mula diam kemudian bergerak dengan percepatan 2 m/s2. Waktu yang dibutuhkan lokomotif untuk menempuh jarak 900 m adalah …. 
A. 3 s 
B. 6 s 
C. 15 s 
D. 30 s 
E. 90 s 
19. Benda jatuh bebas adalah benda yang memiliki: 
(1) Kecepatan awal nol 
(2) Percepatannya = percepatan gravitasi 
(3) Gerak lurus berubah beraturan 
(4) Arah percepatannya ke pusat bumi 
Pernyataan di atas yang benar adalah …. 
A. (1), (2), (3) dan (4) 
B. (1), (2) dan (3) 
C. (1) dan (3) 
D. (2) dan (4) 
E. (4) saja 
20. Dari puncak sebuah menara setinggi 45 m dijatuhkan bebas sebuah batu. Jika percepatan gravitasi bumi 10 ms-2, kecepatan batu saat tepat menyentuh tanah adalah …. 
A. 25 ms-1 
B. 30 ms-1 
C. 35 ms-1 
D. 40 ms-1 
E. 45ms-1 
21. Sebuah peluru ditembakkan dengan kecepatan 60 ms-1 dan sudut elevasi 300. Ketinggian maksimum yang dapat dicapai peluru adalah…. 
A. 30 m 
B. 45 m 
C. 50 m 
D. 90 m 
E. 100 m 
22. Sebuah benda yang bergerak melingkar beraturan mempunyai …. 
A. Kecepatan yang konstan, kelajuan berubah 
B. Kelajuan yang konstan, kecepatan berubah 
C. Percepatan yang konstan, gaya berubah 
D. Sudut simpangan yang konstan 
E. Gaya dan kecepatan yang konstan 
23. Sebuah benda bergerak melingkar beraturan dengan kelajuan linier 3 ms-1 dan jari-jari lintasan 1,5 m. Frekuensi benda tersebut adalah …. 
A. 1/π Hz 
B. 1/2π Hz 
C. π Hz 
D. 1,2 π Hz 
E. 1,5 π Hz 
24. Sebuah mobil mainan bergerak melingkar beraturan dengan kecepatan linear 1,8 ms-1 dan jari-jari lintasan 90 cm. Percepatan sentripetal yang dialami mobil mainan tersebut adalah …. 
A. 1,6 ms-2 
B. 1,8 ms-2 
C. 2,4 ms-2 
D. 3,2 ms-2 
E. 3,6 ms-2 
25. Dua buah roda dihubungkan dengan rantai seperti gambar. Jari-jari roda A = 10 cm dan jari-jari roda B = 15 cm. Bila kecepatan linier roda B = 4 ms-1, maka kecepatan sudut roda A adalah….. 
A. 15 rad/s

B. 20 rad/s 
C. 25 rad/s 
D. 30 rad/s 
E. 40 rad/s 

Untuk melihat kunci jawaban dari soal di atas, silahkan Anda klik link berwarna biru berikut Kunci Jawaban Soal Fisika UAS Kelas X.

Jika ada pertanyaan atau saran, silahkan sampaikan di kolom komentar di bawah. Terimakasih.

Lembar Observasi Kegiatan Pembelajaran PPL

LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN PEMBELAJARAN 

Nama Mahasiswa : Febriman Zendrato (15100025)
Program Studi : Pendidikan Fisika
Sekolah Tempat Latihan : SMA Negeri 5 Medan
Kelas : X MIPA 7
Mata Pelajaran : Fisika
Hari/tanggal : Kamis, 09 Agustus 2018
Pukul : 12:15 WIB

A. PENDAHULUAN



1. Ketika masuk kelas, guru mengerjakan : 
Ketika masuk kelas, guru memberi salam kepada siswa. Kemudian mengecek kebersihan ruangan serta kerapian siswa dan posisi tempat duduk. Lalu berdoa sejenak bersama siswa. 

2. Guru membuka pelajaran dengan cara : 

Guru membuka pelajaran dengan cara membacakan tujuan pembelajaran dan memberikan motivasi kepada siswa serta memberikan gambaran materi yang akan dipelajari sesuai yang ada dalam kehidupan sehari-hari. 
3. Apakah cara membuka pelajaran tersebut sesuai dengan materi yang akan disajikan? Berikan alasan! 
Sesuai. Guru membuka pelajaran dengan terlebih dahulu memberi pengantar materi yang akan dipelajari yang mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, lalu memberikan poin-poin besarnya dan menghimbau siswa untuk duduk secara berkelompok.
4. Berapa menit tahap pendahuluan berlangsung?
Tahap pendahuluan berlangsung sekitar 20 menit. 
5. Bagaimana perhatian siswa terhadap guru? 
Perhatian siswa terhadap guru sangat terfokus sehingga suasana kelas menjadi kondusif dan tenteram. 
B. PENYAJIAN 
1. Bagaimana cara guru menyajikan materi pokok pelajaran?
Cara guru menyajikan materi pokok pelajaran dengan menguraikan garis-garis besar dari materi yang diajarkan kemudian guru menyuruh siswa untuk mendalaminya dengan cara berdiskusi secara berkelompok. 
2. Selama pelajaran berlangsung, berapa kali guru bertanya kepada siswa? 
Selama pelajaran berlangsung guru bertanya kepada siswa sekitar 6 pertanyaan. 
3. Berapa orang siswa yang mendapat kesempatan menjawab pertanyaan guru? 
Siswa yang mendapat kesempatan menjawab pertanyaan guru sebanyak 3 siswa. 
4. Selama pelajaran berlangsung apakah ada :
a. Siswa mengajukan pertanyaan? 
Ya. Ada beberapa siswa yang mengajukan pertanyaan tentang materi yang telah diajarkan. 
b. Bagaimana cara guru menilai hasil belajar siswa? 
Cara guru menilai hasil belajar siswa dari keaktifan siswa, disiplin, tugas, ulangan harian serta dari absensi siswa. 
c. Siswa menganggu kelas, jika ada, bagaimana cara guru mengatasinya? 
Tidak ada siswa yang mengganggu kelas selama pelajaran. 
d. Berapa lama pelajaran ini berlangsung? 
Pelajaran ini berlangsung sekitar 135 menit. 

C. PENUTUP

1. Apa yang dilakukan guru mengakhiri pelajaran? 
Yang dilakukan guru ketika mengakhiri pelajaran yaitu merangkum materi, memberikan pekerjaan rumah, memberitahukan materi untuk pertemuan selanjutnya dan mengakhiri dengan memberi salam. 
2. Bagaimana cara guru menilai hasil belajar? 
Cara guru menilai hasil belajar siswa dari keaktifan siswa, disiplin, tugas, ulangan harian serta dari absensi siswa. 
3. Apa yang dilakukan guru sebelum mengakhiri pelajaran untuk pindah ke pengajaran lain atau istirahat? 
Yang dilakukan guru yaitu memberikan motivasi 
4. Berapa bagian penutup ini berlangsung? 
Bagian penutup ini berlangsung sekitar 15 menit. 
5. Tuliskan kesan umum Anda terhadap kegiatan belajar mengajar yang Anda amati? 
Kesan Saya terhadap kegiatan belajar mengajar yang Saya amati yaitu guru pamong memiliki cara mengajar yang baik serta tegas. Guru pamong juga selalu memperhatikan kerapian ruangan dan kerapian siswa serta kedisiplinan saat pelajaran sedang berlangsung. 
Medan, 9 Agustus 2018
Disetujui,                                                                                 Diketahui,
Kepala Sekolah                                                                       Guru Pamong
Drs. Harris H. Simamora, M.Si                                          Imelda Marsinta Sitohang, S.Pd

            NIP : 19600623 198803 1 003                                               NIP : 19690106 199203 2 001                                                                                                       

Tugas Utama Guru dan Prinsip Dasar Menentukan Materi Ajar

TUGAS UTAMA GURU DAN PRINSIP DASAR 
MENENTUKAN MATERI AJAR 
Disusun oleh 
Kelompok 2 
1. Febriman Zendrato 
2. Eben Filsafan Laia 
3. Rasonna Tumanggor 
4. Astaria Meilan Sari Manik 
5. Putri Utari Sibuea

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA 
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN 
UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN 
MEDAN 
2017 
KATA PENGANTAR 
Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya, sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang tepat pada waktunya yang berjudul “Tugas Utama Guru dan Prinsip Dasar Menentukan Materi Ajar”. 
Makalah ini berisikan tentang pengertian guru serta peran dan fungsi seorang guru, pengertian bahan ajar, serta prinsip-prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam menyusun serta mengembangkan materi ajar. 
Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua betapa pentingnya peran (sosok) seorang guru dalam kehidupan sehari-hari terlebih dalam pendidikan formal serta prinsip-prinsip yang harus dikuasai oleh guru tersebut. Kami pada akhirnya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu diharapkan demi kesempurnaan makalah ini ke depannya. 
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada Bapak Drs. Poltak Panjaitan, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Strategi Pembelajaran Fisika serta kepada semua teman sekelompok yang telah berperan serta dan bersusah payah dalam menyusun makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan yang senantiasa memberkati segala usaha kita. Amin. 
Medan, Maret 2017 
Kelompok 2

DAFTAR ISI 

KATA PENGANTAR_____i
DAFTAR ISI_____ii

 
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah_____1
1.2. Rumusan Masalah_____3
1.3. Tujuan_____4

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Guru_____5
2.2. Peran dan Fungsi Guru_____6
2.3. Konsep Pengembangan Bahan Ajar_____14
2.4. Prinsip Pemilihan/Penyusunan Bahan Ajar_____14
2.5. Prinsip Pengembangan Bahan Ajar_____15

BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan_____18

DAFTAR PUSTAKA_____19


BAB I 

PENDAHULUAN 

1.1. Latar Belakang

Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat. Guru dapat dihormati oleh masyarakat karena kewibawaannya, sehingga masyarakat tidak meragukan figur guru. Masyarakat percaya bahwa dengan adanya guru, maka guru dapat mendidik dan membentuk kepribadian anak didik mereka dengan baik agar mempunyai intelektualitas yang tinggi serta jiwa kepemimpinan yang bertanggung jawab. Jadi dalam pengertian yang sederhana, guru dapat diartikan sebagai orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Sedangkan guru dalam pandangan masyarakat itu sendiri adalah orang yang melaksanakan pendidikan ditempat-tempat tertentu, tidak harus di lembaga pendidikan yang formal saja tetapi juga dapat dilaksanakan di lembaga pendidikan non-formal seperti di tempat ibadah, di kursus, di rumah, dan sebagainya[1]
Seorang guru mempunyai kepribadian yang khas. Disatu pihak guru harus ramah, sabar, menunjukkan pengertian, memberikan kepercayaan, dan menciptakan suasana aman. Akan tetapi dilain pihak, guru harus memberikan tugas, mendorong siswa untuk mencapai tujuan, menegur, menilai, dan mengadakan koreksi. Dengan demikian, kepribadian seorang guru seolah-olah terbagi menjadi dua bagian. Di satu pihak bersifat empati, di pihak lain bersifat kritis. Di satu pihak menerima, dilain pihak menolak. Maka seorang guru yang tidak bisa memerankan pribadinya sebagai guru, ia akan berpihak kepada salah satu pribadi saja. Dan berdasarkan hal-hal tersebut, seorang guru harus bisa memilah serta memilih kapan saatnya berempati kepada siswa, kapan saatnya kritis, kapan saatnya menerima dan kapan saatnya menolak. Dengan perkatan lain, seorang guru harus mampu berperan ganda. Peran ganda ini dapat di wujudkan secara berlainan sesuai dengan situasi dan kondisi yang di hadapi. 
Tugas guru sebagai suatu profesi, menuntut kepada guru untuk mengembangkan profesionalitas diri sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mendidik, mengajar, dan melatih anak didik adalah tugas guru sebagai suatu profesi. Tugas guru sebagai pendidik, meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup kepada anak didik. Tugas guru sebagai pengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didik. Tugas guru sebagai pelatih berarti mengembangkan keterampilan dan menerapkannya dalam kehidupan demi masa depan anak didik. Guru juga mempunyai kemampuan, keahlian atau sering disebut dengan kompetensi profesional. Kompetensi profesional yang dimaksud tersebut adalah kemampuan guru untuk menguasai masalah akademik yang sangat berkaitan dengan pelaksanaan proses belajar mengajar, sehingga kompetensi ini mutlak dimiliki guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar. 

1.2. Rumusan Masalah 


1. Apa yang dimaksud dengan guru? 

2. Apa yang menjadi peran dan fungsi guru? 
3. Apa yang dimaksud dengan bahan ajar? 
4. Apa saja prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar? 
5. Apa saja prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengembangan bahan ajar? 

1.3. Tujuan

1. Mampu menyebutkan pengertian guru
2. Mampu menjelaskan apa saja peran dan fungsi seorang guru
3. Mampu menyebutkan pengertian dari bahan ajar
4. Mampu menjelaskan prinsip-prinsip dalam penyusunan bahan ajar
5. Mampu menjelaskan prinsip-prinsip dalam pengembangan bahan ajar

BAB II 

PEMBAHASAN 

2.1. Pengertian Guru

Secara etimologis (asal usul kata), istilah guru berasal dari bahasa India yang artinya “orang yang mengajarkan tentang kelepasan dari sengsara” (Shambuan, Republika, 25 November 1997). Dalam tradisi agama Hindu, guru dikenal sebagai “maharesi guru”, yakni para pengajar yang bertugas untuk menggembleng para calon biksu di bhinaya panti (tempat pendidikan bagi para biksu)[2]
Secara tradisional guru adalah seorang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan ilmu pengetahuan. Guru sebagai pendidik dan pengajar anak, guru diibaratkan seperti ibu kedua yang mengajarkan berbagai macam hal yang baru dan sebagai fasilitator anak supaya dapat belajar dan mengembangkan potensi dasar dan kemampuannya secara optimal, hanya saja ruang lingkupnya guru berbeda, guru mendidik dan mengajar di sekolah negeri ataupun swasta. 
Adapun pengertian guru menurut beberapa para ahli sebagai berikut: 
1. [3]Menurut Noor Jamaluddin (1978:1), guru adalah pendidik, yaitu orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu berdiri sendiri dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah di muka bumi, sebagai makhluk sosial, dan individu yang sanggup berdiri sendiri. 
2. Menurut peraturan pemerintah, guru adalah jabatan fungsional, yaitu kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak seorang PNS dalam suatu organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan keahlian atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri. 
3. Menurut Keputusan MenPan, guru adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas, wewenang dan tanggung jawab oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pendidikan di sekolah. 
4. [4]Menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2005, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. 
5. [5]Menurut Poerwadarminta (1996:335) dikutip dalam Suparlan, bahwa guru adalah orang yang kerjanya mengajar. Dengan defenisi ini, guru disamakan dengan pengajar. 
6. [6]Menurut Zakiyah Daradjat (1992:39) dikutip dalam Suparlan, menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional karena guru telah menerima dan memikul beban dari orang tua untuk ikut mendidik anak-anak. Dalam hal ini, orang tua harus tetap sebagai pendidik yang pertama dan utama bagi anaknya, sedangkan guru adalah tenaga profesional yang membantu orang tua untuk mendidik anak-anak pada jenjang pendidikan sekolah (formal). 
7. [7]Dalam Surat Edaran (SE) Mendikbud dan Kepala BAKN dinyatakan lebih spesifik bahwa “Guru ialah pegawai negeri sipil (PNS) yang diberi tugas, wewenang, dan tanggung jawab oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pendidikan di sekolah (termasuk hak yang melekat dalam jabatan”. 

2.2. Peran dan Fungsi Guru

Para pakar pendidikan di barat telah melakukan penelitian tentang peran guru yang harus dilakoni. Peran guru yang beragam telah diidentifikasi dan dikaji oleh Pullias dan Young (1988), Manan (1990) serta Yelon dan Weinstein (1997)[8]
Adapun peran-peran tersebut adalah sebagai berikut: 
1. Guru Sebagai Pendidik 
Guru adalah pendidik yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin. Peran guru sebagai pendidik (nurturer) berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggung jawab kemasyarakatan, pengetahuan, dan keterampilan dasar, persiapan, untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada. 
2. Guru Sebagai Pengajar 
Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti motivasi, kematangan, hubungan peserta didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa aman, dan keterampilan guru dalam berkomunikasi. Jika faktor-faktor di atas dipenuhi, maka melalui pembelajaran peserta didik dapat belajar dengan baik. Guru harus berusaha membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik dan terampil dalam memecahkan masalah. 
Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam pembelajaran, yaitu membuat ilustrasi, mendefinisikan, menganalisis, mensintesis, bertanya, merespon, mendengarkan, menciptakan kepercayaan, memberikan pandangan yang bervariasi, menyediakan media untuk mengkaji materi standar, menyesuaikan metode pembelajaran, dan memberikan nada perasaan. 
Agar pembelajaran memiliki kekuatan yang maksimal, guru-guru harus senantiasa berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkan semangat yang telah dimilikinya ketika mempelajari materi standar. 
3. Guru Sebagai Pembimbing 
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks. 
Sebagai pembimbing perjalanan guru memerlukan kompetensi yang tinggi untuk melaksanakan empat hal berikut: 
1. Guru harus merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai. 
2. Guru harus melihat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran dan yang paling penting bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan belajar itu tidak hanya secara jasmaniah, tetapi mereka harus terlibat secara psikologis. 
3. Guru harus memaknai kegiatan belajar. 
4. Guru harus melaksanakan penilaian. 
4. Guru Sebagai Pemimpin 
Guru diharapkan mempunyai kepribadian dan ilmu pengetahuan. Guru menjadi pemimpin bagi peserta didiknya, ia akan menjadi imam. 
5. Guru Sebagai Pengelola Pembelajaran 
Guru harus mampu menguasai berbagai metode pembelajaran. Selain itu, guru juga dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya tidak ketinggalan jaman. 
6. Guru Sebagai Model dan Teladan 
Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Terdapat kecenderungan yang besar untuk menganggap bahwa peran ini tidak mudah untuk ditentang, apalagi ditolak. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang disekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru: sikap dasar, bicara dan gaya bicara, kebiasaan bekerja, sikap melalui pengalaman dan kesalahan, pakaian, hubungan kemanusiaan, proses berfikir, perilaku neurotis, selera, keputusan, kesehatan, dan gaya hidup secara umum. 
Perilaku guru sangat memengaruhi peserta didik, tetapi peserta didik harus berani mengembangkan gaya hidup pribadinya sendiri. Guru yang baik adalah yang menyadari kesenjangan antara apa yang diinginkan dengan apa yang ada pada dirinya, kemudian menyadari kesalahan ketika memang bersalah. Kesalahan harus diikuti dengan sikap merasa dan berusaha untuk tidak mengulanginya. 
7. Sebagai Anggota Masyarakat 
Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan disegala bidang yang sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan kemampuannya pada bidang-bidang dikuasainya. Guru perlu juga memiliki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat melalui kemampuannya, antara lain melalui kegiatan olah raga, keagamaan dan kepemudaan. Keluwesan bergaul harus dimiliki, sebab kalau tidak pergaulannya akan menjadi kaku dan berakibat yang bersangkutan kurang bisa diterima oleh masyarakat. 
8. Guru Sebagai Administrator 
Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Guru akan dihadapkan pada berbagai tugas administrasi di sekolah. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur. Segala pelaksanaan dalam kaitannya proses belajar mengajar perlu diadministrasikan secara baik. Sebab administrasi yang dikerjakan seperti membuat rencana mengajar, mencatat hasil belajar dan sebagainya merupakan dokumen yang berharga bahwa ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik. 
9. Guru Sebagai Penasehat 
Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik juga bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang. 
Peserta didik senantiasa berhadapan dengan kebutuhan untuk membuat keputusan dan dalam prosesnya akan lari kepada gurunya. Agar guru dapat menyadari perannya sebagai orang kepercayaan dan penasihat secara lebih mendalam, ia harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental. 
10. Guru Sebagai Pembaharu (Inovator) 
Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik. Dalam hal ini, terdapat jurang yang dalam dan luas antara generasi yang satu dengan yang lain, demikian halnya pengalaman orang tua memiliki arti lebih banyak daripada nenek kita. Seorang peserta didik yang belajar sekarang, secara psikologis berada jauh dari pengalaman manusia yang harus dipahami, dicerna dan diwujudkan dalam pendidikan. 
Tugas guru adalah menerjemahkan kebijakan dan pengalaman yang berharga ini kedalam istilah atau bahasa modern yang akan diterima oleh peserta didik. Sebagai jembatan antara generasi tua dan generasi muda yang juga penerjemah pengalaman, guru harus menjadi pribadi yang terdidik. 
11. Guru Sebagai Pendorong Kreatifitas 
Kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran dan guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreatifitas tersebut. Kreatifitas merupakan sesuatu yang bersifat universal dan merupakan ciri aspek dunia kehidupan di sekitar kita. Kreativitas ditandai oleh adanya kegiatan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan oleh seseorang atau adanya kecenderungan untuk menciptakan sesuatu. 
Akibat dari fungsi ini, guru senantiasa berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik dalam melayani peserta didik, sehingga peserta didik akan menilaianya bahwa ia memang kreatif dan tidak melakukan sesuatu secara rutin saja. Kreativitas menunjukkan bahwa apa yang akan dikerjakan oleh guru sekarang lebih baik dari yang telah dikerjakan sebelumnya. 
12. Guru Sebagai Emansipator 
Dengan kecerdikannya, guru mampu memahami potensi peserta didik, menghormati setiap insan dan menyadari bahwa kebanyakan insan merupakan “budak” stagnasi kebudayaan. Guru mengetahui bahwa pengalaman, pengakuan, dan dorongan seringkali membebaskan peserta didik dari “self image” yang tidak menyenangkan, kebodohan dan dari perasaan tertolak dan rendah diri. Guru telah melaksanakan peran sebagai emansipator ketika peserta didik yang dicampakkan secara moril dan mengalami berbagai kesulitan dibangkitkan kembali menjadi pribadi yang percaya diri. 
13. Guru Sebagai Evaluator 
Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Teknik apapun yang dipilih, dalam penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. 
14. Guru Sebagai Kulminator 
Guru adalah orang yang mengarahkan proses belajar secara bertahap dari awal hingga akhir (kulminasi). Dengan rancangannya peserta didik akan melewati tahap kulminasi, suatu tahap yang memungkinkan setiap peserta didik bisa mengetahui kemajuan belajarnya. Di sini peran kulminator terpadu dengan peran sebagai evaluator. 
Guru sejatinya adalah seorang pribadi yang harus serba bisa dan serba tahu. Serta mampu mentransferkan kebisaan dan pengetahuan pada muridnya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan dan potensi anak didik. 
Begitu banyak peran yang harus diemban oleh seorang guru. Peran yang begitu berat dipikul di pundak guru hendaknya tidak menjadikan calon guru mundur dari tugas mulia tersebut. Peran-peran tersebut harus menjadi tantangan dan motivasi bagi calon guru. Dia harus menyadari bahwa di masyarakat harus ada yang menjalani peran guru. Bila tidak, maka suatu masyarakat tidak akan terbangun dengan utuh. Penuh ketimpangan dan akhirnya masyarakat tersebut bergerak menuju kehancuran. 
Namun menurut Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 dan Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, tugas, peran, dan fungsi guru merupakan sesuatu kesatuan yang utuh. Hanya saja terkadang tugas dan fungsi disejajarkan sebagai penjabaran dari peran. Menurut Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 dan Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 peran guru adalah sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pengarah, pelatih, penilai, dan pengevaluasi dari peserta didik[9]
1. Guru Sebagai Pendidik 
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu guru harus mempunyai standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin. Guru harus memahami nilai-nilai, norma moral, dan sosial, serta berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut. Guru juga harus bertanggung jawab terhadap tindakannya dalam proses pembelajaran di sekolah. 
Sebagai pendidik guru harus berani mengambil keputusan secara mandiri berkaitan dengan pembelajaran dan pembentukan kompetensi serta bertindak sesuai dengan kondisi peserta didik dan lingkungan. 
2. Guru Sebagai Pengajar 
Di dalam tugasnya, guru membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk kompetensi, dan memahami materi standar yang dipelajari. Guru sebagai pengajar, harus terus mengikuti perkembangan teknologi, sehingga apa yang disampaikan kepada peserta didik merupakan hal-hal yang up to date (terbaru/terkini) dan tidak ketinggalan zaman. 
Perkembangan teknologi mengubah peran guru dari pengajar yang bertugas menyampaikan materi pembelajaran menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar. Hal itu dimungkinkan karena perkembangan teknologi menimbulkan banyak buku dengan harga relatif murah dan peserta didik dapat belajar melalui internet dengan tanpa batasan waktu dan ruang, belajar melalui televisi, radio, dan surat kabar yang setiap saat hadir di hadapan kita. 
Derasnya arus informasi, serta cepatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan telah memunculkan pertanyaan terhadap tugas guru sebagai pengajar. Masihkah guru diperlukan mengajar di depan kelas seorang diri, menginformasikan, menerangkan, dan menjelaskan. Untuk itu guru harus senantiasa mengembangkan profesinya secara profesional, sehingga tugas dan peran guru sebagai pengajar masih tetap diperlukan sepanjang hayat. 
3. Guru Sebagai Pembimbing 
Guru sebagai pembimbing dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan (guide) yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya yang bertanggung jawab. Sebagai pembimbing, guru harus merumuskan tujuan secara jelas, menetapkan waktu perjalanan, menetapkan jalan yang harus ditempuh, menggunakan petunjuk perjalanan serta menilai kelancarannya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik. 
Sebagai pembimbing semua kegiatan yang dilakukan oleh guru harus berdasarkan kerjasama yang baik antara guru dengan peserta didik. Guru memiliki hak dan tanggung jawab dalam setiap perjalanan yang direncanakan dan dilaksanakannya. 
4. Guru Sebagai Pengarah 
Guru adalah seorang pengarah bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua. Sebagai pengarah guru harus mampu mengarkan peserta didik dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi, mengarahkan peserta didik dalam mengambil suatu keputusan, dan menemukan jati dirinya. 
Guru juga dituntut untuk mengarahkan peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya, sehingga peserta didik dapat membangun karakter yang baik bagi dirinya dalam menghadapi kehidupan nyata di masyarakat. 
5. Guru Sebagai Pelatih 
Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual (kognitif) maupun motorik (psikomotorik), sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih, yang bertugas melatih peserta didik dalam pembentukan kompetensi dasar sesuai dengan potensi masing-masing peserta didik. 
Pelatihan yang dilakukan, di samping harus memperhatikan kompetensi dasar dan materi standar, juga harus mampu memperhatikan perbedaan individual peserta didik dan lingkungannya. Untuk itu guru harus banyak tahu, meskipun tidak mencakup semua hal dan tidak setiap hal secara sempurna, karena hal itu tidaklah mungkin. 
6. Guru Sebagai Penilai
Penilaian atau evaluasi (assesment) merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Tidak ada pembelajaran tanpa penilaian, karena penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar, atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran peserta didik. 
Sebagai suatu proses, penilaian dilaksanakan dengan prinsip-prinsip dan dengan teknik yang sesuai, mungkin tes atau non-tes. Teknik apapun yang dipilih, penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. 
Mengingat kompleksnya proses penilaian, maka guru perlu memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memadai. Guru harus memahami teknik evaluasi, baik tes maupun non-tes yang meliputi jenis masing-masing teknik, karakteristik, prosedur pengembangan, serta cara menentukan baik atau tidaknya ditinjau dari berbagai segi, validitas, reliabilitas, daya beda, dan tingkat kesukaran soal. 
Selain peran di atas, guru juga harus berusaha dalam pembelajaran dengan memberikan kemudahan belajar bagi peserta didik, agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Dalam hal ini, guru harus kreatif, profesional, dan menyenangkan dengan memposisikan diri sebagai berikut[10]
1. Orang tua yang penuh kasih sayang pada peserta didiknya. 
2. Teman, tempat mengadu, dan mengutarakan perasaan bagi para peserta didik. 
3. Fasilitator yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai minat, kemampuan, dan bakatnya. 
4. Memberikan sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan mencarikan saran pemecahannya. 
5. Memupuk rasa percaya diri, berani, dan bertanggung jawab. 
6. Mengembangkan proses sosialisasi (timbal balik) yang wajar antar peserta didik, orang tua, dan lingkungannya. 
7. Mengembangkan kreatifitas. 

2.3. Konsep Pengembangan Bahan Ajar

[11]Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, dan prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai. 
Menurut National Centre for Competency Based Training (2007), pengertian bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bahan yang dimaksudkan dapat berupa bahan tertulis maupun tidak tertulis. Pandangan dari ahli lainnya mengatakan bahwa bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis/runtut, baik tertulis maupun tidak tertulis, sehingga tercipta suatu lingkungan atau suasana yang memungkinkan siswa belajar. Menurut Panen (2001) mengungkapkan bahwa bahan ajar merupakan bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran (Andi, 2011:16). 

2.4. Prinsip Pemilihan/Penyusunan Bahan Ajar

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa dalam mengembangkan bahan ajar tentu perlu memperhatikan prinsisp-prinsip pembelajaran. Gafur (1994) menjelaskan bahwa beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar atau materi pembelajaran diantaranya meliputi prinsip relevansi, keajegan/konsistensi, dan kecukupan. Ketiga penerapan prinsip-prinsip tersebut dipaparkan sebagai berikut: 
1. Prinsip relevansi, artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian SK (Standar Kompetensi) dan KD (Kompetensi Dasar). Cara termudah ialah dengan mengajukan pertanyaan tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Dengan prinsip dasar ini, guru akan mengetahui apakah materi yang hendak diajarkan tersebut materi fakta, konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap atau aspek psikomotorik sehingga pada gilirannya guru terhindar dari kesalahan pemilihan jenis materi yang tidak relevan dengan pencapaian SK dan KD[12]
Contoh: 
KD untuk SMP Kelas IX yaitu mengidentifikasi bangun-bangun yang sama dan sebangun (kongruen), maka pemilihan materi pembelajaran yang disampaikan seharusnya “Syarat dua bangun yang sama dan sebangun (kongruen), foto dan model berskala, syarat dua bangun yang sebangun, dan panjang sisi pada dua bangun yang sama dan sebangun (kongruen). 
2. Prinsip konsistensi, sering disebut keajegan. Artinya ada kesesuaian (jumlah/banyaknya) antara kompetensi dan bahan ajar, jika kompetensi dasar yang ingin dibelajarkan mencakup keempat keterampilan berbahasa, bahan yang dipilih/dikembangkan juga mencakup keempat hal itu. Secara sederhananya, jika misalnya KD yang kita susun terdiri atas dua poin, maka pada pengembangan materinya juga harus sama dengan KD atau harus terdiri atas dua pembahasan. 
Contoh: 
Kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa adalah pengoperasian bilangan yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian[13]
3. Prinsip kecukupan, artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai SK dan KD. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya. 
2.5. Prinsip Pengembangan Bahan Ajar 
Pengembangan bahan ajar hendaklah memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran. Prinsip-prinsip pembelajaran tersebut antara lain: 
a. Mulai dari hal yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang kongkret untuk memahami yang abstrak
Siswa akan lebih mudah memahami suatu konsep tertentu apabila penjelasan dimulai dari yang mudah atau sesuatu yang kongkret, sesuatu yang nyata ada di lingkungan mereka. Misalnya untuk menjelaskan konsep pasar, maka mulailah siswa diajak untuk berbicara tentang pasar yang terdapat di tempat mereka tinggal. Setelah itu, kita bisa membawa mereka untuk berbicara tentang berbagai jenis pasar lainnya. 
b. Pengulangan akan memperkuat pemahaman 
Dalam pembelajaran, pengulangan sangat diperlukan agar siswa lebih memahami suatu konsep. Walaupun maksudnya sama, sesuatu informasi yang diulang-ulang, akan lebih berbekas pada ingatan siswa. Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman siswa. 
c. Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman siswa 
Seringkali kita menganggap enteng dengan memberikan respon yang sekedarnya atas hasil kerja siswa. Padahal respon yang diberikan oleh guru terhadap siswa akan menjadi penguatan pada diri siswa. Perkataan seorang guru seperti “ya benar” atau “ya kamu pintar” atau “itu benar, namun akan lebih baik kalau begini…” akan menimbulkan kepercayaan diri pada siswa bahwa ia telah menjawab atau mengerjakan sesuatu dengan benar. Sebaliknya, respon negatif akan mematahkan semangat siswa. Untuk itu, jangan lupa berikan umpan balik (feed back) yang positif terhadap hasil kerja siswa. 
d. Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan seorang siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan lebih berhasil dalam belajar. Untuk itu, maka salah satu tugas guru dalam melaksanakan pembelajaran adalah memberikan dorongan (motivasi) agar siswa mau belajar. Banyak cara untuk memberikan motivasi, antara lain dengan memberikan pujian, memberikan harapan, menjelaskan tujuan dan manfaat, memberi contoh, ataupun menceritakan sesuatu yang membuat siswa senang belajar, dan lain-lain. 
e. Mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap akhirnya akan mencapai ketinggian tertentu 
Pembelajaran adalah suatu proses yang bertahap dan berkelanjutan. Untuk mencapai suatu standar kompetensi yang tinggi, perlu dibuatkan tujuan-tujuan antara. Ibarat anak tangga, semakin lebar anak tangga semakin sulit kita melangkah, namun juga anak tangga yang terlalu kecil terlampau mudah melewatinya. Untuk itu, maka guru perlu menyusun anak tangga tujuan pembelajaran secara pas, sesuai dengan karakteristik siswa. Dalam bahan ajar, anak tangga tersebut dirumuskan dalam bentuk indikator-indikator kompetensi. 
f. Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong siswa untuk terus mencapai tujuan 
Dalam proses pembelajaran, guru ibarat pemandu perjalanan (guide). Dengan demikian, semua peserta dapat mencapai kota tujuan dengan selamat. Dalam pembelajaran, setiap anak akan mencapai tujuan tersebut dengan kecepatannya sendiri, namun mereka semua akan sampai kepada tujuan meskipun dengan waktu yang berbeda-beda. Inilah sebagian dari prinsip belajar tuntas. 
BAB III 

PENUTUP 

3.1. Kesimpulan

Guru adalah seorang yang memiliki seperangkat koleksi nilai dan kemampuan yang lebih, dimana dengan koleksi itu dia dapat merubah tantangan menjadi peluang. Tugas dan peran guru menurut Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 dan Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 adalah sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pengarah, pelatih, penilai, dan pengevaluasi dari peserta didik. 
Peran guru seperti kajian Pullias dan Young (1988), Manan (1990) serta Yelon dan Weinstein (1997) terdiri dari guru sebagai pendidik, guru sebagai pengajar, guru sebagai pembimbing, guru sebagai pemimpin, guru sebagai pengelola pembelajaran, guru sebagai model atau teladan, guru sebagai anggota masyarakat, guru sebagai administrator, guru sebagai penasehat, guru sebagai pembaharu (inovator), guru sebagai pendorong kreativitas, guru sebagai emansipator, guru sebagai evaluator, dan guru sebagai kulminator. 
Pengertian bahan ajar menurut National Centre for Competency Based Training (2007), adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bahan ajar yang dimaksud dapat berupa tertulis maupun tidak tertulis dan hendaknya disusun secara sistematis sehingga mampu menciptakan suatu kondisi dan lingkungan yang mendukung proses pembelajaran antara pendidik dengan peserta didik maupun dengan lingkungannya. 
Prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan/pemilihan bahan ajar atau materi pembelajaran menurut Gafur (1994) diantaranya meliputi prinsip relevansi, keajegan/konsistensi, dan kecukupan. Jadi, ketiga prinsip tersebut harus sama-sama berjalan (diterapkan) untuk menjamin bahwa bahan ajar yang diajarkan kepada peserta didik memang benar-benar sesuai dengan kondisi serta kemampuan siswa itu sendiri. 
Pengembangan bahan ajar hendaklah memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran berupa bahan ajar dimulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit/dari yang kongkret untuk memahami yang abstrak, melakukan pengulangan yang bertujuan memperkuat pemahaman peserta didik, adanya feed back yang bersifat positif akan memudahkan pemahaman siswa, adanya motivasi belajar yang tinggi, dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, dan mengetahui akan hasil yang dicapai akan mendorong siswa untuk lebih berusaha mencapai tujuan.
DAFTAR PUSTAKA

Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing.

Mulyasa. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Satori, Djam’an; dkk. 2008. Profesi Keguruan. Jakarta: Universitas Terbuka.

http://maulanikmatul.blogspot.com/2012/03/prinsip-pengembangan-bahan-ajar.html?m=1. Diakses pada tanggal 15 Maret 2017.

http://mamanpermatahati.blogspot.com/2013/06/Prinsip-prinsip-bahan-ajar.html?m=1. Diakses pada tanggal 15 Maret 2017.

Septimartiana. 2013. Makalah Pengertian Peran dan Fungsi Guru, (online),(http://septimartiana.blogspot.co.id/2013/12/makalah-pengertian-peran-dan-fungsi-guru.html?m=1, diakses Maret 2017).

Ratnasari, Amelia. 2012. Makalah Guru Profesional, (online), (http://amalia-ratnasari.blogspot.com/2012/06/makalah-guru-profesional.html#ixzz2MsiGLk1L, diakses Maret 2017).

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Surat Edaran (SE) Mendikbud dan Kepala BAKN Nomor 57686/MPK/1989.

Daftar Kutipan

[1] Septimartiana. 2013. Makalah Pengertian Peran dan Fungsi Guru, (online),(http://septimartiana.blogspot.co.id/2013/12/makalah-pengertian-peran-dan-fungsi-guru.html?m=1, diakses Maret 2017).

[2] Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing.

[3] Jamaluddin, Noor Popoy. 1978. Ilmu Pendidikan, Bagian Proyek Peningkatan Mutu PGAN, DEPAG.

[4] Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

[5] Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing. Hal 13.

[6] Ibid.

[7] Surat Edaran (SE) Mendikbud dan Kepala BAKN Nomor 57686/MPK/1989.

[8] Mulyasa. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.. Hal 37-42.

[9] Mulyasa. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal 197-198.

[10] Ibid. Hal 36.

[11] Ratnasari, Amelia. 2012. Makalah Guru Profesional, (online), (http://amalia-ratnasari.blogspot.com/2012/06/makalah-guru-profesional.html#ixzz2MsiGLk1L, diakses Maret 2017).

[12] http://maulanikmatul.blogspot.com/2012/03/prinsip-pengembangan-bahan-ajar.html?m=1. Diakses pada tanggal 15 Maret 2017.

[13] http://mamanpermatahati.blogspot.com/2013/06/Prinsip-prinsip-bahan-ajar.html?m=1. Diakses pada tanggal 15 Maret 2017.

Metode Numerik : Contoh Kasus Analisis Regresi Linear Sederhana

Nama : Febriman Zendrato
NPM : 15100025
MK : Metode Numerik

Regresi merupakan suatu alat ukur yang juga dapat digunakan untuk mengukur ada atau tidaknya korelasi antar variabel. Jika kita memiliki dua buah variabel atau lebih maka sudah selayaknya apabila kita ingin mempelajari bagaimana variabel-variabel itu berhubungan atau dapat diramalkan.
Analisis regresi berguna untuk mendaptkan hubungan fungsional antara dua variabel atau lebih. Selain itu analisis regresi berguna untuk mendapatkan pengaruh antar variabel prediktor terhadap variabel kriteriumnya atau meramalkan pengaruh variabel prediktor terhadap variabel kriteriumnya (Usman & Akbar, 2006).
Analisis regresi mempelajari hubungan yang diperoleh dinyatakan dalam persamaan matematika yang menyatakan hubungan fungsional antara variabel-variabel. Hubungan fungsional antara satu variabel prediktor dengan satu variabel kriterium disebut analisis regresi sederhana (tunggal), sedangkan hubungan fungsional yang lebih dari satu variabel disebut analisis regresi ganda.
Istilah regresi (ramalan/taksiran) pertama kali diperkenalkan oleh Sir Francis Galton pada tahun 1877 sehubungan dengan penelitiannya terhadap tinggi manusia, yaitu antara tinggi anak dan tinggi orang tuanya. Pada penelitiannya Galton mendapatkan bahwa tinggi anak dari orang tua yang tinggi cenderung meningkat atau menurun dari berat rata-rata populasi. Garis yang menunjukkan hubungan tersebut disebut garis regresi.[1]


Seorang engineer ingin mempelajari hubungan antara suhu ruangan dengan jumlah cacat yang diakibatkannya, sehingga dapat memprediksi atau meramalkan jumlah cacat produksi jika suhu ruangan tersebut tidak terkendali. Engineer tersebut kemudian mengambil data selama 30 hari terhadap rata-rata (mean) suhu ruangan dan jumlah cacat produksi.

PENYELESAIAN

Penyelesaiannya mengikuti langkah-langkah dalam analisis regresi linear sederhana adalah sebagai berikut: 

Langkah 1 : Penentuan Tujuan
Tujuan : Memprediksi jumlah cacat produksi jika suhu ruangan tidak terkendali

Langkah 2 : Identifikasikan Variabel Penyebab dan Akibat
Varibel Faktor Penyebab (X) : Suhu Ruangan

Variabel Akibat (Y) : Jumlah Cacat Produksi

Langkah 3 : Pengumpulan Data
Berikut ini adalah data yang berhasil dikumpulkan selama 30 hari (berbentuk tabel) :

Langkah 4 : Hitung X², Y², XY dan total dari masing-masingnya

Berikut ini adalah tabel yang telah dilakukan perhitungan X², Y², XY dan totalnya :

Langkah 5 : Hitung a dan b berdasarkan rumus regresi linear sederhana
Menghitung konstanta (a) :






Menghitung koefisien regresi (b)







Langkah 6 : Buat Model Persamaan Regresi

Y =  a + bX
Y =  -24,38 + 1,45X

Langkah 7 : Lakukan Prediksi atau Peramalan terhadap Variabel Faktor Penyebab atau Variabel Akibat

I. Prediksikan jumlah cacat produksi jika suhu dalam keadaan tinggi (Variabel X), contohnya 30°C

Y = -24,38 + 1,45 (30)
Y = 19,12

Jadi, jika suhu ruangan mencapai 30°C, maka akan diprediksikan akan terdapat 19,12 unit cacat yang dihasilkan oleh produksi. 

II. Jika cacat produksi (Variabel Y) yang ditargetkan hanya boleh 4 unit, maka berapakah suhu ruangan yang diperlukan untuk mencapai target tersebut ? 

4 = -24,38 + 1,45X
1,45X = 4 + 24,38
X = 28,38 : 1,45
X = 19,57

Jadi, prediksi suhu ruangan yang paling sesuai untuk mencapai target cacat produksi adalah sekitar 19,57°C.

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Regresi_Linier_Sederhana

Soal Jawab Mekanika Klasik ON MIPA-PT 2014 Nomor 7

Hi bapak/ibu/rekan semua, bagaimana kabarnya hari ini? Semoga selalu dalam keadaan baik saja. Kali ini, Saya mau menuliskan soal ON MIPA-PT yang setiap tahun selalu dilombakan. Postingan kali ini membahas tentang Mekanika Klasik Tahap Wilayah II Tahun 2014. Untuk mempersingkat, langsung saja ke pembahasan di bawah.

Empat buah muatan tersusun seperti pada gambar di bawah ini. Tentukan x supaya sistem dalam keadaan setimbang dan nyatakan dalam variabel yang lainnya dengan mengasumsikan gaya kontak pada sumbu putarnya adalah nol. 

(Soal Mekanika Klasik ON MIPA-PT Bidang Fisika Tahap II Tahun 2014 Nomor Soal 7)

Download Soal OSN Pertamina Bidang Fisika Tahun 2009 dan 2011

Solusi

Pertama, kita tinjau gaya tolak pada muatan sebelah kiri yaitu :

Sedangkan gaya tolak pada muatan sebelah kanan yaitu :

Dikarenakan total gaya dalam sumbu y harus bernilai nol (setimbang), maka

Karena sistem di atas mengalami rotasi pada porosnya, maka kita hitung jumlah torsi (Στ) pada titik sumbu putarnya.

Supaya sistem di atas tidak berotasi, maka jumlah torsi haruslah bernilai nol (Στ=0), sehingga :

Sekian untuk postingan kali ini, postingan selanjutnya akan segera di-publish. Jika ada pertanyaan, komentar maupun saran, silahkan sampaikan di kolom komentar di bawah.